Minggu, 11 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » Kalau Dokter Spesialis Masih Minim, Nanti yang Operasi Kita Robot atau Dukun?

Kalau Dokter Spesialis Masih Minim, Nanti yang Operasi Kita Robot atau Dukun?

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 28 Agt 2025
  • visibility 859
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

COBA misalnya, suatu hari anda sakit gigi geraham yang rasanya kayak digigitin rayap nonstop, begitu cari dokter spesialis gigi bedah mulut, ternyata antreannya sampai enam bulan ke depan. Kalau nungguin, bisa-bisa geraham sudah pindah alamat ke dunia lain. Ujung-ujungnya, orang Indonesia sering ambil jalan pintas, cabut sendiri pakai tang potong, atau lebih ekstrem lagi,   pergi ke dukun gigi di pasar yang pegangannya bukan izin praktik, tapi palu kecil dan doa semangat 45.

Nah, beginilah gambaran krisis dokter spesialis kita, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sampai harus menggelar Konferensi Internasional demi mempercepat reformasi pendidikan spesialis.

Katanya, rumah sakit pendidikan akan ditambah dari 26 sentra jadi 300–500. Targetnya, produksi dokter spesialis naik dari 2.700 per tahun jadi 20 ribu per tahun. Kalau benar tercapai, ini bukan lagi kabar gembira, tapi bisa bikin rakyat terharu sambil nyanyi lagu perjuangan.

Kita sering bangga bilang penduduk Indonesia itu besar, 280 juta jiwa, potensial, pasar luas, tapi begitu dibandingin dengan negara lain, jumlah dokter spesialis kita ibarat nasi padang tanpa rendang.

Contoh Korea Selatan, penduduknya cuma seperenam Indonesia, tapi jumlah spesialisnya lebih banyak. Inggris, penduduknya 68 juta (seperlima Indonesia), tapi tiap tahun bisa produksi 48 ribu dokter spesialis dan Amerika punya 900 rumah sakit pendidikan. Kita? baru 26, itu pun sering penuh kayak kos-kosan pas musim masuk kuliah.

Pepatah lama bilang “besar pasak daripada tiang, rumah bisa roboh”. dalam konteks ini, besar penduduk tanpa dokter cukup, rakyat bisa roboh beneran.

Kalau krisis dokter spesialis dibiarkan, jangan heran besok-besok ada pasien datang ke rumah sakit, tapi yang menyambut bukan dokter, melainkan robot dengan suara Google Translate “Selamat siang, pasien terhormat, silakan buka mulut, saya akan operasi pakai tutorial YouTube”

Kalau bukan robot, ya mungkin balik lagi ke dukun, bedanya, dukun zaman sekarang bukan cuma pakai jampi-jampi, tapi juga pakai paket data. “Tenang, saya sudah lihat caranya di TikTok, operasinya gampang kok!” Lah, bukannya sembuh, malah jadi konten viral.

Supaya tragedi “dokter spesialis langka” tak jadi komedi gelap, Menkes mulai menggandeng pihak internasional ACGME-I dari Amerika, SingHealth, dan JCST dari Singapura, tujuannya jelas, bikin sistem pendidikan dokter kita setara standar global.

Pendidikan spesialis nanti dijanjikan bebas diskriminasi, bebas pemerasan, bebas bullying, semua pakai sistem elektronik. Jadi calon dokter tak perlu lagi setor ayam kampung atau durian musang king ke dosen pembimbing. Pepatah bilang, “kalau mau menanam pohon, tanamlah yang berbuah.” Nah, kalau mau melahirkan spesialis berkualitas, tanamlah sistem yang jujur dan transparan.

Bayangkan, 7.000 pulau Indonesia punya akses dokter spesialis yang merata, di Papua, orang sakit jantung tak perlu terbang ke Jakarta. Di Maluku, pasien mata tak perlu antre sampai berbulan-bulan di Makassar. Di pedalaman Kalimantan, ibu hamil tak perlu naik perahu dua hari hanya untuk cari spesialis kandungan.

Itu bukan mimpi, tapi pekerjaan rumah, kalau bisa tercapai, kesehatan rakyat bukan lagi barang mewah, melainkan hak dasar.

Krisis dokter spesialis ini sebetulnya cermin klasik dari negeri +62, jumlah penduduk banyak, sumber daya berlimpah, tapi manajemen kadang kayak warung bakso yang kehabisan mie pas jam makan siang. Kita butuh sistem yang kuat, bukan tambal sulam. Butuh rencana matang, bukan janji yang cuma jadi headline berita.

Seperti kata pepatah Jawa, “alon-alon asal kelakon,” tapi untuk urusan kesehatan, kalau kelamaan alon-alon, bisa keburu kelakon di rumah duka, jadi jangan ditunda-tunda lagi.

Reformasi pendidikan dokter spesialis ini ibarat upgrade sistem operasi, dari Windows 95 langsung lompat ke Windows 11. Kalau serius dijalankan, rakyat bisa merasakan layanan kesehatan cepat, merata, dan berkualitas. Tapi kalau cuma jadi jargon konferensi, ya sama saja kita nonton film tanpa ending bikin penasaran sekaligus kecewa.

Jadi,  kita dukung langkah ini, sambil tetap awasi, karena sehat itu hak, bukan barang langka,  jangan sampai di masa depan, kita harus memilih operasi sama robot, cabut gigi di dukun, atau cukup doa sambil berharap sakitnya hilang sendiri.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Formasi CPNS Pemkot Palembang Paling Banyak, Mau Tahu ?

    Formasi CPNS Pemkot Palembang Paling Banyak, Mau Tahu ?

    • calendar_month Kamis, 21 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.172
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kabupaten/Kota di Sumsel kini telah menerima jatah atau kuota untuk penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2019. Berdasarkan kuota, daerah paling banyak mendapatkan jatah CPNS yakni Kota Palembang sebanyak 916 formasi. Sedangkan, paling sedikit yakni Kabupaten Empat Lawang sebanyak 53 formasi. Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Regional VII, Agus Sutiadi mengatakan, jumlah 3983 […]

  • Jangan Lupa Nanti Malam, Partai Puncak Sepak Bola SEA Games, Mampukah Tim 22 Kalahkan Thailand  ?

    Jangan Lupa Nanti Malam, Partai Puncak Sepak Bola SEA Games, Mampukah Tim 22 Kalahkan Thailand  ?

    • calendar_month Selasa, 16 Mei 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.063
    • 0Komentar

    Partai puncak SEA Games 2023 Kamboja cabang olahraga sepakbola, akan mempertemukan Tim U-23 Indonesia melawan Thailand. Dari 23 kali pertemuan, Garuda Muda meraih lima kemenangan, momen itu terjadi pada edisi 1979, 1989, 1991, 2011, dan 2019. sementara Thailand meraih 16 kemenangan dan dua kali imbang. “Besok adalah pertandingan puncak, kita dengan Thailand. Dalam kesempatan ini […]

  • “Apel Pagi & Janji ASN: Antara Seragam Disetrika Rapi & Etos Kerja yang Masih Kucel”

    “Apel Pagi & Janji ASN: Antara Seragam Disetrika Rapi & Etos Kerja yang Masih Kucel”

    • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 876
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Pagi yang cerah di Kalidoni, Senin kemarin, udara belum panas, tapi pidato sudah hangat. Sekda Kota Palembang, Aprizal Hasyim, memimpin apel rutin bagi para ASN. Sebuah apel yang kalau dilihat dari susunan barisannya, lebih mirip gladi resik upacara 17 Agustusan, tapi isinya serius tentang kedisiplinan, tentang semangat pelayanan, dan tentang jargon-jargon program Pemkot […]

  • BRI Super League, Sempat Tertinggal, Maung Bandung Bangkit Atasi PSM 3-1

    BRI Super League, Sempat Tertinggal, Maung Bandung Bangkit Atasi PSM 3-1

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 37
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Persib Bandung membuka perjalanan di BRI Super League 2026/2027 dengan tiga poin sempurna. Menghadapi PSM Makassar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (6/9/2026), Maung Bandung harus bekerja keras sebelum akhirnya mengunci kemenangan 3-1. PSM bukan lawan yang mudah bagi Persib pada pertandingan ini. Tim tamu mampu membuat tuan rumah berada dalam […]

  • Herman Deru :  Saya Yakin Songket Gunung Batu Mampu Bersaing di Pasaran

    Herman Deru :  Saya Yakin Songket Gunung Batu Mampu Bersaing di Pasaran

    • calendar_month Kamis, 28 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 945
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, OKU TIMUR – Corak kain songket karya pengrajin tenun warga desa Gunung Batu Kecamatan Cempaka Kabupaten OKU Timur Tidak kalah menarik jika dibanding dengan kain songket yang berasal dari daerah lainnya  di Sumatera Selatan. Hal tersebut diungkapkan Gubernur Sumsel H Herman Deru  ketika menyampaikan sambutan dalam silaturahminya bersama dengan masyarakat Desa Gunung Batu Kecamatan […]

  • MTQ Sumsel 2026, Misi Kembali ke Lima Besar Nasional

    MTQ Sumsel 2026, Misi Kembali ke Lima Besar Nasional

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 39
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Sumatera Selatan tak ingin hanya tampil dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI 2026 di Semarang, Jawa Tengah. Provinsi ini memasang target tegas, kembali menembus lima besar nasional. Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru melepas 95 anggota Kafilah Sumsel menuju MTQ XXXI di Griya Agung, Palembang, Kamis (10/9/2026). Ia menegaskan, seluruh peserta membawa misi mengangkat kembali […]

expand_less
WordPress Archive Healingy – Therapy & Counseling Psychologist WordPress Theme Healsoul – Medical Care, Home Healthcare Service WP Theme Health Coach Blog & Lifestyle Magazine WordPress Theme Health Coach – Mentor & Lifestyle Master WordPress Theme HealthHub – Health & Medical Doctor WordPress Theme Healthic – Sports Center & Fitness Gym WordPress Theme Healthy Living – Nutrition and Wellness WordPress Theme Healthy Pregnancy – Health & Medical WordPress Theme HEAP – A Snappy Responsive WordPress Blog Theme Hearity – Charity & Donation WordPress Theme