Minggu, 27 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Telurator, Si Hero Sampah Kampus Selamatkan Udara & Masa Depan Pendidikan

Telurator, Si Hero Sampah Kampus Selamatkan Udara & Masa Depan Pendidikan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
  • visibility 913
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KAMPUS itu dianggap sebagai taman bermain ilmu, Telkom University (Tel-U) baru saja memperkenalkan wahana baru bernama Telurator insinerator canggih karya tim dosen Teknik Fisika yang bisa mengubah sampah menjadi solusi praktis, tapi jangan salah, ini bukan sekadar mainan laboratorium yang seru untuk dicubit-cubit mahasiswa yang bosan skripsi. Telurator ini nyata, turun ke lapangan, dan… lumayan bikin tetangga senyum-senyum sambil menghirup udara yang masih aman (semoga begitu).

Dalam dunia pendidikan tinggi, sering kita dengar jargon “kampus harus berdampak”, “riset harus hilirisasinya”, dan “inovasi harus menyentuh masyarakat”. Kalau cuma sekadar cetak sertifikat, tentu bisa dibilang efeknya cuma, seperti kertas tisu di angin terbang, hilang, dan tidak ada yang basah.

Telurator menantang semua stereotip itu, coba misalnya dari lab berpendingin AC, asap riset ini langsung mendarat di TPS Desa Tarumajaya, Bandung, mengubah tumpukan sampah yang biasanya bikin monyong warga mengerut menjadi proses daur ulang yang… lumayan bikin ngakak.

Adegan ini misalnya juga lakonnya mahasiswa Tel-U, mengenakan jas lab putih serba rapi, memegang tombol besar berlabel “ON”, sementara bapak-bapak petugas TPS cuma menatap sambil menggaruk kepala. “Ini tombol untuk apa, Nak? Kalau salah pencet, kebakaran desa nggak, ya?” tanyanya dengan nada setengah serius setengah lucu. Inilah realitas di lapangan kampus berinovasi, masyarakat menunggu hasilnya, dan udara harus tetap aman.

Kuncinya ada pada lingkungan dan keberlanjutan, yang sering terlewat di berita mainstream. Telurator dirancang hemat bahan bakar, hanya 1 liter per jam. Sudah lolos uji emisi, artinya warga nggak perlu memakai masker ekstra tebal ketika nasi goreng terbakar di samping TPS. Tapi, seperti pepatah lama bilang “Biar bagai emas di tangan, kalau salah tempat tetap jadi abu”. Betul, teknologi sehebat apa pun tetap harus ditempatkan dengan bijak.

Di sinilah letak pencerahannya, pendidikan tinggi bukan hanya soal mengajarkan mahasiswa cara menghitung integral atau membuat robot yang bisa menari TikTok.

Lebih dari itu, kampus harus mendidik SDM yang gigih, pantang menyerah, dan peduli lingkungan. Telurator jadi guru tambahan mengajarkan bahwa inovasi harus membawa manfaat nyata, bukan cuma untuk eksis di media sosial kampus.

Kalau kita pakai perumpamaan, kampus itu seperti kebun, mahasiswa adalah bibitnya, dosen adalah tukang kebunnya, dan masyarakat adalah tanah tempat bibit itu tumbuh. Kalau bibit ditanam asal-asalan, jangan harap akan tumbuh pohon yang berbuah manis. Tapi kalau dirawat dengan riset dan praktik nyata, misalnya Telurator bibit ini bisa menghasilkan buah yang tidak hanya lezat di lidah, tapi juga bermanfaat bagi udara dan kesehatan sekitar.

Selain itu, Telurator juga mengajarkan satu hal yang kerap dilupakan humor dalam pendidikan, saat alat ini diuji coba, banyak momen lucu yang terjadi. Mahasiswa serius mencatat konsumsi bahan bakar, petugas TPS kaget melihat sampah “ngegas” sendiri, dan tetangga desa mengira ada pertunjukan sulap. Humor seperti ini bukan sekadar hiburan, tapi menjadi media pembelajaran. “Belajar itu nggak harus selalu serius. Kadang tertawa juga bagian dari pendidikan,” begitu kira-kira pesannya.

Pesan moral lainnya cukup sederhana tapi tajam, inovasi tanpa implementasi nyata sama saja dengan buku tebal yang berdebu di rak perpustakaan.

Di sinilah Tel-U dan Telurator memberi contoh riset turun ke masyarakat, memberi manfaat langsung, dan mendidik mahasiswa sekaligus mengedukasi warga. Diktisaintek Berdampak bukan sekadar slogan, tapi nyata, berasap tapi tetap ramah lingkungan, dan yang terpenting bisa bikin ngakak.

Jadi dari cerita di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, pertama, pendidikan tinggi harus menghasilkan SDM kreatif yang berpikir luas, tapi tetap memikirkan bumi dan masyarakat, kedua, inovasi harus turun ke lapangan dan diuji realitasnya, bukan cuma eksis di jurnal ilmiah atau foto Instagram kampus, ketiga, humor dan storytelling bisa jadi alat edukasi yang powerful, karena manusia belajar paling cepat saat dia tertawa sambil memahami konteks nyata.

Telurator bukan cuma hero sampah, tapi simbol bagaimana pendidikan tinggi bisa mengubah teori menjadi praktik, laboratorium menjadi lapangan, dan riset menjadi solusi nyata.

Kampus yang hebat bukan cuma yang punya gedung megah atau laboratorium canggih, tapi yang menghasilkan dampak nyata untuk masyarakat, lingkungan, dan generasi masa depan.

Jadi, saat kita membaca berita formal tentang Menteri Brian Yuliarto yang memuji Tel-U dan Telurator, jangan cuma angguk-angguk. Bayangkan mahasiswa bercelana kotor, dosen serius memegang tombol, dan sampah yang perlahan-lahan berubah menjadi peluang.

Di situlah pencerahan edukatif sejati belajar itu nggak melulu serius, tapi manfaatnya bisa serius untuk bumi dan generasi berikutnya.

Oleh karena itu, tegakkan prinsip sederhana tapi penting, yakni “Ilmu tanpa praktik adalah hampa, dan praktik tanpa kepedulian adalah sia-sia”. Telurator, dengan segala humor, asap, dan teknologi cerdasnya, sudah membuktikan hal itu.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saking Semangatnya Emak-emak Pingin Lihat Anak Bertanding Nekat Panjat Pagar Stadion,Ada Rasa Kecewa Juga Ngakunya Karena Nggak Bisa Masuk

    Saking Semangatnya Emak-emak Pingin Lihat Anak Bertanding Nekat Panjat Pagar Stadion,Ada Rasa Kecewa Juga Ngakunya Karena Nggak Bisa Masuk

    • calendar_month Senin, 25 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.424
    • 0Komentar

    KARENA kecewa tidak bisa masuk kedalam stadion Sekundang Bara untuk menyaksikan anaknya bertanding, seorang emak emak nekat memanjat pagar pembatas agar bisa masuk kedalam Stadion. Bukan hanya dirinya, sang suami dan anak lainnya juga ikut memanjat dan masuk melalui pagar pembatas yang rusak. Dari pantauan dilapangan, samg ibu yang sudah datang sejak pgi untuk menyksikan […]

  • Mengharukan, PRT Delapan Tahun Tanpa Digaji, Ini Terjadi di Malaysia

    Mengharukan, PRT Delapan Tahun Tanpa Digaji, Ini Terjadi di Malaysia

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 753
    • 0Komentar

    Sangat Mengharukan

  • Sinergi Pertamina dengan Pemda, Optimalkan Aset Demi Kepentingan Masyarakat

    Sinergi Pertamina dengan Pemda, Optimalkan Aset Demi Kepentingan Masyarakat

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.506
    • 0Komentar

    BULAN Juli lalu, Direktur Utama PT Pertamina [Persero] Nicke Widyawati menyempatkan diri mengunjungi Lapangan Golf Kenten  Palembang  yang terletak di Jalan AKBP Chek Agus No.23, Kelurahan 8 Ilir, Kenten, Palembang. Mungkin baru kali pertama, ia menginjakan kakinya di Lapangan Golf yang kononnya telah ada sejak tahun 1926 di era Kolonial, dan dikelola Perusahaan minyak Stanvac […]

  • Lepasliar Ratusan Kepiting Bakau

    Lepasliar Ratusan Kepiting Bakau

    • calendar_month Senin, 23 Jan 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.011
    • 0Komentar

        Sumselterkini.co.id, Jakarta- Sebanyak 803 ekor kepiting bakau (Scylla spp) dilepasliar di Lepasliar Ratusan Kepiting Bakau Lepasliar Ratusan Kepiting Bakau Kawasan Ekowisata Mangrove, Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.   Kepiting itu merupakan hasil sitaan Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (Balai Besar KIPM) Jakarta I.   “Pelepasliaran ini tindaklanjut pelaksanaan Peraturan […]

  • Tim Sekretariat Wapres Monitoring Persiapan Asian Games

    Tim Sekretariat Wapres Monitoring Persiapan Asian Games

    • calendar_month Kamis, 1 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 829
    • 0Komentar

    Asian Games Palembang tidak hanya sukses penyelenggaraan juga sukses peningkatkan kunjungan wisata.

  • Penderita Tumor di Muba Peroleh Bantuan Dana dari Kitabisa.com

    Penderita Tumor di Muba Peroleh Bantuan Dana dari Kitabisa.com

    • calendar_month Sabtu, 27 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 842
    • 0Komentar

    Sekayu – M Yunus ayah, Siti Amrina, penderita tumor [Hemangioma Limpangioma] sangat terharu ketika mendapat bantuan dana yang digalang melalui kitabisa.com sebesar Rp19.700.000. “Terima kasih kepada seluruh penggiat media sosial yang telah membantu membagikan link donasi, sehingga bisa dijangkau lebih banyak orang dan mari kita selalu doakan untuk kesembuhan Siti Amrina,” Yunus pun mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Muba […]

expand_less
WordPress Archive WooCommerce Product Enquiry Form WooCommerce Product Enquiry & WooCommerce Request A Quote Plugin WooCommerce Product Featured Video Content Plugin WooCommerce Product Filter WooCommerce Product Finder WooCommerce Product Grid Builder WooCommerce Product Image Accordion Addon For Elementor WooCommerce Product Keyword Suggest WooCommerce Product Licenser- Elite Licenser Pro Addon WooCommerce Product List Advanced