Pendidikan

3 Cara Seru Membiasakan Membaca ala Bunda Literasi Palembang

ist

BUNDA Literasi Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, memberikan 3 cara seru membiasakan membaca bagi anak-anak dan remaja saat audiensi dengan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., di Jakarta, belum lama ini. \

Pertemuan ini bertujuan memperkuat program literasi pusat dan daerah serta mendorong generasi muda menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.

Audiensi dihadiri tokoh literasi dari berbagai tingkatan, termasuk Duta Literasi Provinsi Sumatera Selatan Ratu Tenny Leriva, Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan, serta Bunda dan Bapak Literasi dari kabupaten/kota se-Sumatera Selatan. Pertemuan ini menjadi langkah strategis dalam menyelaraskan program literasi antara pemerintah pusat dan daerah, khususnya dalam meningkatkan budaya baca di Sumatera Selatan.

Dewi Sastrani menekankan  membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan sekaligus fondasi pengembangan karakter, kreativitas, dan kompetensi generasi muda. “Perpustakaan adalah ruang terbuka bagi semua kalangan untuk menggali ilmu pengetahuan. Anak-anak dan remaja harus menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.

Audiensi juga membahas strategi konkret, termasuk peningkatan akses bahan bacaan berkualitas, penguatan layanan perpustakaan, serta pengembangan kapasitas pengelola literasi di daerah. Langkah-langkah ini diharapkan mendorong Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di Sumatera Selatan.

3 Cara Seru Membiasakan Membaca ala Bunda Literasi:

  1. Target Membaca Harian, misalnya luangkan waktu 10-15 menit per hari untuk membaca, bisa sambil minum teh atau ngemil camilan favorit agar kegiatan ini menyenangkan.

  2. Gabungkan Membaca dengan Aktivitas Kreatif, misalnya membuat ilustrasi, menulis catatan kreatif, atau mendesain poster dari buku yang dibaca. Cara ini membuat anak muda lebih interaktif dan menikmati proses membaca.

  3. Diskusikan Buku Bersama Teman atau Keluarga, seperti mengobrol tentang cerita atau pengetahuan yang dibaca membuat pengalaman membaca lebih hidup, serta memperkuat pemahaman dan kebiasaan literasi.

Selain tips praktis, Dewi juga mengapresiasi koleksi lengkap Perpusnas RI, yang mencakup ribuan buku beragam tema, termasuk biografi Presiden Indonesia, sebagai pusat rujukan literasi nasional. Ia berharap semua generasi muda memanfaatkan sumber ilmu ini untuk memperluas wawasan.

Kolaborasi antara Perpusnas RI, Pemerintah Provinsi, dan Kabupaten/kota di Sumatera Selatan diharapkan menciptakan ekosistem literasi inklusif, dengan dampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Literasi tidak hanya menjadi kewajiban sekolah atau tugas perpustakaan, tetapi gerakan sosial yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

“Kami berharap anak-anak dan remaja melihat membaca sebagai aktivitas seru dan mudah yang membuka dunia pengetahuan, bukan sekadar kewajiban sekolah,” tutup Dewi Sastrani.(***)

To Top