Gotong royong warga dan relawan jadi kunci pemulihan fasilitas publik
DESEMBER 2025, Sumatera diguyur banjir dan longsor, dampaknya jalan-jalan, pesantren, masjid, sampai pantai Kota Padang ikut ‘dihujani’ kayu berserakan.
Ibaratnya, kalau ada lomba parkour alami, warga lokal pasti langsung juara dunia. hehehe!, tapi jangan salah, dari repotnya kayu berserakan itu muncul hal penting yaitu, gotong royong warga dan relawan menjadi obat mujarab untuk mempercepat pemulihan fasilitas publik, dan sekaligus ngajarin hidup disiplin, kerja sama, dan kepedulian sosial.
Misalnya di Aceh Tamiang dan Aceh Utara, pembersihan difokuskan di Pesantren Darul Mukhlisin dan wilayah Langkahan. Sementara di Sumut, Desa Aek Ngadol, Garoga, dan Huta Godang ikut terdampak, dan di Sumbar, sepanjang 5,6 kilometer pantai Kota Padang harus dibersihkan dari kayu besar maupun serpihan kecil.
Bahkan saking repotnya, kayu besar naik turun alat berat, serpihan kecil dijemput tangan manusia, kadang terselip di antara kaki warga yang semangat, tapi kewalahan. Meski demikian Kemenhut nggak sendirian ada TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat ikut bergerak.
Subhan, Kepala BBTNGL, dalam rilis resmi dilaman Kementerian Kehutanan bilang, “Progres pembersihan sudah 65 persen. Kami fokus bukan hanya tumpukan kayu, tapi ruang belajar, masjid, dan akses vital masyarakat. Pembersihan dilakukan intensif, bahkan hingga malam hari.”
Novita Kusuma Wardani dari BBKSDA Sumut menambahkan, peran Kemenhut lebih ke dukungan teknis, personel, dan pendampingan lapangan, agar kegiatan aman dan tertib.
Hartono dari BKSDA Sumbar menegaskan, kayu besar ditangani alat berat, serpihan kecil dibersihkan manual, dan area nelayan tetap aman untuk aktivitas mereka.
Tapi yang serunya lagi, sisi psikologi sosialnya dari gotong royong itu ikut kelihatan, pasalnya gotong royong ini lebih dari sekadar angkat kayu, semua pihak, seperti warga, aparat, relawan secara nggak langsung belajar hidup disiplin, kerja sama, dan kepedulian sosial.
Bahkan kayu yang tadinya bikin repot, sekarang malah jadi media pendidikan sosial, warga belajar berbagi tugas, saling mendukung, dan menata lingkungan secara sistematis.
Jadi, soliditas muncul alami, karena semua sadar pemulihan pasca-bencana bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama.
Kolaborasi lintas sektor
Fenomena ini juga nunjukin pentingnya kolaborasi lintas pihak sebab di Aceh, Sumut, dan Sumbar, sinergi Kemenhut, TNI, Polri, relawan, dan warga lokal bikin pembersihan lebih cepat dan efektif.
Aktivitas ini sekaligus ngajarin warga tentang kepedulian terhadap fasilitas publik, ruang pendidikan, dan lingkungan. Dari sinilah terlihat jelas bencana bukan cuma soal kerusakan fisik, tapi juga kesempatan memperkuat jaringan sosial dan ketangguhan komunitas.
Oleh sebab itu, bencana bukan akhir dunia, sebab dari bersih-bersih kayu, muncul solidaritas, disiplin, dan kerja sama nyata, dan anak-anak juga bisa kembali sekolah.
Sementara warga bisa memakai fasilitas publik, dan masyarakat punya akses vital yang pulih, sehingga tanpa disadari gotong royong itu sebenarnya nggak hanya mengembalikan lingkungan fisik, namun juga membangun fondasi psikologis, agar komunitas lebih siap menghadapi bencana berikutnya.
Jadi, bersih-bersih kayu pasca-banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar nunjukin memang sinergi multi-pihak adalah kunci pemulihan cepat. Sebab, kayu hanyalah kayu, tapi dampak positifnya, yaitu manusia bisa belajar disiplin, kerja sama, dan kepedulian sosial.
Sehingga pada akhirnya dengan kebersamaan kita akan pulih, dengan kebersamaan itu kita juga bisa menjaga fasilitas publik, bahkan dengan kebersamaan, kita belajar dari setiap batang kayu, agar Sumatera tetap tangguh, aman, dan produktif!.
Pepatah lama bilang “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” Semoga dengan semangat kebersamaan, setiap badai pasti akan berlalu, dan Sumatera akan terus tangguh menghadapi masa depan.” Amin… (***)