Minggu, 1 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Pempek, Politik & Pesan Moral dari Pasar 16 Ilir

Pempek, Politik & Pesan Moral dari Pasar 16 Ilir

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 26 Sep 2025
  • visibility 1.468
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ADA pepatah lama di Sumatera Selatan, “Belum sah ke Palembang kalau belum makan pempek”, nah, minggu ini pepatah itu terbukti secara politik, lantaran Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka singgah ke Pasar 16 Ilir Palembang, Sumatera Selatan, kedatanganya  bukan cuma sekadar meninjau harga cabai dan daging, tapi juga nyemplung langsung ke kuliner khas, yakni pempek tumpah.

Jangan salah, bagi sebagian orang, momen itu tampak sepele, apa istimewanya makan pempek di pasar?, lha, wong setiap hari wong Palembang juga makan pempek, tapi di dunia politik, satu gigitan pempek bisa lebih renyah dari pidato panjang. Seorang pemimpin yang mau duduk di bangku plastik, nyocol pempek pakai cuko, dan ketawa bareng rakyat, kadang lebih berkesan daripada seribu baliho bertuliskan “Kami mendengar aspirasi Anda”.

Coba bayangkan, pempek itu aslinya sederhana, yakni ikan giling, tepung, direbus, lalu digoreng, namun dari kesederhanaan itu lahirlah simbol identitas, kebanggaan, bahkan diplomasi kuliner. Kalau Presiden Amerika pakai burger atau hotdog buat kampanye dekat rakyat, Wapres Gibran pakai pempek.

Ini mengingatkan kita pada pepatah Jawa “Sepiro gedhene gunung, yen ora mangan, yo ora urip” (Sebesar apapun gunung, kalau tidak makan ya tetap lapar). Artinya, sebesar apapun jabatan seorang pemimpin, dia tetap manusia biasa yang butuh makan,  dan ketika pemimpin mau makan bersama rakyat, ada pesan simbolis, kita semua sama-sama manusia, sama-sama lapar, sama-sama butuh cuko biar hidup lebih sedap.

Pasar 16 Ilir bukan sekadar tempat jual-beli, ia adalah panggung sosial, semua ada di sana, pedagang, pembeli, tukang parkir, sampai politikus yang sedang cari simpati.

Kalau mau tahu kondisi ekonomi sesungguhnya, jangan tanya laporan BPS dulu, coba jalan-jalan ke pasar. Harga cabai, harga beras, senyum atau keluhan pedagang, itulah indikator ekonomi rakyat yang paling jujur.

Ketika Gibran blusukan ke pasar, ia tidak hanya menyapa rakyat, tapi juga masuk ke “ruang demokrasi asli”. Di sana, rakyat bebas ngomong apa saja, soal jalan rusak, soal tol, sampai soal listrik byar-pet.

Tidak ada naskah sambutan, tidak ada prompter, blusukan di pasar adalah ujian retorika yang sesungguhnya, berani nggak pemimpin dengerin suara rakyat yang kadang pahit, kadang pedas, seperti cuko pempek itu?.

Apakah makan pempek cukup untuk memperbaiki infrastruktur Sumsel?, tentu tidak, pempek hanyalah pintu masuk, cara membangun kedekatan emosional.

Setelah itu, yang lebih penting adalah tindak lanjut nyata, apakah usulan Herman Deru soal Tanjung Carat, tol, dan Jalinsum benar-benar jalan atau hanya jadi bumbu pempek yang cepat habis?.

Politik simbolis memang penting, rakyat butuh merasa dekat dengan pemimpin, tapi kalau kedekatan hanya berhenti di meja makan, tanpa ada proyek konkret, akhirnya rakyat bisa bilang “Wong kito cuma dipempek-pempekke bae”. he..he!.

Oleh karena itu, dari momen ini, ada beberapa pesan moral yang bisa ditarik, antara lain jangan lupa rasa, maksudnya pempek tanpa cuko ibarat janji politik tanpa realisasi, hambar, jadi, pemimpin perlu pastikan janji manis di pasar punya rasa nyata dalam kebijakan.

Selain itu, suka gak suka makan bareng itu penting, tapi kerja bareng lebih penting,  duduk bersama rakyat boleh, selfie boleh, makan pempek boleh,  tapi setelah itu, ayo sama-sama kerja.

Dan kesederhanaan adalah kekuatan, rakyat suka lihat pemimpin turun ke bawah, mau duduk di kursi plastik, mau keringetan di pasar. Jangan terlalu sering di ruang ber-AC, sesekali hirup aroma ikan segar di pasar, itu vitamin politik.

Pak Wapres, blusukan makan pempek itu langkah bagus. Tapi jangan sering-sering berhenti di level simbolis, ingat pepatah Palembang “Air tenang menghanyutkan”. Jangan sampai rakyat kelihatan tenang saja makan pempek, padahal di dalam hati mereka sudah hanyut terbawa arus kekecewaan karena pembangunan tak kunjung nyata.

Dan untuk para kepala daerah, jangan hanya mengandalkan momen kunjungan pejabat pusat sebagai panggung permintaan, setelah itu momen makan pempek, kerja nyata harus terus jalan meski kamera sudah mati.

Politik kita sering terlalu kaku, padahal, rakyat Indonesia suka guyon, coba lihat, Gibran makan pempek di pasar langsung viral, karena itu dekat dengan keseharian. Jadi, kenapa tidak dibuat konsisten?, bayangkan kalau ada tradisi setiap pejabat pusat yang datang ke daerah wajib makan kuliner khas setempat bersama rakyat. Dari Aceh sampai Papua, itu bisa jadi diplomasi kuliner sekaligus sarana menyerap aspirasi.

Kerja nyata

Siapa tahu, suatu hari nanti, keputusan soal pembangunan tol, pelabuhan, atau infrastruktur lain lahir dari obrolan santai sambil makan pempek, sate, atau papeda. Tidak perlu seminar mewah yang ngabiskan dana besa di hotel berbintang, cukup meja kayu di warung pasar.

Pemimpin itu seharusnya, seperti pempek kapal selam, yakni ada isi, tidak cuma kulit, rakyat butuh pemimpin yang berisi gagasan dan kerja nyata, bukan sekadar garing di luar tapi kosong di dalam.

Dan pemimpin juga seperti cuko, kadang pedas, kadang manis, kadang asam, tapi justru di situlah kenikmatan, kalau semua serba manis, malah bikin eneg. Pemimpin harus siap menyajikan kebijakan yang kadang pahit, demi kebaikan jangka panjang.

Momen Gibran makan pempek di Pasar 16 Ilir adalah pengingat bahwa politik sejatinya lahir dari ruang-ruang sederhana, pasar, warung kopi, meja makan, dari sana lahir kepercayaan rakyat.

Kalau pemimpin bisa konsisten menjaga kedekatan ini, lalu menindaklanjuti dengan kebijakan nyata, maka blusukan ke pasar tidak hanya jadi bahan berita viral, tapi juga jadi fondasi politik yang sehat.

Jadi, mari  ingat pepatah Palembang satu lagi “Jangan sampai makan pempek bikin kenyang sesaat, tapi lupa nasi di rumah”. Artinya, jangan sampai euforia momen blusukan bikin puas sesaat, tapi lupa kerja besar yang harus dituntaskan.

Akhirnya, pemimpin yang baik bukan hanya pandai makan pempek, tapi juga mampu menghadirkan rasa kenyang bagi rakyatnya, kenyang secara ekonomi, kenyang secara pembangunan, dan kenyang secara keadilan sosial. Semoga rakyat juga tidak jadi korban…[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekedar Mengingatkan, SKD CPNS Kemenag Tahap II Mulai 15 September 2021 di Empat Provinsi Ini

    Sekedar Mengingatkan, SKD CPNS Kemenag Tahap II Mulai 15 September 2021 di Empat Provinsi Ini

    • calendar_month Sabtu, 11 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.202
    • 0Komentar

      KEMENTERIAN Agama sudah mengumumkan pelaksanaan Seleksi Komptetensi Dasar (SKD) Tahap II yang akan berlangsung mulai 15 September sampai 3 Oktober 2021. SKD Tahap II ini berlangsung di empat provinsi, yaitu: Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah. Sekjen Kemenag Nizar mengatakan bahwa SKD dilaksanakan secara luring dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. “SKD CPNS […]

  • Angin Segar Bagi JMSI, Dewan Pers Upayakan  Sebelum HPN JMSI Menjadi Konstituen

    Angin Segar Bagi JMSI, Dewan Pers Upayakan Sebelum HPN JMSI Menjadi Konstituen

    • calendar_month Kamis, 11 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 756
    • 0Komentar

    KOMISIONER Dewan Pers Agung Dharma Jaya, membawa angin segar dalam Rakernas I Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI). Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pakar Pengurus Pusat JMSI ini mengatakan bahwa diharapkan sebelum Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2022 JMSI sudah menjadi konstituen Dewan Pers. “Inshaa Allah, JMSI akan segera menjadi konstituen Dewan Pers. Semoga sebelum HPN tahun […]

  • “Dari Kolom Komentar ke Kursi ASN, Gebrakan Ratu Dewa Bikin Netizen Tersenyum & Birokrasi Ketar-ketir”

    “Dari Kolom Komentar ke Kursi ASN, Gebrakan Ratu Dewa Bikin Netizen Tersenyum & Birokrasi Ketar-ketir”

    • calendar_month Senin, 13 Okt 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.763
    • 0Komentar

    ADA dua hal yang paling ditakuti pejabat zaman sekarang, apa itu ? soal laporan KPK dan… komentar netizen, ternyata Wali Kota Palembang Ratu Dewa lebih takut yang kedua, kok bisa?, begini alasannya… soalnya, dari situ juga lahir keputusan besar, yaitu  pelantikan PPPK tahap II, yang akhirnya dipercepat gegara serbuan komentar di media sosialnya. Bayangin, tiap […]

  • Lenovo Dipuji untuk Kepemimpinan Program Luar Biasa dalam Pengadaan Berkelanjutan oleh EcoVadis

    Lenovo Dipuji untuk Kepemimpinan Program Luar Biasa dalam Pengadaan Berkelanjutan oleh EcoVadis

    • calendar_month Rabu, 26 Apr 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 782
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id,- Lenovo telah diakui oleh EcoVadis untuk keunggulan dalam pengadaan berkelanjutan, mendapatkan Penghargaan Kepemimpinan Program Luar Biasa dalam Penghargaan Kepemimpinan Pengadaan Berkelanjutan tahunan ke-7.   EcoVadis adalah penyedia peringkat keberlanjutan bisnis terkemuka – dan mitra strategis bagi perusahaan yang menyadari kekuatan keberlanjutan untuk melindungi merek mereka, mempercepat pertumbuhan, dan memperkuat loyalitas pelanggan dan kepercayaan […]

  • Cegah Konflik di Masyarakat, Muba Minta BAIS Latih ASN Dasar-dasar Intelejen

    Cegah Konflik di Masyarakat, Muba Minta BAIS Latih ASN Dasar-dasar Intelejen

    • calendar_month Senin, 18 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.403
    • 0Komentar

    APARATUR Sipil Negara [ASN] Kabupaten Muba dilatih dasar-dasar Intelejen, guna mencegak konflik di masyarakat lebih cepat. Diklat ini dilakukan di Kantor BAIS TNI Kalibata Jakarta Selatan, Senin (18/1/2021). Diharapkan semua aparatur Pemkab Muba wajib sifatnya mengetahui lebih cepat dan mencegah lebih cepat juga jika terjadi kondisi yang bakal terjadi konflik di masyarakat. “Penanganan permasalahan yang […]

  • New Normal, Fraksi PKB Banyuasin : Ponpes & Sekolah Masih Luput Perhatian Pemerintah

    New Normal, Fraksi PKB Banyuasin : Ponpes & Sekolah Masih Luput Perhatian Pemerintah

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.238
    • 0Komentar

    KETUA Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa sekaligus Anggota DPRD Kabupaten Banyuasin Nopizar Teguh. S.Sos meminta agar pemerintah benar-benar memperhatikan kondisi pendidikan yang ada, mengingat para pelajar ini merupakan generasi penerus bangsa terutama di Pondok Pesantren yang butuh anggaran atau bantuan, seperti tempat cuci tangan, masker dan bimbingan penangan Covid-19 jika sewaktu-waktu terjadi di lingkungan pesantren. “Kita […]

expand_less
WordPress Archive July Morison | Event Photographer’s Portfolio WordPress Theme Jumbo: A 3-in-1 full-screen menu for WordPress Jumpkins – Music & Event Elementor Template Kit Junction — External Links Controller for WordPress Junio – E-Sport Gaming Events & Streamer Elementor Template Kit Junk Data Cleaner For WordPress Junko – Technology Theme for WooCommerce WordPress Jupi – Product Landing WordPress Theme JupiterX – Multi-Purpose Responsive Theme Jurak – One Page Portfolio WordPress Theme