Minggu, 27 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Palembang Terkini » “Apel Pagi & Janji ASN: Antara Seragam Disetrika Rapi & Etos Kerja yang Masih Kucel”

“Apel Pagi & Janji ASN: Antara Seragam Disetrika Rapi & Etos Kerja yang Masih Kucel”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
  • visibility 869
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Pagi yang cerah di Kalidoni, Senin kemarin, udara belum panas, tapi pidato sudah hangat. Sekda Kota Palembang, Aprizal Hasyim, memimpin apel rutin bagi para ASN. Sebuah apel yang kalau dilihat dari susunan barisannya, lebih mirip gladi resik upacara 17 Agustusan, tapi isinya serius tentang kedisiplinan, tentang semangat pelayanan, dan tentang jargon-jargon program Pemkot yang kini semakin panjang, seperti “Palembang Cerdas, Peduli, Belagak, Gercep dan Sehat”.

Tentu tidak ada yang salah dengan apel. Apel itu sehat, katanya, daripada apel doang di meja jadi hiasan, mending apel bareng ASN buat penyegaran motivasi, Tapi pertanyaannya kemudian apakah apel ini hanya jadi rutinitas mingguan atau benar-benar berdampak?. Jangan-jangan, setelah apel bubar, semangatnya ikut bubar lagi?. Kembali ke pola lama ngantor jam 8, ngopi jam 9, ngilang jam 10, balik jam 3, dan absen jam 4, he..he..

Dalam dunia ASN, kadang disiplin hanya sebatas di meja absensi, setelah itu entah ke mana, seperti pepatah lama “Gajah mati meninggalkan gading, ASN apel pagi meninggalkan fotonya di grup WA”. Kalau diingatkan, jawabannya template “Masih di lapangan, Pak,” tapi lapangannya di mana?. Cuma Tuhan dan tukang bakso keliling yang tahu.

Pak Sekda bilang ASN harus jadi ujung tombak. Tapi tombak yang tidak diasah lama-lama tumpul. Jangan sampai ASN ini ujung tombak yang malah menusuk balik ke program karena tak tahu arah. Kita butuh tombak yang bukan cuma runcing, tapi juga tahu kapan digunakan dan kepada siapa diarahkan.

Tengok ke luar pagar, banyak kota lain yang lebih dulu berhasil mengubah rutinitas birokrasi jadi motor pelayanan. Surabaya, misalnya, di masa kepemimpinan Bu Risma, tak banyak jargon, tapi sistem pelayanan jalan, setiap ASN bukan cuma apel, tapi juga wajib blusukan digital cek kondisi sekolah, pelayanan publik, dan keluhan warga via dashboard pintar. Jadi bukan hanya seragamnya yang disetrika, tapi juga pikirannya yang digosok biar tajam.

Di Bandung, Ibukota Jawa Barat era Ridwan Kamil pun serupa, Program “Lapor Kang Emil” bikin warga bisa langsung komplen via HP. Apel tetap jalan, tapi dilengkapi dengan evaluasi mingguan dan kejar target, bukan cuma berdiri baris-berbaris, tapi juga mikir baris demi baris laporan pelayanan.

Boleh mencontoh kedisiplinan dari dunia luar, seperti Seoul, Korea Selatan, ASN bukan cuma diwajibkan disiplin, tapi juga diberikan pelatihan pelayanan publik yang berbasis etika dan empati. Mereka punya “Citizen Happiness Index” yang dinilai dari survei publik tiap bulan, jadi bukan sekadar apel yang dinilai, tapi juga ekspresi warga saat dilayani senyum atau misuh-misuh.

Bahkan di Bogotá, Kolombia, ada program unik semua pegawai kantor pemerintahan wajib turun ke jalan sebulan sekali untuk menyapu atau membantu pelayanan umum. Tujuannya? supaya mereka tak lupa rasanya jadi rakyat biasa, supaya mereka sadar di balik meja ada wajah-wajah yang antre berjam-jam menanti bantuan.

Lalu kembali ke Kalidoni lagi, ASN di sini memang rajin baris, tapi kadang kurang rajin urus berkas. Punya jargon Palembang Cerdas, tapi jangan-jangan yang cerdas cuma PowerPoint-nya. Jangan sampai “Belagak” malah jadi lelucon warga belagak sibuk, belagak kerja, padahal WhatsApp-an di ruang belakang.

Buatlah apel yang tidak hanya seremonial, tambahkan sesi curhat warga tiap pekan, yang bisa jadi feedback langsung, rancang target kerja ASN pekanan yang diumumkan pas apel, lalu dievaluasi minggu berikutnya. Sediakan sistem reward kecil, misal, ASN teladan tiap bulan dikasih voucher makan siang, karena kadang semangat tidak hanya butuh teguran, tapi juga disemangati dengan hadiah.

Jangan lupa, perbaiki sistem kerja, bukan cuma seragam. Percuma bajunya licin tapi SOP-nya kusut. Percuma apel 3 kali seminggu, percuma jargon “Gercep”, tapi balasan surat warga lebih lambat dari surat cinta di zaman pager.

ASN jangan cuma sigap saat ada apel, tapi lenyap saat ada warga karena pelayanan publik bukan panggung sandiwara, kita tak butuh banyak slogan, kita butuh tindakan. Slogan boleh seperti sinetron, tapi jangan sampai pelayanannya jadi seperti iklan sabun: wangi di depan, tapi luntur di dalam.

Sebab seperti kata pepatah”Pagi bisa cerah, tapi kalau semangat kerja mendung, ya hujan juga hasilnya”. Dan hujan ini, kalau dibiarkan terus-menerus, bisa jadi banjir kekecewaan.

ASN jangan cuma sigap saat ada apel, tapi lenyap saat ada warga. Karena pelayanan publik bukan panggung sandiwara. Kita tak butuh banyak slogan, kita butuh tindakan. Slogan boleh seperti sinetron, tapi jangan sampai pelayanannya jadi seperti iklan sabun: wangi di depan, tapi luntur di dalam.

Sebab seperti kata pepatah”Pagi bisa cerah, tapi kalau semangat kerja mendung, ya hujan juga hasilnya”, kalau dibiarkan terus-menerus, bisa jadi banjir kekecewaan warga.

Apel itu penting, iya. Tapi lebih penting lagi hasil dari apel itu. Mau tiap Senin, Rabu, dan Jumat berdiri 30 menit di bawah bendera, tapi kalau kelakuan pelayanan masih bikin warga lari-lari antar meja kayak peserta Amazing Race, ya sama aja. Bendera berkibar, tapi kepercayaan malah merosot.

Sudah saatnya kita berkaca dari kota-kota lain. Jangan cuma pintar menata barisan, tapi juga tata niat dan tata kelola. ASN itu bukan hanya “Aparatur Sipil Negara”, tapi juga “Aset Setia Negara”. Sayang kalau asetnya cuma jadi patung hidup saat apel, tapi beku saat kerja nyata.

Jika apel hanya jadi rutinitas, tak ubahnya seperti orang tua yang rajin ke posyandu tapi lupa kasih ASI. Simbol tanpa isi. Maka mari kita isi apel itu dengan arah yang jelas, evaluasi yang jujur, dan semangat yang tak cuma menguap bersama matahari pagi.

Karena pada akhirnya, ASN adalah wajah pertama yang dilihat rakyat saat negara dipanggil. Kalau wajahnya cemberut dan pelayanannya lambat, maka negara akan tampak seperti tukang ojek online yang lupa jalan ditunggu lama, tapi tak pernah sampai.

Jangan hanya jadi ASN yang pandai apel, tapi jadi ASN yang bikin warga ingin tepuk tangan, bukan karena barisan rapi, tapi karena pelayanannya cepat, tulus, dan tidak belagak sok sibuk padahal lagi buka TikTok.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pertagas Komit Benahi Kerusakan Pembangunan SKTT

    Pertagas Komit Benahi Kerusakan Pembangunan SKTT

    • calendar_month Jumat, 25 Mei 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.274
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Palembang  – Deputi Project Control Pertamina Gas, Paulinus Sitanggang akan bertanggung jawab jika ada kerusakan dari pembangunan Saluran Kabel Tegangan Tinggi (SKTT) sebagai penunjang Asian Games. Dia  menyampaikan bahwa sudah melakukan koordinasi dan joint survey bersama dengan pihak PLN bagi yang di Palembang maupun Jakarta. Pihak Pertagas sendiri sudah berkomitmen untuk bertanggung jawab terkait kerusakan […]

  • Asa Tak Surut, Protokol Tak Larut

    Asa Tak Surut, Protokol Tak Larut

    • calendar_month Sabtu, 12 Des 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.845
    • 0Komentar

    “Sudah 9 bulan kita berkutat dengan situasi pandemi COVID-19 . Hidup berubah drastis dengan berbagai adaptasi kebiasaan baru, seperti bekerja/belajar dari rumah dan mobilitas yang dibatasi. Jujur, kita sudah lelah, kan? Namun, jangan lantas kita berpasrah dan menyerah, apalagi lengah. Solid bergotong royong dan disiplin protokol kesehatan pasti kita berhasil menghalau COVID-19. Mari saling jaga: […]

  • Ketua PWI OKI Nilai Sikap Arogan Bukan Cerminan Pejabat

    Ketua PWI OKI Nilai Sikap Arogan Bukan Cerminan Pejabat

    • calendar_month Sabtu, 17 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.113
    • 0Komentar

    DIDUGA sikap arogan seperti menjadi alasan Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar ( Kabid SD) di Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Abdullah Arfai S.Pd M.Si untuk menghindari perbincangan ketika hendak dimintai keterangan  awak media terkait kinerja bidangnya. Pasalnya belum lama ini oknum Kabid SD dimaksud pernah berulah dengan nada arogan guna memutus konfirmasi. Dan […]

  • Presiden Mengajak Kolaborasi Ciptakan Talenta Unggul Indonesia, Syaratnya Ada Dua Program Yang Harus Dipenuhi

    Presiden Mengajak Kolaborasi Ciptakan Talenta Unggul Indonesia, Syaratnya Ada Dua Program Yang Harus Dipenuhi

    • calendar_month Selasa, 15 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 869
    • 0Komentar

    PROGRAM Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka akan mempercepat penyiapan talenta unggul di dalam negeri. Sehingga, mampu menghadapi berbagai disrupsi yang kerap muncul seiring dengan perkembangan jaman. “Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka ini akan menjadi percepatan penyiapan talenta Indonesia,” ujar Presiden Joko Widodo melalui siaran virtual yang ditayangkan Sekretariat Presiden pada Selasa (15/6/2021). Menurut dia, seluruh […]

  • Tambahan 1 Juta Dosis Vaksin Sinopharm Untuk Mendukung Kelancaran Program Vaksinasi Gotong Royong, Upaya Antisipasi Pandemi Covid

    Tambahan 1 Juta Dosis Vaksin Sinopharm Untuk Mendukung Kelancaran Program Vaksinasi Gotong Royong, Upaya Antisipasi Pandemi Covid

    • calendar_month Rabu, 16 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 888
    • 0Komentar

    INDONESIA secara resmi kembali menerima sebanyak 1 juta dosis vaksin Sinopharm. Kedatangan ini menambahkan jumlah vaksin Sinopharm yang diterima Indonesia hingga mencapai 2 juta dosis. Vaksin ini akan digunakan untuk memperlancar vaksinasi Gotong Royong. “Diharapkan kedatangan vaksin Sinopharm ini dapat mendukung kelancaran program vaksin Gotong Royong di Indonesia,” Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 mengabarkan saat […]

  • OKI dianugerahi perhargaan perkebunan PSR

    OKI dianugerahi perhargaan perkebunan PSR

    • calendar_month Kamis, 12 Sep 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.691
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (Pemkab OKI) terus mendorong realisasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Hingga September 2024, capaiannya hingga 23.000 hektar, realisasi terluas di Indonesia. Atas kinerja itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia menganugerahi Pemkab OKI dengan Penghargaan Perkebunan 2024 kategori pemerintah daerah yang berkomitmen tinggi terhadap PSR.   Pemerintah […]

expand_less
WordPress Archive Accede – Digital Agency WordPress Theme Accentuate – A Professional Consulting WordPress Theme AccessPress Social Login AccessPress Social Pro Accommodo – Accommodation Travel WordPress Theme Accordion FAQ – WordPress FAQ Plugin Accordion FAQ WordPress Plugin Accordion FAQ WordPress Plugin Responsive Accordion for WPBakery Page Builder (Formerly Visual Composer) Accordionza – jQuery Plugin