Kenapa Ada Orang Berkali-kali Dapat Bantuan Sosial? Ini Penyebab dan Solusinya
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 16 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/Kemenag.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Bantuan sosial menjadi salah satu program penting untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, namun di tengah penyalurannya, masih sering muncul pertanyaan di masyarakat, kenapa ada orang yang berkali-kali dapat bantuan sosial, sementara warga lain yang kondisi ekonominya juga sulit belum pernah menerima bantuan?
Pertanyaan tersebut kerap muncul setiap kali bantuan sosial disalurkan, baik melalui program pemerintah maupun lembaga sosial lainnya, sebagian warga merasa heran ketika melihat nama yang sama kembali muncul sebagai penerima bantuan, sementara ada keluarga lain yang merasa belum pernah tersentuh program apa pun.
Situasi seperti ini kemudian muncul anggapan bantuan belum sepenuhnya tepat sasaran, ada yang mempertanyakan proses pendataan, dan ada pula yang merasa bantuan belum menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Namun, persoalannya tidak selalu sesederhana itu, sebab beberapa kasus, penyebabnya bukan karena bantuan hanya diberikan kepada orang tertentu, tantangan terbesar justru berada pada data penerima bantuan yang belum sepenuhnya terhubung antarprogram.
Ketika Data Penerima Bantuan Belum Terintegrasi
Indonesia memiliki banyak program bantuan yang berasal dari berbagai lembaga. Ada bantuan sosial dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga bantuan yang disalurkan oleh lembaga zakat, yayasan, dan organisasi sosial lainnya sementara semua lembaga tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu masyarakat yang membutuhkan.
Tetapi, setiap lembaga bisa saja memiliki sistem pendataan sendiri, ketika data tersebut belum saling terhubung, peluang terjadinya penerima bantuan ganda menjadi lebih besar, sedangkan seseorang yang sudah menerima bantuan dari satu program bisa saja kembali tercatat dalam program lain karena lembaga berbeda tidak memiliki informasi yang sama.
Dibagian lainnya, masih ada masyarakat yang sebenarnya membutuhkan bantuan, tetapi belum masuk dalam daftar penerima. Bukan karena mereka tidak layak, melainkan karena kondisi mereka belum teridentifikasi dalam sistem pendataan.
Persoalan inilah yang membuat data menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan sosial benar-benar tepat sasaran.
Bantuan Sosial Bukan Hanya Soal Anggaran
Selama ini, pembahasan mengenai bantuan sering kali berfokus pada jumlah anggaran yang disediakan. Padahal, keberhasilan sebuah program bantuan tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang tersedia.
Hal ini tidak kalah penting adalah memastikan bantuan tersebut sampai kepada orang yang tepat, pasalnya data yang akurat dapat membantu lembaga penyalur memahami kondisi penerima secara lebih lengkap. Tidak hanya nama dan alamat, tetapi juga kondisi sosial ekonomi serta riwayat bantuan yang pernah diterima.
Dengan informasi yang lebih baik ini, tentunya bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan, karena ada masyarakat yang membutuhkan bantuan pangan, ada yang memerlukan dukungan pendidikan, kesehatan, atau bahkan pemberdayaan ekonomi agar bisa lebih mandiri.
Mengapa Zakat Juga Membutuhkan Data yang Akurat?
Persoalan pendataan tidak hanya terjadi dalam program bantuan pemerintah. Pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya juga menghadapi tantangan yang sama. Di Indonesia, banyak lembaga menyalurkan dana umat kepada masyarakat membutuhkan, misalnya dimulai dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) hingga berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ).
Oleh sebab itu, peran lembaga-lembaga tersebut sebenarnya sangat penting, terutama dalam membantu masyarakat melalui berbagai program sosial. Namun, agar manfaat dana umat semakin luas, diperlukan data yang lebih lengkap mengenai siapa yang sudah menerima bantuan dan siapa yang masih membutuhkan dukungan. Tujuannya bukan hanya menghindari bantuan yang berulang, tetapi juga memastikan semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat.
Satu Data ZIS-DSKL untuk Mendorong Bantuan Lebih Tepat Sasaran
Salah satu langkah dilakukan pemerintah adalah mengembangkan Satu Data Zakat, Infak, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya (ZIS-DSKL), sistem ini dibangun guna mengintegrasikan data penerima manfaat dana sosial keagamaan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Sehingga melalui integrasi tersebut, lembaga pengelola zakat dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai calon penerima bantuan. Data yang digunakan tidak hanya berupa identitas penerima, tetapi juga mencakup kondisi sosial ekonomi, alamat, serta riwayat penerimaan bantuan dari berbagai program. Dengan demikian, lembaga pengelola ZIS-DSKL memiliki dasar yang lebih kuat dalam menentukan sasaran penyaluran.
Bukan Mengurangi Bantuan, tetapi Membuatnya Lebih Adil
Masih ada anggapan bahwa integrasi data akan membuat masyarakat semakin sulit mendapatkan bantuan, padahal, tujuan utamanya bukan untuk mengurangi hak masyarakat menerima bantuan sosial. Yang ingin diperbaiki adalah mekanisme penyalurannya agar lebih adil. Dalam kondisi tertentu, seseorang tetap bisa menerima lebih dari satu jenis bantuan apabila memang memiliki kebutuhan yang berbeda. Misalnya bantuan pendidikan, kesehatan, atau pemberdayaan ekonomi. Yang ingin dikurangi adalah kemungkinan bantuan yang sama terus berulang kepada penerima yang sama, sementara masih ada masyarakat lain yang belum mendapatkan bantuan.
Menag: Data Penting Agar Bantuan Tidak Berulang pada Orang yang Sama
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai integrasi data diperlukan agar penyaluran dana sosial keagamaan dapat berjalan lebih tepat sasaran. Menurutnya, tanpa data yang terhubung, ada kemungkinan seseorang menerima bantuan dari beberapa sumber, sementara masyarakat lain yang membutuhkan justru belum memperoleh bantuan.
“Kalau ini semuanya kita perbaiki datanya, kalau Anda sudah dapat di BAZNAS pusat, nggak usah BAZNAS daerah lagi. Kalau sudah dapat dari BAZNAS, tidak usah dapat lagi dari Kementerian Sosial,” ujar Nasaruddin Umar saat peluncuran Satu Data ZIS-DSKL di Jakarta.
Pembenahan data, tambahnya bukan bertujuan membatasi masyarakat menerima bantuan, tetapi memastikan distribusi bantuan dapat menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan.
Data yang Baik Membantu Lebih Banyak Masyarakat Terbantu
Data mungkin terlihat hanya sebagai angka dan daftar administrasi, padahal, dibalik setiap data penerima bantuan ada kehidupan manusia. Ada keluarga yang membutuhkan biaya pendidikan anaknya, dan ada juga warga yang membutuhkan dukungan kesehatan, bahkan ada masyarakat yang ingin bangkit melalui bantuan modal usaha.
Oleh sebab itu, memperbaiki data penerima bantuan bukan hanya pekerjaan teknis, pasalnya data yang akurat dapat membantu memastikan setiap bantuan memiliki dampak yang lebih besar.
Yang jelas, tujuan utama bantuan sosial maupun dana sosial keagamaan bukan hanya menyalurkan bantuan sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, sebab, bantuan yang tepat sasaran bukan hanya soal efisiensi, melainkan juga tentang menghadirkan keadilan bagi mereka yang membutuhkan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
