Selasa, 20 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Obyek Wisata » “Bali Rasa Sulbar, Ogoh-ogoh & Ngaben Tak Perlu ke Bali, Cukup ke Desa Tommo”

“Bali Rasa Sulbar, Ogoh-ogoh & Ngaben Tak Perlu ke Bali, Cukup ke Desa Tommo”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 27 Agt 2025
  • visibility 879
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BIASANYA orang ke Bali demi lihat Ogoh-ogoh dan upacara Ngaben yang megah, sekarang ceritanya lain, tidak perlu tiket pesawat mahal, tidak perlu jatah cuti habis di jalan, dan tidak perlu pusing mikirin tarif hotel di Kuta yang kadang lebih bikin kering kantong daripada keringat pas lari 5 km. Cukup datang ke Desa Tommo, Mamuju, Sulawesi Barat, dan anda bisa merasakan sensasi Bali rasa Sulbar.

Ya, Desa Tommo ini ibarat sate lilit yang dimakan di pinggir sawah jagung, rasanya tetap Bali, tapi lokasinya di tanah Mandar. Orang bilang, “Tak ada rotan akar pun jadi”. Nah, di sini pepatahnya tak sempat ke Bali, Tommo pun jadi.

Desa Tommo ini bukan sekadar nama yang mirip kayak “Tomo and Jerry”, tapi punya sejarah panjang. Tahun 1983, warga Bali datang ke Sulawesi Barat lewat program transmigrasi. Mereka bawa bibit jagung, semangat kerja keras, dan tentu saja budaya Hindu Bali yang sampai sekarang masih melekat. Hasilnya? Tommo jadi semacam “Bali mini” di tengah perkebunan jagung.

Kalau di Bali orang bikin sesajen di Pura, di Tommo juga ada, kalau di Bali ada Nyepi, di Tommo pun sama, bahkan parade Ogoh-ogoh sehari sebelum Nyepi di sini bukan kaleng-kaleng. Boneka raksasa itu diarak keliling desa sambil bikin bulu kuduk wisatawan merinding sekaligus ngakak, karena bentuknya kadang lebih mirip tokoh sinetron daripada raksasa jahat.

Sementara itu, Ngaben Massal yang berlangsung tiga tahun sekali juga jadi magnet wisata, banyak orang bilang, “Kalau mau lihat Ngaben, ke Bali saja.” Eh, sekarang salah besar, ngaben massal di Desa Tommo bisa jadi alternatif. Jadi, masyarakat Sulbar dan sekitarnya tak perlu jauh-jauh ke Bali hanya untuk ikut menyaksikan prosesi sakral ini. Hemat ongkos, hemat waktu, tapi tetap dapat hikmah budaya.

Yang bikin Desa Tommo makin unik bukan cuma karena budaya Bali-nya yang lestari, tapi karena desa ini juga dihuni Bugis, Mandar, Toraja, Jawa, Sunda pokoknya Indonesia mini. Bayangkan Ogoh-ogoh beriringan dengan musik tradisional Mandar, atau warga Toraja ikut nimbrung menonton Ngaben.

Pepatah bilang dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, di Tommo pepatahnya lebih kreatif dimana jagung ditanam, di situ Ogoh-ogoh diarak. Harmoni ini bukan teori di seminar, tapi nyata di kehidupan sehari-hari. Jadi kalau ada yang bilang Indonesia cuma bisa bersatu pas nonton timnas bola, silakan main ke Tommo. Di sini, persatuan itu bukan jargon, tapi menu harian.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa yang datang ke Tommo langsung ngegas ide desa ini harus jadi Desa Wisata andalan Mamuju. dan memang masuk akal, kalau dikemas dengan paket wisata, Tommo bisa jadi magnet.

Bayangkan brosur wisata “Paket Hemat Bali Rasa Sulbar  Saksikan Ogoh-ogoh & Ngaben, Gratis Jagung Bakar.”

“Liburan Spiritual, meditasi Nyepi di Tommo, Sambil Selfie di Ladang Jagung.”

Lucu? Iya. Menghibur? jelas, tapi dampaknya serius perekonomian warga naik, UMKM jalan, dan Tommo bisa jadi role model desa wisata berbasis komunitas.

Kadang kita terlalu terjebak budaya itu eksklusif, ogoh-ogoh harus di Bali, Reog hanya di Ponorogo, Tor-tor hanya di Batak. Padahal budaya itu seperti air mengalir, bisa hidup di mana saja selama ada yang merawatnya,  dan Desa Tommo adalah buktinya.

Masyarakat Bali di rantau tidak hanya berhasil bertahan hidup, tapi juga membangun ruang harmoni baru, di tengah jagung yang melambai, Ogoh-ogoh tetap gagah, di antara warga Bugis dan Mandar, Ngaben tetap khidmat.

Kalau ada yang bilang budaya hanya bisa berkembang di tanah asal, Desa Tommo bisa dengan santai menjawab “. Nih buktinya, bro,  Bali rasa Sulbar juga bisa”.

Desa Tommo bukan sekadar cerita tentang transmigran, bukan pula sekadar desa jagung. Tommo adalah potret tentang bagaimana budaya bisa melintasi batas, beradaptasi, dan tetap hidup. Ogoh-ogoh dan Ngaben di sini bukan sekadar atraksi wisata, tapi simbol bahwa perbedaan bisa jadi kekuatan.

Jadi, kalau nanti ada yang bertanya, “Mau lihat Ogoh-ogoh di mana selain Bali?” atau “Ngaben Massal di luar Bali ada nggak sih?”, jawab saja ada! di Desa Tommo, Mamuju, Sulawesi Barat. Bali rasa Sulbar, paket lengkap budaya dan wisata, karena pada akhirnya, seperti kata pepatah dagelan tak perlu jauh ke Pulau Dewata, kalau di Sulbar sudah ada surga budaya.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Agar Anak-anak Terhindar dari Penyakit, Kantin Sekolah Perlu di Awasi

    Agar Anak-anak Terhindar dari Penyakit, Kantin Sekolah Perlu di Awasi

    • calendar_month Senin, 29 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 915
    • 0Komentar

        Palembang – Jajanan di Kantin Sekolah kudu di awasi, karena harus steril dan bersih agar terhindar jauh dari penyakit. Berbagai jenis penyakit itu tak pandang bulu, siapa pun bisa diserangnya, dari orang tua hingga ke anak-anak usia dini. Di Kantin sekolah jika jajanan tidak bersih, tentu dampaknya dapat menyerang anak-anak. Oleh sebab itu […]

  • Tim Karhutbunlah Muba Berhasil Padamkan Api di Muara Medak Bayung Lencir

    Tim Karhutbunlah Muba Berhasil Padamkan Api di Muara Medak Bayung Lencir

    • calendar_month Kamis, 15 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.019
    • 0Komentar

    “Adapun kondisi lahan yang sudah terbakar di areal ini diperkirakan sekitar lebih kurang  60 Ha dan kondisi api sudah terkepung di antara blok jalan kebun masyarakat dan mudah-mudahan ke depan angin tidak bertiup kencang lagi,”

  • Launching Gerakan Ayo Naik Angkot,  Menhub- Gubernur Naik Angkot  Bareng

    Launching Gerakan Ayo Naik Angkot, Menhub- Gubernur Naik Angkot  Bareng

    • calendar_month Minggu, 27 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.757
    • 0Komentar

    USAI meresmikan Jembatan Tanjung Lontar di Kecamatan Muarajaya Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Minggu (27/2) siang, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru melanjutkan kegiatan kerjanya  melaunching Gerakan Nasional Ayo Naik Kendaraan Umum. Launching Gerakan Nasional Ayo Naik Kendaraan Umum di Sumsel tersebut diawali dengan menggunakan moda transportasi umum Light Rail Transit  atau  Lintas Rel Terpadu […]

  • Jika Serius Digarap Lahan Rumah Bisa Tekan Pengeluaran & Hasilkan Uang, Salah Satu Buktinya Seperti Dilakukan Emak-emak Warga Kecamatan Muara Jaya, Begini Pengakuannya

    Jika Serius Digarap Lahan Rumah Bisa Tekan Pengeluaran & Hasilkan Uang, Salah Satu Buktinya Seperti Dilakukan Emak-emak Warga Kecamatan Muara Jaya, Begini Pengakuannya

    • calendar_month Senin, 7 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 742
    • 0Komentar

    GERAKAN Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) mendapatkan respon positif dari masyarakat, salah satunya Parnatin, warga Kecamatan Muara Jaya Kabupaten OKU. Saat dibincangi disela-sela kunjungan Gubernur Herman Deru dikawasan itu belum lama ini, ibu rumah tangga ini menyebut memanfaatkan pekarangan rumah untuk memenuhi kebutuhan dapur  sangat tepat dilakoni oleh kalangan ibu rumah tangga. “Pekarangan rumah saya manfaatkan […]

  • Dirut PTBA Raih Penghargaan Anugerah BUMN 2022

    Dirut PTBA Raih Penghargaan Anugerah BUMN 2022

    • calendar_month Jumat, 25 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.993
    • 0Komentar

    DIREKTUR Utama PT Bukit Asam Tbk Arsal Ismail [Arsal] berhasil meraih penghargaan dalam Anugerah BUMN 2022. Dalam ajang yang digawangi  Menteri BUMN pertama Tanri Abeng ini, Arsal meraih kategori CEO Service and Operation Excellent atas keberhasilannya memimpin perusahaan dalam memberikan pelayanan dan operasi terbaik. Perusahaan juga mampu mencetak kinerja yang solid dan memiliki daya saing […]

  • Berlaku Seumur Hidup, Wakil Walikota Palembang Suarakan Ini kepada Generasi Milenium 

    Berlaku Seumur Hidup, Wakil Walikota Palembang Suarakan Ini kepada Generasi Milenium 

    • calendar_month Senin, 22 Okt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.212
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, PALEMBANG – Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda tidak henti-hentinya mengajak warga Palembang untuk melakukan perekaman data e-KTP tersebut khususnya untuk remaja yang baru menginjak usia 17 tahun. Menurutnya Elektronik Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) saat ini sudah berlaku seumur hidup, jadi cukup sekali merekam e-KTP. ”Identitas diri ini sangat penting mengingat semua urusan dari hal […]

expand_less
WordPress Archive Buzz Club – Night Club, DJ & Music Festival Event WordPress Theme Buzz – Personal & Lifestyle WordPress Blog Theme with Dark Mode BWD accordion addon for elementor BWD Attractive Step addon for elementor BWD Count Down addon for elementor BWD creative buttons elementor addon BWD Flip Box addon for elementor BWD Map Masking addon for elementor BWD Pricing Table addon for elementor BWD Social Icon addon for elementor