PALEMBANG lagi panasin mesin, tapi bukan mesin mobil, melainkan mesin pembangunan. Pak Gubernurnya Herman Deru (HD) ketemu Walikota Ratu Dewa di Rumah Kayu Taman Kenten.
Mereka membawa gerbongnya dan duduk bareng sembari ngopi-ngopi dan ngeteh, ngobrolannya santai, namun jangan salah, obrolan santai itu bikin otak dua pemimpin ini berputar kayak blender.
Hasilnya juga bukan jus jeruk, melainkan 18 rencana strategis buat bikin kota lebih kece dan tertata, katanya!
Ratu Dewa datang bawa “jurus rahasia” Sekolah Rakyat di Karya Jaya, pelebaran Jalan Prameswara, gedung parkir di Pulau Mas, pedestrian di Kolonel Atmo… semuanya pakai tanda tangan lampu hijau dari HD.
Bahkan seadainya semua jalan, trotoar, dan sekolah, maka warga bisa jalan santai, anak sekolah nggak terjebak macet, dan parkir nggak berebut kayak rebutan lemper di pasar pagi.
Yang bikin seru, Pak HD nggak cuma angguk-angguk kayak patung, beliau bilang, “Kalau cuma wacana, nggak ada gunanya. Tapi kalau cepat dan tepat, baru kelihatan hasilnya.” Ini intinya kolaborasi itu kuncinya.
Pemprov punya kekuatan, Pemkot punya tenaga eksekusi. Kalau nggak nyambung, proyek jalan lingkar bisa nyasar ke kubangan banjir, trotoar cantik jadi lintasan motor liar.
Di balik seriusnya rencana, ada sisi lucu yang bikin senyum sebab dua pejabat tinggi serius ngobrol sambil coba mikir seandanya Palembang tanpa macet, trotoar yang nggak dimasukin motor, pedagang kaki lima dan parkir yang nggak rebutan.
Kayaknya gampang, tapi kalau nggak sinkron? Bisa jadi adegan komedi, jalan baru, tapi banjir masih ngeroyok sepatu warga, trotoar baru, tapi motor tetep gaspol.
Pelajaran pentingnya jelas, pembangunan itu maraton, bukan sprint. Harus ada sinkronisasi, komunikasi, dan sedikit humor supaya semua pihak nggak stres. Kalau Pemprov dan Pemkot bisa nyambung, warga merasakan manfaat nyata, kota lebih aman, nyaman, dan ramah.
Tantangan
Meski demikian tantangan juga tetap ada, sinkronisasi itu gampang diomongkan, tapi praktiknya butuh disiplin. Ngopi bareng sambil serius itu salah satu cara biar masalah berat terasa lebih ringan.
Dengan cara itu, ide 18 poin strategis nggak cuma jadi wacana di atas kertas, tapi bakal terealisasi. Oleh sebab itu, perlu juga merefleksi diri bukan saja pemerintahnya tapi warganya juga, apakah kita siap menyambut kota baru? jalan lebar, trotoar cantik, sekolah rakyat, parkir tertata…
Kedengarannya memang sederhana, tapi kalau dijalankan dengan konsisten, kota bakal terasa lebih hidup. Jadi mendengar, sinkronkan, eksekusi baru terlihat hasilnya.
Jadi, kalau nanti kalian jalan kaki santai sambil foto-foto di Kolonel Atmo, atau parkir tanpa rebutan di Pulau Mas, inget deh itu semua bukan sulap, tapi buah dari kolaborasi cepat dan tanggap.
Dan kalau suatu hari Palembang jadi kota modern yang tertata rapi, kita bisa bilang, “Ternyata ngopi bareng pejabat itu juga bisa bikin kota kece.”
Sinkronisasi cepat Pemprov-Pemkot Palembang harapannya bukan cuma jargon, namun jadi kunci supaya janji pembangunan berubah jadi aksi nyata.
Oleh sebab itu, jika dua mesin besar ini jalan bareng, Palembang nggak cuma makin cantik, tapi warganya juga makin sejahtera. Dan pelajaran moralnya jelas, kolaborasi itu bikin semua lebih ringan, cepat, dan tepat sasaran. (***)