Hasil Skrining Kesehatan Jiwa Menunjukkan Gejala? Ini 4 Langkah Berikutnya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 50 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MENGETAHUI hasil skrining kesehatan jiwa yang menunjukkan dugaan depresi atau kecemasan bisa menimbulkan pertanyaan: apa yang harus dilakukan setelahnya?
Skrining merupakan langkah awal untuk mengenali kemungkinan masalah kesehatan jiwa. Namun, hasilnya tidak otomatis menjadi diagnosis. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah lanjutan agar pemeriksaan tidak berhenti pada angka atau tanda yang muncul dalam hasil skrining.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, mengutip laman resmi kemkes, menjelaskan Kemenkes telah menyusun buku saku skrining kesehatan jiwa untuk membantu tenaga kesehatan di Puskesmas menindaklanjuti hasil pemeriksaan.
Buku saku tersebut mencakup empat kelompok, yakni ibu hamil dan ibu pascapersalinan, anak dan remaja, orang dewasa, serta lanjut usia.
Lantas, apa yang bisa dilakukan masyarakat ketika hasil skrining menunjukkan dugaan gejala gangguan kesehatan jiwa?
1. Jangan langsung menyimpulkan hasil skrining sebagai diagnosis
Hasil skrining perlu dipahami sebagai petunjuk awal, bukan keputusan akhir mengenai kondisi kesehatan seseorang.
Jika hasilnya menunjukkan dugaan gejala depresi atau kecemasan, tanyakan kepada petugas kesehatan apa arti hasil tersebut dan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.
Langkah ini penting agar seseorang tidak langsung memberi label pada dirinya sendiri, tetapi juga tidak mengabaikan keluhan yang dirasakan.
2. Tanyakan langkah lanjutan kepada petugas kesehatan
Jangan meninggalkan pemeriksaan tanpa memahami apa yang perlu dilakukan berikutnya. Masyarakat dapat menanyakan apakah perlu berkonsultasi lebih lanjut, menjalani pemeriksaan tambahan, atau memperoleh rujukan ke fasilitas kesehatan lain.
Jika layanan yang dibutuhkan belum tersedia di fasilitas pertama, tanyakan pilihan rujukan yang dapat diakses. Ketersediaan tenaga dan layanan kesehatan jiwa bisa berbeda antardaerah.
3. Ceritakan keluhan yang dirasakan, bukan hanya hasil pemeriksaan
Hasil skrining akan lebih bermakna ketika disertai informasi mengenai kondisi yang dialami sehari-hari. Sampaikan perubahan suasana hati, pola tidur, konsentrasi, minat terhadap aktivitas, atau kesulitan menjalankan pekerjaan dan kegiatan rutin. Jelaskan pula sejak kapan perubahan tersebut terjadi dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari.
Informasi ini dapat membantu tenaga kesehatan menentukan langkah penanganan yang sesuai.
4. Tetap mencari bantuan jika keluhan berlanjut
Hasil skrining yang tidak menunjukkan dugaan gejala tertentu bukan berarti semua keluhan harus diabaikan. Jika kondisi emosional terus mengganggu aktivitas atau semakin berat, masyarakat tetap dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Sebaliknya, jika skrining menunjukkan dugaan gejala, jangan menunda tindak lanjut hanya karena masih mampu menjalankan rutinitas.
Dukungan keluarga dan orang terdekat juga dapat membantu, tetapi tidak selalu menggantikan pemeriksaan profesional ketika bantuan medis diperlukan.
Mengapa tindak lanjut menjadi penting?
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dikutip Kemenkes mencatat prevalensi depresi sebesar 1,4 persen pada penduduk berusia di atas 15 tahun. Namun, hanya 12,7 persen orang dengan depresi yang mendapatkan pengobatan.
Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa mengenali gejala saja belum cukup. Masyarakat juga perlu mengetahui cara memperoleh bantuan setelah masalah teridentifikasi.
Dalam kegiatan Festival Suara Jiwa di Jakarta, Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono turut menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan yang inklusif, termasuk bagi individu neurodivergen seperti orang dengan ADHD dan disleksia.
Dukungan yang tepat, akses layanan, serta tindak lanjut dari hasil skrining menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jiwa. Ketika muncul keluhan, langkah pertama bukanlah membuat diagnosis sendiri, melainkan memahami kondisi dan mencari bantuan yang sesuai. (***)/kemkes
- Penulis: Irwan Wahyudi
