DI DUNIA ini, ada dua jenis manusia, pertama mau tahu, yang rela muter tujuh keliling demi cari parkir resmi… dan yang kedua, yakni asal ngegas, parkir di depan gang, sambil nyumpahin Satpol PP dari jauh.
Di antara dua jenis manusia ini, berdirilah sosok yang tak banyak bicara, tapi selalu siaga, satpam ? bukan!, bukan juga CCTV. Tapi tukang parkir, makhluk jalanan yang satu ini tak tercatat di kependudukan, tapi dikenal luas sampai ke pelosok minimarket.
Namanya Pak Salim.
Pekerjaannya, meniup peluit.
Misinya, menjaga harmoni motor-motor yang egois.
Mimpinya setinggi langit mau beli rumah tanpa DP, cukup dari uang parkir dan keyakinan.
Tiap hari, Pak Salim duduk di bangku plastik dengan kemiringan 17 derajat, strategis di depan warung kopi, di antara gorengan dan spanduk rokok. Ia bukan sekadar juru parkir, tapi filsuf jalanan, pemikir bebas dengan peluit sebagai pena, dan sandal jepit sebagai alas peradaban.
Filosofi Hidup Parkiran katanya “Kalau kau hidup tanpa arah, kayak motor parkir miring, bakal disenggol orang juga,” kata Pak Salim sambil menyeruput kopi hitam yang udah lebih gula dari biji.
Buat Pak Salim, hidup adalah parkiran besar, kadang kita datang duluan, tapi disalip motor ninja yang nekat parkir depan pintu. Kadang kita udah bayar 2 ribu, tapi dituduh belum. Dunia ini memang tak adil, apalagi kalau parkir di pasar.
Tapi ada juga sisi gelap dunia parkir apa itu ? Tentu tak semua parkir itu damai. Ada juga yang parkir liar bukan motornya, tapi manusianya.
Pernah suatu hari, Pak Salim berseteru dengan seorang pemuda berjaket tebal di siang bolong.
“Bang, ini bukan tempat parkir!” serunya.
“Tapi Bang, abang juga bukan pemilik toko…”
“Lah terus, kau pikir aku siapa? Aku penjaga keseimbangan!”
Mereka adu argumen, saling sodok spion, sampai akhirnya diselesaikan dengan solusi lokal, dibelikan dua teh gelas dan satu gorengan, damai di mulut, meski parkiran tetap semrawut.
Namun uang receh itu tetap menjadi asa besar
Jangan anggap remeh 2 ribu rupiah.
Bagi sebagian orang, itu sisa kembalian.
Bagi Pak Salim, itu jaminan kepercayaan publik.
Dengan 2 ribu dari 100 motor sehari, dia bisa bawa pulang harapan dan sedikit tisu basah.
Hidup ini kadang seperti parkir paralel.
Sempit, penuh tantangan, dan rawan diserempet.
Tapi kalau kau sabar, dan pelan-pelan memosisikan diri…
kau tetap bisa masuk dengan elegan, tanpa bikin yang lain ribut.
Parkirlah hidupmu dengan baik.
Jangan asal berhenti.
Dan ingat! Selalu sediakan uang receh, sebab kadang, keikhlasan itu tarifnya tetap.[***]
Catatan redaksi : cerita fiksi ini bagian dari rubrik “Pinggir Jalan”, kisah-kisah ringan yang mengangkat sosok sederhana di sekitar kita. Lewat tokoh fiktif seperti Pak Salim, tukang parkir dengan filosofi hidupnya, kita diajak melihat bahwa hidup sehari-hari pun menyimpan makna—kadang lucu, kadang getir, tapi selalu mengajarkan sesuatu.