Sudah Dapat Buyer Luar Negeri, Belum Tentu Siap Ekspor, Bea Cukai Ungkap 3 Bekal Penting untuk UMKM
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 13 menit yang lalu
- visibility 4
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : beacukai.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Mendapat buyer dari luar negeri tentu menjadi kabar baik bagi pelaku UMKM. Namun, menemukan pembeli internasional baru merupakan awal. Agar peluang tersebut benar-benar berubah menjadi transaksi ekspor, pelaku usaha masih perlu menyiapkan sejumlah hal, mulai dari prosedur dan dokumen hingga pembiayaan serta cara menjaga komunikasi dengan buyer.
Bea Cukai mengingatkan pentingnya kesiapan tersebut melalui rangkaian pembinaan ekspor yang digelar Bea Cukai Cikarang dan Bea Cukai Malang pada Juli 2026.
Dari kegiatan tersebut, setidaknya ada tiga bekal penting yang perlu diperhatikan UMKM sebelum dan ketika mulai masuk pasar ekspor.
1. Pahami Prosedur dan Dokumen Ekspor
Hal pertama yang tidak bisa dilewatkan adalah memahami bagaimana proses ekspor berjalan.
Dalam Pembinaan Pelaku Usaha Ekspor bertema “Bagaimana Memulai Ekspor” yang digelar Bea Cukai Cikarang bersama Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi pada 23 Juli 2026, pelaku usaha mendapatkan penjelasan mengenai tahapan memulai ekspor, persiapan dokumen, pemenuhan ketentuan kepabeanan, hingga fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing produk.
Pemahaman tersebut penting karena ekspor tidak berhenti pada kesepakatan antara penjual dan buyer. Barang yang akan dikirim ke luar negeri tetap harus mengikuti ketentuan kepabeanan dan persyaratan yang berlaku.
Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai I Bea Cukai Cikarang, Ro’yat, mengatakan UMKM memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global selama mampu memahami prosedur ekspor dan menjaga kualitas produknya.
“Kami berharap semakin banyak UMKM di Kabupaten Bekasi yang berani memanfaatkan peluang ekspor. Bea Cukai siap menjadi mitra yang memberikan edukasi dan pendampingan agar proses ekspor dapat berjalan sesuai ketentuan serta memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha,” ujarnya.
2. Siapkan Modal Saat Pesanan Mulai Membesar
Bekal kedua berkaitan dengan kemampuan UMKM memenuhi pesanan.
Ada kondisi ketika buyer sudah ditemukan dan permintaan mulai masuk, tetapi kapasitas produksi belum mampu mengimbangi jumlah pesanan. Pada titik inilah pembiayaan menjadi bagian penting dari kesiapan ekspor.
Persoalan tersebut dibahas dalam Ngopi Ekspor (Ngobrol Pintar, Ngobrol Inspirasi Ekspor) edisi Juli yang digelar Bea Cukai Malang pada 29 Juli 2026.
Pimpinan BRI KCP Tlogomas Malang, Deana Yanurinsyah, menjelaskan sejumlah alternatif pembiayaan yang dapat dimanfaatkan UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi permintaan pasar ekspor.
Selain modal kerja, pelaku usaha juga perlu memahami mekanisme pembayaran dalam perdagangan internasional. Salah satu instrumen yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah Letter of Credit (L/C).
L/C dapat digunakan sebagai instrumen pembayaran dalam transaksi internasional dan memberikan mekanisme yang lebih terstruktur bagi eksportir maupun importir. Bagi UMKM yang mulai berhadapan dengan buyer luar negeri, pemahaman mengenai metode pembayaran menjadi penting agar kesepakatan bisnis tidak hanya menarik di atas kertas, tetapi juga memiliki mekanisme transaksi yang jelas.
3. Jangan Hanya Cari Buyer, Pelajari Karakternya
Bekal ketiga justru berada di sisi hubungan bisnis.
Mendapat kontak atau permintaan dari buyer internasional belum menjamin kerja sama akan berjalan panjang. Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan buyer, cara berkomunikasi yang tepat, serta menjaga kepercayaan setelah komunikasi bisnis dimulai.
Hal tersebut disampaikan Pimpinan Madani Export Academy, Yuli Andayani, dalam Ngopi Ekspor Bea Cukai Malang.
Menurutnya, pelaku usaha perlu memahami karakter buyer internasional, memberikan respons secara tepat, menjaga komunikasi tetap konsisten, dan membangun hubungan jangka panjang.
Artinya, kemampuan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk. Cara UMKM merespons pertanyaan, memahami kebutuhan pembeli, memenuhi kesepakatan, dan mempertahankan komunikasi juga dapat menentukan keberlanjutan hubungan bisnis.
Bagi pelaku UMKM, bagian ini sering kali sama pentingnya dengan mencari buyer itu sendiri. Sebab, satu transaksi yang berhasil belum tentu menjadi pasar berulang jika hubungan dengan pembeli tidak dikelola dengan baik.
Ekspor Bukan Cuma Temukan Pembeli
Rangkaian pembinaan di Kabupaten Bekasi dan Malang memperlihatkan bahwa tantangan UMKM untuk masuk pasar global cukup berlapis.
Produk yang berkualitas tetap menjadi modal utama. Namun, setelah buyer ditemukan, pelaku usaha masih harus memastikan prosedur ekspor dipahami, dokumen dan ketentuan kepabeanan dipenuhi, kapasitas produksi siap, pembiayaan tersedia, serta mekanisme pembayaran dan komunikasi dengan buyer dapat dikelola.
Karena itu, kesiapan ekspor sebaiknya dibangun sebelum pesanan besar datang. Dengan memahami proses dari awal, UMKM tidak hanya memiliki peluang mendapatkan buyer internasional, tetapi juga lebih siap ketika peluang tersebut benar-benar berubah menjadi transaksi.
Melalui edukasi dan pendampingan tersebut, Bea Cukai mendorong semakin banyak UMKM berani memanfaatkan pasar ekspor sekaligus memahami bahwa menembus pasar global bukan hanya soal menjual produk ke luar negeri, melainkan membangun bisnis yang siap memenuhi tuntutan perdagangan internasional. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
