PALEMBANG bukan sekadar ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, kota ini adalah wajah daerah, apa yang terlihat di Palembang, itulah yang sering dinilai orang tentang Sumsel secara keseluruhan.
Pernyataan Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Cik Ujang, soal Palembang sebagai ‘wajah Sumsel’ bukan sekadar ungkapan simbolik, itu adalah realitas, kota ini menjadi pintu masuk utama baik secara pemerintahan, ekonomi, maupun persepsi publik.
Di sisi lain, Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah provinsi untuk mempercepat pembangunan kota. Menurutnya, dukungan dari Pemprov menjadi faktor penting agar program pembangunan berjalan lebih maksimal.
Pertanyaannya kemudian, apakah wajah itu sudah benar-benar mencerminkan Sumatera Selatan?
Ada beberapa indikator yang bisa dilihat.
Pertama, infrastruktur. Palembang relatif lebih maju dibanding daerah lain di Sumsel. Jalan utama, jembatan, hingga transportasi seperti LRT menjadi nilai lebih. Ini memberi kesan Sumsel adalah provinsi yang berkembang dan modern.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya merata. Di sejumlah kawasan, masih ditemukan persoalan seperti jalan rusak, drainase yang belum optimal, dan penataan wilayah yang belum rapi.
Artinya, wajah itu belum sepenuhnya bersih.
Kedua, pelayanan publik. Sebagai ibu kota provinsi, Palembang menjadi rujukan dalam pelayanan administrasi. Jika pelayanan berjalan cepat dan transparan, maka citra Sumsel ikut meningkat.
Upaya digitalisasi sudah berjalan, namun di lapangan masih ditemukan kendala teknis dan koordinasi. Ini menunjukkan perbaikan masih terus diperlukan.
Ketiga, event dan daya tarik kota. Palembang cukup aktif menggelar berbagai kegiatan, mulai dari olahraga, budaya, hingga keagamaan. Pengalaman menjadi tuan rumah event besar menjadi modal penting dalam membangun citra daerah.
Namun tantangan utamanya adalah konsistensi. Kegiatan tidak cukup hanya ramai di waktu tertentu, tetapi perlu berkelanjutan.
Keempat, kondisi sosial. Palembang dikenal relatif kondusif.
Stabilitas ini menjadi nilai tambah karena ikut membentuk persepsi bahwa Sumatera Selatan adalah daerah yang aman dan nyaman.
Dalam konteks ini, Palembang sudah cukup mencerminkan wajah Sumsel dari sisi sosial.
Lalu di mana peran hubungan antara pemerintah provinsi dan kota?
Sinergi menjadi kunci. Program yang dijalankan Pemkot Palembang membutuhkan dukungan Pemprov Sumsel, terutama untuk kebijakan strategis yang berdampak luas.
Sebaliknya, keberhasilan provinsi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu kota.
Momentum seperti safari Ramadan menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi tersebut. Bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bagian dari menjaga keselarasan arah pembangunan.
Karena jika Palembang sebagai wajah tidak terkelola dengan baik, dampaknya bukan hanya dirasakan di tingkat kota, tetapi juga memengaruhi citra Sumatera Selatan.
Sebaliknya, jika kota ini mampu berkembang secara merata dan pelayanan terus ditingkatkan, maka citra provinsi ikut terangkat.
Kesimpulannya, status sebagai “wajah” bukan hanya soal posisi, tetapi juga tanggung jawab.
Palembang memiliki modal kuat, mulai dari infrastruktur, pengalaman event besar, hingga kondisi sosial yang stabil. Namun, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas layanan publik.
Jika hal tersebut dilakukan secara konsisten, maka Palembang tidak hanya menjadi wajah Sumsel, tetapi juga benar-benar mencerminkan kondisi daerah secara utuh. (***)