Senin, 21 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Membedah Prototype Kurikulum Sekolah Rakyat, Dari Papan Tulis ke Dapur Rakyat

Membedah Prototype Kurikulum Sekolah Rakyat, Dari Papan Tulis ke Dapur Rakyat

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 24 Agt 2025
  • visibility 863
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ORANG ngomong kurikulum itu isinya matematika, fisika, bahasa Inggris, ya ujung-ujungnya bikin kepala anak sekolah penuh angka dan rumus. Tapi begitu Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, nyeletuk bahwa Sekolah Rakyat punya “prototype kurikulum” yang bisa jadi model nasional, kuping saya langsung berdiri.

Soalnya, ini bukan sekadar kurikulum biasa, bukan sekadar menghafal nama-nama gunung atau rumus bangun ruang, ini kurikulum kemiskinan. Tapi jangan salah paham dulu, bukan ngajarin cara jadi miskin, tapi cara keluar dari kemiskinan.

Bayangkan, di sekolah biasa murid belajar Pythagoras, hasilnya? Anak bisa hafal sisi miring segitiga, tapi pulang ke rumah bingung cari miringnya tempe di warung.

Nah, di Sekolah Rakyat, pelajaran mungkin lebih relevan cara bikin tempe murah tapi bergizi, cara bikin pupuk cair dari sisa dapur, sampai cara ngitung modal warung dengan kalkulator jadul.

Intinya, ini kurikulum yang lahir dari perut kosong, bukan dari seminar hotel berbintang. Pepatah lama bilang “Kalau perut lapar, otak bisa malas”. Maka Sekolah Rakyat coba bikin jalan tengah, isi dulu perutnya, baru otaknya diajak mikir. Makanya ada paket makan gratis, cek kesehatan, sampai koperasi desa ikut nimbrung.

Cak Imin bilang guru Sekolah Rakyat itu bukan sekadar pengajar, tapi role model pengentasan kemiskinan, kalau biasanya guru dikenal sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, di sini guru malah jadi pahlawan dengan banyak jasa, guru, motivator, konselor, sampai manajer keuangan keluarga.

Jika seandainya  seorang guru matematika yang habis ngajar pecahan, lanjut ngasih tips cara mecah duit seratus ribu biar cukup seminggu. Atau guru biologi yang selain ngajarin fotosintesis, juga ngajarin cara nanam kangkung di ember.

Kira-kira beginilah bentuk laboratorium pendidikan sosial, ada ruang kelas jadi tempat eksperimen hidup, bukan sekadar hafalan.

Oleh karena itu, kalau kurikulum biasanya berhenti di papan tulis, kurikulum Sekolah Rakyat merembes sampai ke dapur rakyat. Anak bukan cuma disuruh bikin makalah tentang gizi, tapi langsung dikasih makan bergizi.

Kalau biasanya orang sekolah dulu baru kerja, di sini murid bisa sambil belajar wirausaha, entah jualan keripik, buka bengkel kecil, atau ikut koperasi desa.

Seperti pepatah Jawa “Ilmu tanpa laku, kaya lampu tanpa sumbu”. Sekolah Rakyat coba kasih sumbu itu belajar langsung dipraktikkan.

Nah, biar nggak bingung, mari kita bedah isi kurikulum ala Sekolah Rakyat ini (tentu versi saya yang agak ngawur tapi serius)

Matematika Perut Rakyat cara ngitung cicilan tanpa bikin kepala mumet, cara nabung receh sampai jadi modal usaha, biologi dapur nanam cabai di pot, ternak lele di ember, bikin pupuk cair organik. Bahasa Masa Depan bukan cuma Inggris, tapi bahasa “jualan online”. Biar anak miskin juga bisa buka toko di marketplace.

Selain itu sejarah rumah tangga belajar dari pengalaman orang tua agar tidak jatuh di lubang kemiskinan yang sama. Koperasi 101, bagaimana gotong royong bisa jadi modal paling murah. Kalau kurikulum ini berhasil, jangan-jangan nanti sekolah elit ikut nyontek. Anak-anak kaya juga butuh belajar cara hidup sederhana, lho.

Tentu saja, ada tantangan besar, jangan sampai kurikulum ini malah jadi formalitas, isinya banyak seminar motivasi tapi kosong praktik. Nanti anak-anak bisa hafal kata-kata bijak, tapi tetap bingung cari kerja.

Lucunya, orang miskin sering jadi objek penelitian, seperti “kelinci percobaan sosial”. Nah, kali ini beda sekolah rakyat bukan eksperimen dingin, tapi eksperimen hangat dengan nasi uduk gratis di meja makan. Kalau berhasil, ini bisa jadi pepatah baru “Pendidikan bukan hanya hak, tapi juga lauk pauk”.

Dari semua obrolan soal kurikulum kemiskinan, saya jadi ingat pepatah lama “Kalau mau menolong orang miskin, beri kail, bukan ikan”, Tapi Sekolah Rakyat justru kasih kail plus kasih ikannya sekalian, biar anak nggak keburu lapar.

Inilah prototype kurikulum yang bukan cuma ngajarin ilmu, tapi ngajarin cara bertahan hidup dengan bermartabat. Bukan sekolah yang memaksa anak miskin bersaing di lomba hafalan rumus, tapi sekolah yang bikin anak miskin bisa bilang, “Aku juga bisa sukses, walau dari nol.”

Pada akhirnya, sekolah rakyat ini ibarat laboratorium pendidikan sosial, kalau berhasil, bisa jadi model nasional. Kalau gagal, ya jadi catatan sejarah seperti banyak proyek lain yang berhenti di papan nama.

Tapi saya mau optimis saja, karena kalau rakyat diberi kesempatan sekolah yang benar-benar relevan dengan hidupnya, itu bukan hanya investasi pendidikan, tapi investasi peradaban.

Seperti pepatah Minang “Alam takambang jadi guru”. Nah, kali ini guru tak hanya alam, tapi juga dapur, koperasi, dan papan tulis. Sekolah Rakyat membuktikan pendidikan itu bukan cuma soal pintar, tapi soal kuat menghadapi hidup.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Galaxy S25 Series, Solusi Gen Z Untuk Ngonten Lebih Mudah Pakai AI

    Galaxy S25 Series, Solusi Gen Z Untuk Ngonten Lebih Mudah Pakai AI

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.382
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Content Creator Anjas Maradita pemerhati AI yang diikuti banyak para Gen Z membagikan cerita tending andalan terbarunya Galaxy S25 Series Tingkatkan kualitas konten kekinianmu pake Galaxy AI Canggih di Galaxy S25 Series   Studi Kantar menemukan 70% populasi internet di Indonesia menggunakan AI untuk mendukung kreativitas, termasuk dalam content creation. Di antara pengguna tersebut, […]

  • Pemprov Sumsel Berharap Ketua LPTQ Bisa Jalankan Amanah

    Pemprov Sumsel Berharap Ketua LPTQ Bisa Jalankan Amanah

    • calendar_month Kamis, 21 Des 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 826
    • 0Komentar

    “Pembangunan di bidang fisik tidak akan ada artinya bila tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang mental,”

  • KUR Perumahan, Dari Pondasi Rumah ke Pondasi Ekonomi Rakyat

    KUR Perumahan, Dari Pondasi Rumah ke Pondasi Ekonomi Rakyat

    • calendar_month Senin, 22 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.041
    • 0Komentar

    ADA pepatah bilang, “rumahku adalah istanaku”. Nah, kalau istana cuma bisa dimiliki raja, rumah subsidi bisa dimiliki rakyat jelata lewat program KUR Perumahan. Jangan salah, dari tembok bata yang tampak sederhana itu bisa lahir perputaran ekonomi yang bikin kepala pengamat ekonomi manggut-manggut, sekaligus bikin pedagang warteg di dekat proyek perumahan ikut tersenyum lebar. Menteri Perumahan […]

  • Kampung Bersinar Bakal Dibangun di Palembang pada Dua Titik Ini

    Kampung Bersinar Bakal Dibangun di Palembang pada Dua Titik Ini

    • calendar_month Jumat, 23 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 893
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Palembang berencana akan membentuk Kampung Anti Narkoba  [Bersih dari Narkoba/bersinar] di titik Kota Palembang. Rencana ini disampaikan langsung Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda usai Rapat di Gedung BAPPEDA Kota Palembang, [23/4/2021]. “Menindaklanjuti penangkapan besar terkait kasus narkoba di daerah Tangga Buntung 11 April lalu, kita berencana akan menjadikan daerah tersebut sebagai kampung Bersinar atau […]

  • Piala Dunia 2026 Menggema di Daerah, Sumsel Ikut Larut Euforia

    Piala Dunia 2026 Menggema di Daerah, Sumsel Ikut Larut Euforia

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 52
    • 0Komentar

    EUFORIA Piala Dunia 2026 pelan-pelan tidak lagi terasa seperti milik kota-kota besar di benua lain, namun  mulai mengalir dan menemukan ruangnya sendiri di daerah-daerah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan (Sumsel). Di Kambang Iwak, Palembang, suasana minggu pagi biasanya di isi dengan langkah santai warga yang berolahraga berubah menjadi ruang dialog yang sarat makna. Di situlah Gubernur […]

  • Santri Ponpes Miliki Kualitas Unggul, Ini Buktinya

    Santri Ponpes Miliki Kualitas Unggul, Ini Buktinya

    • calendar_month Senin, 31 Mei 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 910
    • 0Komentar

    HASIL seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) tahun 2021 diumumkan hari ini, Senin (31/5/2021). Sebanyak 213 peserta dari kalangan pesantren dinyatakan lulus sebagai mahasantri pada 19 Perguruan Tinggi Mitra (PTM) PBSB. “Selamat kepada santri yang lulus seleksi PBSB. Hal ini patut disyukuri mengingat seleksi PBSB sangat ketat. Niatkan untuk kembali berkhidmat kepada pesantren dan bangsa” […]

expand_less
WordPress Archive Eyelook – Sunglasses and Eyewear Store WordPress WooCommerce Theme Ezectric – Electrical Supply Store Elementor Template Kit Ezer – Outdoor & Adventure Equipment Store Elementor Template Kit f8 – NextGen Photography WordPress Theme Fabia – Multipurpose Responsive WooCommerce WordPress Theme Fabiflex – Textile Industry WordPress Theme Fabius – One Page Resume WordPress Theme Fable – Children Kindergarten WordPress Theme Fablio – Textile Industry WordPress Theme + RTL FabPhoto – Photography and Portfolio Template Kit