BIASANYA tamu datang bawa buah tangan, kali ini yang dibawa bukan sembarang buah, di Sentra Budi Perkasa, Palembang, Jumat siang yang terik itu, tamunya datang bawa harapan dalam bentuk kursi roda, walker, baby stroller, sampai pantun yang bikin senyum-senyum sendiri.
Jangan salah, ini bukan kegiatan amal biasa yang penuh basa-basi dan formalitas level galaksi. Ini adalah potongan kisah kecil, tentang bagaimana satu tangan yang memberi bisa membangkitkan puluhan tangan untuk bangkit, dan semuanya terjadi di sebuah tempat yang tidak masuk trending topic, tapi sangat layak mendapat spotlight Sentra Budi Perkasa Sukarami, Palembang.
Di pojok aula Sentra, duduklah Amel, 17 tahun, wajahnya mungil, tubuhnya kecil, seperti tokoh kartun Jepang yang belum tamat SMP. Tapi Amel bukan karakter animasi. Ia gadis nyata yang mengidap Seckel Syndrome, kelainan genetik langka yang membuat tubuhnya tak tumbuh seperti remaja seusianya.
Amel tidak meminta dunia untuk berubah, ia hanya ingin ibunya bisa menjahit kembali membantu ekonomi keluarga tanpa harus berkeliling bawa meteran kain sambil bawa hati yang kian lelah, dan harapan itu dijawab melalui alat jahit yang datang tak pakai surat undangan, tapi membawa kabar baik “Bu, ini bantuan dari negara”
Kursi roda, prostesis, baby walker, alat bantu jalan, semua dibagikan dengan tangan yang tak hanya memberi, tapi juga menepuk bahu dan berkata, “Semoga ini jadi langkah pertama menuju hidup yang lebih layak”
Yang membawa semangat itu adalah Fatma Saifullah Yusuf, Penasehat I Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, bersama ibu-ibu dari DWP yang tidak datang buat arisan atau nyari diskon kosmetik, mereka datang dengan niat tulus berbagi Rp77.241.000 bentuknya, tapi nilainya jauh lebih dari sekadar angka.
Fatma datang tidak seperti pejabat yang sering kita lihat di meme datang, potong pita, lalu hilang seperti sinyal di dalam lift.
Ia datang menyapa, menari bersama anak-anak SRMA 7 Palembang, dan bahkan menyelipkan wejangan yang lebih kuat dari motivator di YouTube. “Belajar yang rajin, jangan sia-siakan sekolah ini, jangan lupa doakan orangtua, guru, dan juga Presiden Prabowo,” kata Fatma.
Lantas, seperti nenek-nenek bijak yang lulus dari fakultas humor, ia tutup sambutan dengan pantun. Ya, pantun, saudara-saudara!, bukan demi lucu-lucuan, tapi karena kadang nasihat yang dibalut rima lebih mudah sampai ke hati daripada makalah setebal skripsi.
Masak sayur enaknya ditumis,
Kalau makan jangan sendirian.
Ibu-ibu Dharma Wanita harus dinamis,
Selalu semangat dalam pengabdian.
Anak-anak di SRMA 7 Palembang bukan berasal dari keluarga yang punya rumah dengan dua garasi. Mereka berasal dari latar belakang yang sering kali diabaikan dalam rapat-rapat pembangunan keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Seperti kata pepatah lama “Bukan tempatmu berasal yang menentukan, tapi ke mana kamu melangkah”
Di sekolah ini, langkah itu dimulai dari tarian kecil anak-anak yang katanya baru latihan dua minggu, tapi berhasil membuat Fatma terpukau.
Tidak perlu panggung megah, hanya butuh semangat dan ruang untuk mereka bisa menunjukkan bahwa kemiskinan bukan akhir, tapi awal dari cerita hebat. Tangan yang memberi, kata yang menyembuhkan
Dari semua kisah yang muncul dari kunjungan ini, satu hal jadi pelajaran penting, bantuan sosial bukan cuma soal angka, tapi soal rasa.
Kadang, satu kursi roda bisa lebih bernilai dari satu juta kata motivasi, kadang, satu alat jahit bisa menyelamatkan harga diri seorang ibu, kadang, satu pantun bisa menguatkan semangat anak-anak yang selama ini hanya melihat hidup dari balik dinding sempit.
Sejatinya, tangan yang memberi bukan hanya memperpanjang hidup orang lain, tapi memperpanjang harapan yang mungkin nyaris padam.
Kita akhiri dengan gaya Fatma, karena hidup sudah cukup serius tanpa perlu kita tambah beban pikiran, dan seperti kata orang bijak. “Jika kau tak bisa menjadi sinar mentari, jadilah pantun pagi hari”
Kalau ke Palembang jangan lupa beli pempek,
Bawa pulang juga senyum Amel yang lebar.
Dunia ini tak butuh superhero berepek,
Cukup jadi manusia yang tahu cara berbagi sabar.[***]
Tulisan ini bukan sekadar reportase. Ia adalah surat kecil untuk mengingatkan: bahwa di dunia yang penuh suara gaduh, masih ada langkah-langkah diam yang menyembuhkan. Dan kadang, semua dimulai dari sekadar sehelai kain, seunit kursi roda, dan sebaris pantun.