Kamis, 22 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » “Drama Bawang, Beras & Cabai – Inflasi Rasa Dapur Nusantara”

“Drama Bawang, Beras & Cabai – Inflasi Rasa Dapur Nusantara”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 26 Sep 2025
  • visibility 1.426
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INFLASI itu bagi akademisi bisa jadi bahan seminar serius, tapi bagi emak-emak di pasar cukup dilihat dari harga cabai, kalau cabai merah meroket, nada suara ikut meninggi, kalau bawang turun, senyumnya bisa selebar kipas angin.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian baru-baru ini mewanti-wanti para kepala daerah untuk serius mengendalikan inflasi. Soalnya, meski inflasi nasional relatif aman di angka 2,31 & (Agustus 2025), ternyata masih ada daerah yang “panas” di atas 3,5%. Nah, panasnya bukan cuma karena cuaca, tapi juga karena cabai merah dan beras yang bikin dapur mendidih.

Biasanya bawang merah bikin kita meneteskan air mata waktu ngupas, tapi bulan September ini justru bikin senyum. Dari 309 kabupaten/kota yang sempat menjerit karena harga naik di Agustus, kini hanya tersisa 31 daerah yang masih berderai air mata. Sisanya malah hepi karena harganya turun.

Pertanyaannya, kenapa bisa turun? Apakah konsumsi masyarakat tiba-tiba berubah, atau distribusi bawang merah akhirnya lebih merata?. Kalau kata pepatah, “air mengalir ke tempat rendah, harga pun turun bila distribusi lancar”. Artinya, ketika logistik lancar, petani di Brebes atau Enrekang bisa kirim pasokan tanpa drama macet di jalan atau tertahan di gudang.

Beras ini kan ibarat aktor utama di sinetron dapur Indonesia. nggak ada beras, nggak jalan ceritanya. Untungnya, operasi pasar Bulog bareng Bapanas berhasil jadi cameo yang menyelamatkan alur cerita. Dari 214 daerah yang sempat mengalami kenaikan harga beras di Agustus, kini tinggal 106 daerah di September, lumayan turun separuh lebih.

Namun, jangan buru-buru tepuk tangan, operasi pasar itu sifatnya sementara, ibarat obat sakit kepala, yakni gejala hilang, tapi penyakit bisa kambuh lagi kalau stok dan distribusi tidak beres.

Solusinya tentu bukan cuma jual beras murah di pasar, tapi juga memperkuat cadangan, memperbaiki irigasi, dan memastikan petani nggak rugi. Kalau petani tekor, bisa-bisa musim depan mereka malas tanam.

Ini  episode klimaks sebenarnya karena, cabai merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras, tiga komoditas ini memang bandel. Cabai merah naik sedikit saja, langsung trending topic. Orang bilang, “Hidup tanpa cabai hambar, tapi kalau harga cabai naik, dompet terasa terbakar”.

Sementara ayam dan telur pun sama, kalau harga ayam mahal, lauk jadi terbatas, kalau telur naik, anak-anak kos bisa demo karena menu andalan mereka telur ceplok ikut kena imbas.

Oleh sebab itu, dari drama ini, jelas bahwa inflasi di Indonesia bukan sekadar angka di papan statistik, tapi cerita nyata di dapur masyarakat, bawang merah turun karena distribusi lancar, beras agak terkendali karena intervensi pemerintah lewat operasi pasar. Tapi cabai, ayam, dan telur masih menantang karena sifatnya musiman dan tergantung pasokan pakan maupun cuaca.

Artinya, ada solusi jangka pendek oke, seperti operasi pasar, tapi solusi jangka panjang jauh lebih penting, misalnya perkuat sistem distribusi pangan (jalan, transportasi, gudang dingin), dorong produksi dalam negeri lewat dukungan ke petani dan peternak dan buka data harga secara transparan biar masyarakat tahu kondisi real, dan spekulan nggak gampang bermain.

Mendagri sudah benar mengingatkan kepala daerah agar duduk bersama dengan BPS, Bulog, BI, Kadin, hingga asosiasi pengusaha. Namun jangan sampai duduk bersama ini hanya jadi agenda rapat rutin dengan kopi dan snack. Pepatah Jawa bilang, “Ojo kebacut rembugan, ning ora ana tumindak”, artinya, jangan kebanyakan ngomong tanpa aksi nyata.

Jika, seringkali rapat koordinasi di daerah sudah megah, tapi pasarnya tetap gaduh, oleh karena itu, kepala daerah mesti lebih rajin blusukan ke pasar, dengar langsung suara pedagang dan pembeli, bukan hanya laporan angka di kertas. Ingat, angka inflasi yang manis bisa terasa pahit kalau harga cabai tetap bikin ibu-ibu menjerit.

Pada akhirnya, inflasi ideal bukan hanya sekadar sesuai target pemerintah (2,5% ± 1%), tapi juga terasa ramah di dapur rakyat. Kalau harga bawang, beras, cabai, ayam, dan telur bisa stabil, masyarakat akan lebih tenang.

Dan  inflasi itu bukan soal angka kering, tapi soal nasi yang bisa tetap ngebul di meja makan. Pemerintah pusat, daerah, dan semua pihak harus kompak menjaga keseimbangan ini, karena, seperti pepatah bilang, “Perut kenyang, hati pun senang, perut lapar, semua bisa jadi lawan”. Maka, jangan anggap enteng drama dapur, pasalnya dari sanalah stabilitas bangsa kadang diuji.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 4 Desa Jadi Pelopor Desa Cantik di OKI

    4 Desa Jadi Pelopor Desa Cantik di OKI

    • calendar_month Selasa, 21 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 680
    • 0Komentar

    BUPATI Ogan Komering Ilir (OKI), H. Iskandar, SE mencanangkan program desa cantik atau desa cinta statistik. Desa cantik merupakan program Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rangka peningkatan kompetensi aparatur desa dalam pengelolaan dan pemanfaatan data sehingga perencanaan pembangunan desa lebih tepat sasaran. “Kalau pemahaman statistiknya semakin baik, aparat desa bisa gunakan data-data itu untuk membangun […]

  • Kampanye Prabowo di BKB, Berkah Bagi Pedagang

    Kampanye Prabowo di BKB, Berkah Bagi Pedagang

    • calendar_month Rabu, 10 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.018
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang – Kampanye Akbar Prabowo di Areal Benteng Kuto Besak [BKB]kemarin, berdampak positif bagi para pedagang, bahkan pedagang makanan dan minuman mengaku meraup untuk berlipat ganda. Apalagi saat itu cuaca mendukung disertai hujan gerimis, pedagang bakso, somay dan empek-empek keliling laku keras. “Lumayan mas, empek-empek yang dibawa dari pagi sekitar 300 biji, sore ini […]

  • UMK Palembang Naik Kelas, Pempek & Sambal Kantongi SNI

    UMK Palembang Naik Kelas, Pempek & Sambal Kantongi SNI

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 434
    • 0Komentar

    DULU, gerobak pempek di pinggir jalan cuma rame pas jam makan siang, kadang pelanggan ngantri sambil bertanya-tanya, “Ini enak nggak ya?” Sekarang? Izzu Pempek sudah kantongi SNI, dan adonan harus rapi. Katanya, kalau adonan belepotan, pelanggan bisa ngamuk, dan sertifikat SNI… mungkin ikut bete. Sambal kentang Dapoe Nineng juga nggak kalah heboh. Pedas tetap juara, […]

  • Gunakan e-Waroeng, Muba Ajak Emak-emak Melek Teknologi

    Gunakan e-Waroeng, Muba Ajak Emak-emak Melek Teknologi

    • calendar_month Jumat, 27 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.080
    • 0Komentar

    “Kita akan modifikasi peruntukannya yang lebih luas lagi<'

  • Belum Ada Info Resmi Kuota Haji, Reguler maupun Khusus

    Belum Ada Info Resmi Kuota Haji, Reguler maupun Khusus

    • calendar_month Senin, 29 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 771
    • 0Komentar

    KONSUL Haji KJRI Jeddah Endang Jumali memastikan bahwa informasi yang beredar terkait kuota haji reguler dan khusus, serta kapasitas kamar dan masa tinggal di Madinah pada penyelenggaraan haji tahun ini bukanlah informasi resmi. Menurutnya, hingga saat ini belum ada informasi resmi dari Saudi terkait penyelenggaraan haji 1442H/2021M. “Sampai saat ini Saudi belum mengumumkan kebijakannya terkait haji […]

  • Rokok dan Rebahan Jadi Ancaman Jantung Remaja

    Rokok dan Rebahan Jadi Ancaman Jantung Remaja

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Gaya hidup minim gerak, begadang hingga kebiasaan merokok mulai memicu risiko hipertensi dan penyakit jantung pada pelajar PENYAKIT jantung kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Di tengah gaya hidup modern, ancaman gangguan jantung dan hipertensi perlahan mulai menyasar kalangan remaja. Kebiasaan rebahan terlalu lama, kurang olahraga, begadang, konsumsi makanan cepat saji hingga rokok menjadi […]

expand_less
WordPress Archive Themify Shoppe WooCommerce Theme Themify Simfo WordPress Theme Themify Split WordPress Theme Themify Stack WordPress Theme Themify Suco WordPress Theme Themify Thememin WordPress Theme Themify Tiles Plugin Themify Tisa WordPress Theme Themify Ultra Premium WordPress Theme Themify WooCommerce Product Filter