Minggu, 18 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » “Ngarsipin Racun, Ketika BPOM Bikin Museum Demi Jaga Perut Bangsa”

“Ngarsipin Racun, Ketika BPOM Bikin Museum Demi Jaga Perut Bangsa”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
  • visibility 1.556
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALAU kamu pikir museum itu, cuma tempat lihat dinosaurus, lukisan Mona Lisa KW, atau patung pahlawan yang mukanya mirip dosen sejarah, pasti itu  salah besar, pasalnya saat ini, BPOM juga punya diorama alias museum mini yang isinya bukan koleksi fosil, tapi perjalanan lembaga yang tiap hari kerjaannya nyelamatin perut rakyat dari racun.

Yup, Diorama BPOM baru aja diresmikan sama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, isinya bukan pajangan sembarangan, tapi potret panjang perjuangan orang-orang yang tiap harinya memastikan sambal terasi kita nggak bikin masuk IGD.

Dulu memang zaman belum ada teknologi canggih, pengawasan obat dan makanan tuh mirip kayak tes nyali, coba kalau kita pikir, deteksi bahan berbahaya cuma modal insting dan pengalaman kayaknya ini obatnya aneh deh, warnanya kebanyakan magenta. Namun sekarang, BPOM udah bisa ngecek sampai DNA patogen lewat sistem digital, karena  dulu peralatan mereka masih sekelas panci emak, sekarang udah setara laboratorium NASA, tinggal belum bisa ngirim mie instan ke Mars aja.

Menkes Budi dalam rilisnya dilaman kemkes bahkan bilang, tantangan ke depan makin gila, soalnya, selain manusia makin banyak, climate change alias perubahan iklim juga bisa bikin muncul patogen baru yang lompat dari binatang ke manusia. Lah, belum lagi selesai urusan makanan kadaluarsa, malah udah diserang virus lompat pagar.

Nah, si diorama ini bukan cuma buat gaya-gayaan, di dalamnya ada dua ruang utama, yang pertama adalah menampilkan peta kerja BPOM, filosofi logo, sampai struktur organisasi lewat LED TV. Lengkap dengan etalase bertema “BPOM Menjulang, Membumi, dan Mengakar”.

Ruang kedua isinya yakni lebih dramatis karena ada foto Kepala BPOM dari masa ke masa, kutipan para pimpinan, dokumentasi kegiatan, sampai miniatur seragam pegawai. Jadi, kalau kamu masuk ke situ, rasanya kayak jalan-jalan ke masa lalu sambil mikir “Oh, ini toh, orang-orang yang diam-diam nyelamatin hidup kita dari ciki oplosan”.

Kepala BPOM Taruna Ikrar bilang, diorama ini simbol penting buat akuntabilitas dan pertanggungjawaban publik, singkat kata, “Biar masyarakat tahu, BPOM itu kerja, bukan cuma ngeluarin izin dan ngejar pedagang bakso boraks”.

Menkes Budi pun ngomong satu hal menarik, begini katanya, di masa depan, yang paling harus dilindungi duluan itu bukan cuma dompet, tapi perut anak-anak kita dari keracunan makanan,
dan ini bener banget, soalnya, kalau perut udah bermasalah, otak ikut mogok, dan bangsa bisa masuk masa suram, karena generasi mudanya sibuk antre di klinik.

Jadi jangan remehkan orang yang kerja di BPOM, mereka itu kayak “bodyguard tak terlihat” yang menjaga, agar kita bisa makan gorengan pinggir jalan tanpa harus berkenalan sama dokter IGD, sebab, ngomong-ngomong, sekarang BPOM juga lagi nunggu hasil assessment dari World Health Organization (WHO) Listed Authority, kalau lolos, Indonesia bakal naik kelas di panggung global. Istilah kasarnya, bukan cuma bisa ngawasin bakso di Pasar Kuto, tapi juga diakui dunia sebagai pengawas obat dan makanan yang kredibel.

Tambah Taruna Ikrar, ini bakal memperkuat posisi Indonesia di ekosistem global, sehingga diorama ini bukan sekadar nostalgia, tapi bukti kalau BPOM juga siap menghadapi masa depan.

Cermin besar

Ada pepatah bilang “Kalau tak tahu asal muasal, kau bisa tersesat di masa depan”, dengan mengarsipkan sejarahnya sendiri, BPOM nggak cuma nyimpan dokumen, tapi juga DNA perjuangan yang bisa jadi panduan generasi berikutnya.

Bayangin kalau semua lembaga negara ngarsipin sejarah kayak gini, mungkin kita nggak bakal heran tiap kali ada kebijakan aneh, soalnya arsipnya jelas dan bisa ditelusuri. Tapi ya… di negeri +62 ini, kadang arsip lebih cepat hilang daripada sandal di masjid.

Jadi, diorama ini bukan cuma tempat foto-foto buat Instagram kementerian, tapi cermin besar tentang perjalanan bangsa menjaga kesehatannya, dari zaman “cek warna obat” sampai “cek DNA mikroba,” semua tersusun rapi di balik kaca dan lampu LED.

Siapa sangka, akhirnya di balik etalase itu tersimpan kisah tentang dedikasi, ketelitian, dan tanggung jawab, karena menjaga obat dan makanan itu bukan pekerjaan biasa, itu soal moral, soal rasa kemanusiaan.

Kadang kita baru ingat BPOM pas makanan viral ditarik dari pasaran, padahal, mereka kerja 24 jam buat mastiin setiap suapan kita aman, diorama ini mengingatkan kita, bahwa pengawasan obat dan makanan bukan cuma urusan laboratorium, tapi urusan hidup dan mati.

Kata pepatah lagi “Lebih baik mencegah racun masuk perut, daripada sibuk update status dari rumah sakit”, oleh karena itu, kalau lain kali kamu makan mie instan, minum obat flu, atau beli skincare pemutih kilat, ingetlah, ada pasukan BPOM yang diam-diam berjaga, memastikan kamu tetap bisa tertawa, bukan muntah-muntah.

Mungkin, diorama itu adalah cara paling lucu dan cerdas untuk bilang “kami bukan cuma ngarsipin racun, tapi juga sejarah bagaimana bangsa ini belajar menjaga perutnya sendiri”.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dalam 1 Hari, Unit Narkoba Polres Pagar Alam Sikat 4 Pelaku Narkoba

    Dalam 1 Hari, Unit Narkoba Polres Pagar Alam Sikat 4 Pelaku Narkoba

    • calendar_month Kamis, 18 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.244
    • 0Komentar

    POLRES Kota Pagar Alam melalui Satuan Res Narkoba  dalam satu haru berhasil mengungkap kasus tindak pidana Narkotika serta mengamankan empat orang tersangka bersama barang bukti di temppat yang berbeda. Kasat Narkoba Polres Pagar Alam IPTU Faizal Kamil ,SH didampingi Kanit Idik 1 SatRes Narkoba Bripka Heriyanto Sarub  penangkapan para tersangka ini terjadi pada hari minggu, [14/2/2021] […]

  • Gajah Sumatra dan Kalimantan Jadi Fokus Konservasi 2026–2036, Konflik dengan Manusia Jadi Tantangan

    Gajah Sumatra dan Kalimantan Jadi Fokus Konservasi 2026–2036, Konflik dengan Manusia Jadi Tantangan

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 34
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Gajah Sumatra dan Kalimantan menjadi fokus konservasi pemerintah untuk periode 2026-2036, dengan perlindungan habitat, penguatan populasi, serta penanganan konflik dengan manusia sebagai bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan satwa dilindungi tersebut. Upaya konservasi tersebut dituangkan dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatra dan Gajah Kalimantan 2026–2036. Dokumen ini menjadi pedoman dalam […]

  • Tak Masuk Database, Pemkab Muba Siap Carikan Solusi, Surati Kemenpan RB

    Tak Masuk Database, Pemkab Muba Siap Carikan Solusi, Surati Kemenpan RB

    • calendar_month Kamis, 30 Mei 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.211
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Puluhan pegawai non ASN yang tidak masuk dalam database dan tergabung Forum Komunikasi Pegawai Non ASN, Rabu (29/5/2024) mendatangi Sekda Muba Apriyadi Mahmud. Perwakilan Forum Pegawai Non ASN tersebut resah tidak bisa mengikuti seleksi PPPK di Pemkab Muba karena tidak masuk dalam database, sementara pada tahun 2024 ini kuota penerimaan PPPK di Muba […]

  • Pedagang Ps. Induk Jakabaring Desak Pemprov Sumsel Putuskan Kontrak SDSA, Alasannya?

    Pedagang Ps. Induk Jakabaring Desak Pemprov Sumsel Putuskan Kontrak SDSA, Alasannya?

    • calendar_month Selasa, 18 Feb 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.483
    • 0Komentar

    PERSATUAN Pedagang Pasar Induk Jakabaring meminta Provinsi Sumsel untuk mengambil langka tegas untuk memutus kontrak PT Swarna Dwipa Selaras Adiguna (SDSA) menyusul lapak yang disewa mereka ukurannya tak sesuai. Menurut Ketua Persatuan Pedagang Pasar Induk Jakabaring, Muksin mengatakan, ada temua dan ketidak sesuaian jumlah dan ukuran pembangunan lapak di blok E pasar Induk Jakabaring, yang […]

  • “Bukan Serangan Fajar “,Usai Sholat Subuh, Walikota Realisasikan Niatnya Ini, Mau Tahu !

    “Bukan Serangan Fajar “,Usai Sholat Subuh, Walikota Realisasikan Niatnya Ini, Mau Tahu !

    • calendar_month Rabu, 18 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 915
    • 0Komentar

    KEHADIRAN Walikota Palembang H.Harnojoyo, Rabu (18/8/2021)  pukul 04.30 Wib pagi, mengagetkan sejumlah warga yang tengah memulai aktifitas. Menumpang mobil  Patwal, orang nomor satu di kota tertua di Indonesia ini tiba tiba , menghampiri warga pemulung yang tengah mengais rezeki di Jalan Silahberanti dan penyapu jalan di R. Sukamto dan di Jalan Residen Abdul Rozak. Dari […]

  • Harga Emas Antam Hari Ini Jumat 4 September 2026 Naik Rp31.000, Jadi Rp2,67 Juta per Gram

    Harga Emas Antam Hari Ini Jumat 4 September 2026 Naik Rp31.000, Jadi Rp2,67 Juta per Gram

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 46
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Harga emas Antam kembali naik pada Jumat (4/9/2026). Harga emas batangan 1 gram kini mencapai Rp2.670.000, atau bertambah Rp31.000 dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di Rp2.639.000 per gram. Kenaikan juga terjadi pada harga pembelian kembali atau buyback. Hari ini, harga buyback emas Antam berada di Rp2.523.000 per gram, naik Rp31.000 dari sebelumnya […]

expand_less
WordPress Archive Urna – All-in-one WooCommerce WordPress Theme Uruana – Multi Store Responsive WordPress Theme Urusin – Business Consulting Elementor Template Kit Use-your-Drive | Google Drive Plugin for WordPress User Profile Elementor User Role Editor Pro User Signup for Arforms Usernoise Pro Modal Feedback & Contact form UserPro – Community and User Profile WordPress Plugin UserPro DashBoard