Jumat, 9 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » “Kupik Mandi ke Ayek”, Tradisi Sungai yang Kini Mendunia

“Kupik Mandi ke Ayek”, Tradisi Sungai yang Kini Mendunia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
  • visibility 1.362
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DI tepian sungai, suara gemericik air berpadu dengan tawa bocah-bocah, dari dulu sampai sekarang, sungai bukan hanya tempat mandi atau mencuci, tapi juga “panggung kehidupan”. Dan di Muara Enim, Sumatera Selatan, ada satu tradisi unik bernama “Kupik Mandi ke Ayek”, ritual memandikan bayi di sungai yang kini resmi mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Eh, siapa sangka, kegiatan yang bagi orang luar mungkin terlihat sederhana itu sekarang sudah naik kelas, bahkan layak dipromosikan dalam panggung Karang Asam Festival 2025.

Kalau dipikir-pikir, hidup memang mirip air sungai: mengalir, kadang deras, kadang tenang. Nah, tradisi “Kupik Mandi ke Ayek” ini ibarat pepatah lama “Dimana bumi dipijak, di situ air harus diminum”. Bedanya, di sini bukan diminum, tapi dipakai buat “baptisan lokal” ala urang dusun.

Jujur saja, mendengar HAKI untuk tradisi ini bikin saya senyum-senyum sendiri. Lha wong dulu, kalau bayi dimandikan di sungai, itu hal biasa saja. Tapi sekarang, sudah jadi kebanggaan budaya. Mirip seperti lagu lawas yang dulu diputar di kaset butut, eh tiba-tiba di-remix jadi trending TikTok. Bedanya, ini bukan gimmick, melainkan identitas asli masyarakat.

Di tengah gempuran budaya pop, orang Muara Enim berhasil membuktikan pepatah “Tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas”. Kupik mandi ke ayek bukan hanya tradisi, tapi simbol ikatan manusia dengan alam. Air sungai jadi medium penyucian, doa, sekaligus harapan agar si bayi tumbuh sehat, kuat, dan “sejernih aliran ayek”.

Coba bayangkan suasana ritualnya. Ada bayi mungil, ada ibu bapak yang deg-degan, ada kakek-nenek yang cerewet kasih nasihat, dan ada sungai yang kadang lebih ramai dari pasar minggu. Jangan kaget kalau ada yang nyeletuk “Kalau bayi nangis waktu dimandikan, tandanya rejekinya deras kayak arus sungai!”. Atau yang lebih kocak “Kalau bayinya anteng, berarti nanti jodohnya orang jauh, ikut arus sungai sampai ke hulu entah kemana”.

Humor-humor semacam ini yang bikin tradisi terasa hidup. Karena apa? Budaya tanpa tawa, ibarat ikan asin tanpa garam, tetap bisa dimakan, tapi hambar.

Tahun ini, Karang Asam Festival 2025 jadi panggung resmi untuk merayakan tradisi ini. Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, sampai hadir langsung. Ia mengapresiasi warga Muara Enim yang berhasil mengangkat ritual “Kupik mandi ke ayek” menjadi warisan budaya. Bahkan festival ini masuk dalam Karisma Event Nusantara,  daftar bergengsi acara budaya nasional.

Di festival ini, bukan cuma soal budaya. Ada 106 stan dari UMKM, kuliner, BUMN, BUMD, sampai swasta. Jadi, jangan heran kalau habis nonton ritual, perut langsung digoda aroma pempek lenjer, kopi semendo, atau sambal tempoyak yang pedasnya bisa bikin air mata ngalir kayak sungai.

Kalau ditarik lebih dalam, festival ini bukan sekadar seremonial, ia adalah bukti bahwa tradisi bisa jadi motor ekonomi. UMKM lokal dapat pasar, wisatawan punya pengalaman unik, dan warga setempat mendapat kebanggaan.

Ini yang disebut “ekonomi sungai” mengalir dari hulu budaya, melewati arus wisata, lalu bermuara pada kesejahteraan. Kalau tradisi hanya jadi cerita, ia akan hanyut. Tapi kalau dijaga dan dikemas, ia bisa jadi sumber rejeki.

Orang tua dulu bilang, “Air yang tenang menghanyutkan”, jangan diremehkan. Sama halnya dengan “Kupik mandi ke ayek”. Dari luar tampak sederhana, tapi nilainya dalam sekali. Ia mengajarkan  bahwa manusia harus akrab dengan alam, anak yang lahir perlu disambut dengan doa, bukan hanya pesta  dan kebudayaan tidak harus mewah, cukup tulus dan bermakna.

Dan yang paling penting, tradisi ini mengingatkan kita  jangan sampai generasi muda lebih hafal lagu viral daripada adat leluhurnya sendiri.

“Kupik Mandi ke Ayek”, kini bukan sekadar ritual kampung, tapi simbol budaya Sumatera Selatan yang mendunia. Dari sungai Karang Asam, gema tradisi ini bisa melintas sampai ke mancanegara.

Muara Enim berhasil membuktikan bahwa ketika masyarakat bersatu menjaga kearifan lokal, hasilnya bisa luar biasa, ekonomi terangkat, wisata hidup, dan identitas terjaga.

Pepatah mengatakan, “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui” melalui Karang Asam Festival, bukan cuma budaya yang dilestarikan, tapi juga ekonomi yang digerakkan.

Jadi, kalau nanti ada orang bertanya “Apa oleh-oleh terbaik dari Muara Enim?” Jawabannya bukan sekadar kopi atau kain songket, tapi cerita tentang Kupik mandi ke ayek, tradisi sungai yang kini mendunia.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tujuh Fraksi Sampaikan Pemandangan Umum Atas LKPD & Rancangan Lima Perda

    Tujuh Fraksi Sampaikan Pemandangan Umum Atas LKPD & Rancangan Lima Perda

    • calendar_month Selasa, 27 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 810
    • 0Komentar

    BUPATI Musi Banyuasin Dr H Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA melalui Sekretaris Daerah Muba Drs H Apriyadi MSi hadir mengikuti  Rapat Paripurna Masa Persidangan II rapat ke-7 Pemandangan Umum Fraksi – fraksi DPRD Kabupaten Musi Banyuasin atas Raperda  Pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Kabupaten Musi Banyuasin Tahun Anggaran 2020 dan 5 (Lima) Raperda Kabupaten Musi […]

  • Desa Terdepan Dalam Pembangunan, Bahkan Pusat Sentral Indonesia

    Desa Terdepan Dalam Pembangunan, Bahkan Pusat Sentral Indonesia

    • calendar_month Jumat, 9 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 890
    • 0Komentar

    DESA bukan lagi halaman belakang dari Indonesia, tapi desa adalah halaman depan dari pembangunan bangsa saat ini. Pusat, sentral sekarang kembali ke desa sehingga menjadi terdepan, kata Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Sekjen Kemendes PDTT) Taufik Madjid saat jadi pembicara kunci pada sarasehan pembangunan perdesaan Maluku Utara di aula Bidadari Kantor […]

  • Dukung Promosi Film “Kun Ana Wa Anta”, Begini Ungkap Menparekraf

    Dukung Promosi Film “Kun Ana Wa Anta”, Begini Ungkap Menparekraf

    • calendar_month Selasa, 7 Mar 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.962
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mendukung promosi Film “Kun Ana Wa Anta” sebagai upaya meningkatkan kualitas film nasional terutama film bagi anak-anak. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparerkaf/Baparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno saat The Weekly Brief With Sandi Uno di Gedung Sapta Pesona, […]

  • Agar Tepat Sasaran, Ada Terobosan Inovasi  Baru dari Kemensos, Ini Cara Unduh Aplikasi Cek Bansos

    Agar Tepat Sasaran, Ada Terobosan Inovasi  Baru dari Kemensos, Ini Cara Unduh Aplikasi Cek Bansos

    • calendar_month Minggu, 29 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 951
    • 0Komentar

    INOVASI penyaluran bantuan sosial alias bansos terus digeber. Tujuan utamanya adalah agar bansos tersebut tepat sasaran. Nah terobosan baru itu diperkenalkan Kementerian Sosial lewat  aplikasi bernama “Cek Bansos.” Sesuai namanya, aplikasi ini digunakan untuk mengecek bantuan sosial yang diberikan pemerintah. Di aplikasi ini kita bisa mengecek mulai dari cek penerima, usul, hingga sanggah. Untuk meningkatkan […]

  • Di Sumut Pembangunan Pertashop Telah Capai 80 Outlet

    Di Sumut Pembangunan Pertashop Telah Capai 80 Outlet

    • calendar_month Sabtu, 18 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 903
    • 0Komentar

      PERTAMINA Patra Niaga terus menjalankan program pembangunan Pertamina Shop (Pertashop) di seluruh wilayah Indonesia termasuk Sumatera Bagian Utara (Sumbagut). Hingga pertengahan Desember 2021, pembangunan Pertashop telah mencapai 80 outlet di Sumatera Utara (Sumut). Area Manager Communication Relation & CSR Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga, Taufikurachman mengatakan, pihaknya terus berkomitmen menghadirkan energi sampai ke pelosok […]

  • Pangdam II/SWJ: Muba Punya Komitmen Besar Bangun Pedesaan

    Pangdam II/SWJ: Muba Punya Komitmen Besar Bangun Pedesaan

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.041
    • 0Komentar

    BUPATI Musi Banyuasin Dr H Dodi Reza Alex Noerdin bersama Jajaran Forkopimda menyambut Kunjungan Kerja Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Agus Suhardi di Pendopoan Griya Bumi Serasan Sekate, Selasa (25/8/2020). Dikatakan Pangdam II/Sriwijaya, tujuan utama dirinya mengunjungi Bumi Serasan Sekate ialah untuk mengecek kesatuannya yaitu Kodim 0401/Muba, sekaligus bersilaturahmi dengan Bupati Muba beserta Jajaran Forkopimda di […]

expand_less
WordPress Archive Voevod – WooCommerce Store WordPress Theme Vogal – Multipurpose Shopify Theme OS 2.0 Voice – Clean News/Magazine WordPress Theme Voice messages form for WordPress – Contacter Voice – News Magazine WordPress Theme Voicer – Text to Speech Plugin for WordPress Voifone | Multipurpose VOIP WordPress Theme VOIP Pricing Calculator | VOIP Calling Rates, SMS Rates, Mobile Top Up Rates Table/Calculator Voisen – WooCommerce Responsive Fashion Theme Vokial – Creative Agency WordPress Theme