Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Seniman Dulmuluk Bersiasat di era Pandemi

Seniman Dulmuluk Bersiasat di era Pandemi

  • account_circle Nasir Nasir
  • calendar_month Jumat, 30 Okt 2020
  • visibility 2.922
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selama masa pandemi, kreativitas dan aktivitas seniman hanya tersalurkan melalui daring. Absen berkesenian secara tatap muka selama masa pandemi membuat rasa rindu membuncah di dada para seniman. Termasuk pelaku seni di Palembang. Buncahan kerinduan itu tak pelak direspon Dewan Kesenian Palembang (DKP). Sebuah gagasan untuk bersilaturahmi di penghujung masa pandemi pun telah dilaksanakan. Tentu saja, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Ketua DKP M Iqbal Rudianto mengemukakan, kegiatan dimaksud digagas secara daring dan tatap muka. “Kita akan mengombinasikan antara kegiatan virtual dan tatap muka. Dengan mengacu protokol dan ketentuan yang berlaku,” ujarnya di Sekretariat DKP, pekan lalu
Menurut Iqbal Rudianto, yang akrab disapa Didit, pandemi ini adalah wabah dunia. Karenanya harus menyikapi bijaksana dengan sabar. Selalu monitor perkembangan yang ada. Selalu fokus dengan menjaga kesehatan dan mengatasi aktivitas seni yang terkendala. Pekerja kreatif tentu sangat terdampak.
“Secara pribadi berharap para seniman menjaga semangatnya untuk terus berkarya dan beraktivitas sepeti biasa tetapi protokol yang, membatasinya. Dilarang berkumpul. Membuat keramaian. Ini membuat semua pihak mengalah untuk menaati peraturan yang dibuat pemerintah.
Suasana ini, tentu saja, “Membangkitkan semangat seniman untuk mulai merapatkan barisan. Bagaimana kita menyikapi di era menuju kenormalan baru ini. Kalaupun pandemi ini telah berakhir kita telah mendapat pengalaman, bahwa selama ini kita diajak untuk hidup sehat, menjaga kebersihan menjaga jarak,” ujarnya.
Artinya, jadikan pandemi ini kita lihat sisi positifnya. “Mengajarkan kita untuk hidup sehat. Ruang kegiatan ini, menampilkan beberapa karya yang sempat dan telah diciptakan selama pandemi. Ini menunjukkan, bahwa bagi sebagian seniman, barangkali pandemi ini tidak menjadi penghalang
Karenanya, sesuatu yang baik tentu saja, jika DKP mengagas kegiatan yang bisa mengobati kerinduan seninam untuk berkreativitas. Sekaligus membahas berbagai persoalan terkait aktivitas berkesenian. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring (virtual) dan tatap muka. Dilaksanakan di Guns Café. Dengan menghadirkan narasumber dari praktisi, akademisi, pemerhati, dan pihak terkait lainnya. Masing-masing mengupas tuntas persoalan di enam komite seni yang ada. Yakni, Komite Musik, Teater, Rupa, Sastra, Tari dan Film.
Khusus Dulmuluk, bagi Didit, telah memberikan gambaran bahwa di posisi bagaimana pun kondisi bisa membuat mnusia lincah berkelit. Kondisi sulit, sudah dihadapi para pemain Dulmuluk sebelum masa pandemi. Di masa pandemi, ternyata mereka ada yang bisa menyiasatinya.
Dulmuluk merupakan bagian dari teater tradisional. Selama ini, kehidupan pemain Dulmuluk sudah kembang kempis. Jarang diundang untuk tampil di keramaian gelaran masyarakat, seperti sedekah, perkawinan, ataupun sunatan, membuat napas mereka menjadi tersengal. Akibatnya, bukan sekadar susah bernapas. Tetapi juga sulit mencari sesuap nasi.
Seorang pemain Dul Muluk, Randi Putra Ramadan, mengakui hal itu. Putra pertama dari empat bersaudara pasangan Johar Saad dan Suharti Sani (almarhumah) ini merasakan langsung manis hingga getirnya lakon Dul Muluk yang sempat padat undangan hingga minim undangan.
Karenanya, alumnus FKIP Jurusan Sentratasik Prodi Musik ini pun punya kiat-kiat yang ditemukan secara tak sengaja saat Dul Muluk harus mengalami pasang surut.
Randi sendiri, kini selain tetap eksis di Dul Muluk, juga memiliki skill lain, yakni menguasai alat musik. Kini, suami dari Eva Dika Putriana ini dapat tetap bertahan dengan petikan gitar Irama Batanghari Sembilan-nya.
Lebih pas lagi, Randi menyebut jurusnya ketika memasuki masa pandemi ini sebagai rekondisi. “Mungkin kurang pas kalau disebut revitalisasi atau apalah. Artinya, bagaimana seniman itu bisa menyesuaikan dengan kondisi,” ujar Randi yang sejak umur empat tahun sudah diajak ayahnya belajar men-Dul Muluk.
Dulu, namanya Dulcik. Dulmuluk Cilik. Belajarnya, ya di Pemulutan. “Kalau mau belajar, kami mudik ke sana,” tuturnya. Pemulutan, termasuk wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan setelah pemekaran, masuk wilayah Ogan Ilir (OI).
Dulu, papar Randi yang melanjutkan pendidikan di SMPN 45 dan SMAN 10 Palembang, dia merasakan bagaimana ramainya undangan. Dalam seminggu, hanya malam Jumat, yang kosong.
Acara yang mengundang Dulmuluk, biasanya acara hajatan semisal perkawinan, khitanan, ataupun syukuran lainnya. Namun seiring berkembangnya zaman, dan semakin modernnya peradaban manusia maka kesenian teater Dul Muluk semakin ditinggalkan. Terutama, ketika di tahun-tahun organ tunggal mulai merebak.
Skill teaternya, selain didapat dari Dul Muluk juga didapatnya dari teater di sekolah, baik SMP maupu SMA. Yang paling banyak dan saya mulai sangat aktif di Dul Muluk itu, antara tahun 2002 hingga 2007. “Sampai-sampai terkadang sering telat ke sekolah, Karena memang pementasan itu biasanya dimulai setelah Isya sampai sekitar jam 02-00 WIB. Jadi sekitar 6-7 jam setiap mentas,” ujarnya.
Honornya, berkisar Rp 15.000 sampai pernah Rp 25.000 per orang. “Kalau untuk makan, biasanya dapat dari tuan rumah. Lumayan, idak cukup honornyo tuh,” ujarnya berseloroh.
Kondisi ini pulalah yang membuat dirinya dipaksa menyesuaikan diri. Setamat SMA, dia bekerja di Studio Musik. Sesekali, dengan kebijakan pemilik studio, dia tetap main Dul Muluk. Walau memang sudah agak berkurang. Ayahnya sendiri ketika mulai sepi tanggapan, merapat ke instansi-instansi. Dan sering diminta tampil untuk meramaikan kegiatan-kegiatan tertentu. Dan itu bertahan hingga sekarang.
Di Studio yang beralamat di Kancil Putih, sempat ngeband bersama teman-temannya, Madan, Aldo, Arif, Rahmat, dan Catur. Randi sendiri menjadivokalis. Band Piramid ini, sempat ikut perlombaan di Bandung, dan masuk 10 besar. Bahkan sempat bergabung di label. Sayang kemudian ternyata merupakan jaringan mafia. Hingga akhirnya mereka kembali ke Palembang dan band itupun bubar.
Untuk urusan musik, Randi sendiri ternyata sempat menikmati profesi pengamen, di seputaran GOR Sriwijaya, yang waktu itu halamannya dibuka untuk tempat kuliner malam hari.
Artinya, rekondisi, bagi Randi senantiasa melekat di kesehariannya. Sampai akhirnya, dia pun melanjutkan pendidikan strata 1 di Universitas PGRI Palembamg, mengambil jurusan musik. Setamat itu sempat menjadi guru di Sekayu, di SMPN 6 Unggulan sebagai guru kesenian dan Eskul.
Namun, jiwa mudanya tak mampu mengunci dirinya menghilang di dunia pendidikan. Dan, hanya setahun, dia disebut menghilang, lalu kembali ke habitatnya. Ke dunia musik dan Dul Muluk.
Ketika pandemi merebak, maka jurus rekondisinya pun seakan terusik. Protokol kesehatan yang membatasi aktivitas, membuat Dul Muluk dan juga petikan gitarnya menjadi tersendat.
Mau menamplkan Dulmuluk di daring dengan 15-20 pemain dengan durasi cerita yang panjang, tentu tidak memungkinkan.
Karenanya dia pun mengubah format Dulmuluk menjadi seperti sketsa yang pendek dan singkat, dengan durasi sekitar 3 sampai 5 menit. Kostum dan peran, tetap digunakan. Tapi cerita dimodifikasi sedemikian rupa.
Hingga kini, sedikitnya sudah ada empat cerita yang dimainkan bersama dua temannya, Wong Gerot dan Wak Soleh.
Sejak SD, Randi yang sempat tiga kali pindah sekolah, dari SDN 129 Lebak Keranji, Lalu SDN 96 Balap Sepeda, dan SDN 438 Plaju, sudah terbiasa bermain di istana negeri Barbari. Nama negeri cerita Dul Muluk bergulir. Dul Muluk sendiri, awalnya berupa pembacaan kisah petualangan Abdul Muluk Jauhari, anak dafi Sultan Abdul Hamid Syah yang bertahta di Negeri Barbari. Peran ini dimainkan saudagar-saudagar Arab pada malam hari sehabis berniaga di Palembang dan sekitarnya. Ternyata kisah yang dicuplik dari buku Syair (Sultan) Abdul Muluk karangan seorang perempuan bernama Saleha ini menarik perhatian sebagian besar masyarakat Palembang. Sejak itulah pada berbagai kesempatan, sosok saudagar Gujarat itu kerap diundang untuk membacakan dongeng maupun pembacaan kisah Abdul Muluk dalam bahasa Melayu klasik ataupun pantun-pantun bertutur.
Berlanjut kemudian, cerita itu kemudian dimainkan oleh teater-teater tradisional. Termasuklah, Harapan Jaya milik ayah Randi. Atau Melati Jaya, Udin Kinjeng. Karunia, pimpinan Rustam. Begitu juga Citra Mandiri, Mat Gobok.
Pemain Dumuluk ini, semuanya lelaki. Kalaupun ada tokoh perempuan, pemainnya adalah lelaki. Biasanya, menurut Randi, pementasan Dulmuluk diiriingi oleh sedikitnya enam pemusik. Terdiri dari biola, bende (gong), jidur (beduk), dan bas senar. Karenanya, sekali naik panggung, pemain yang terlibat antara 15 sampai 20 orang termasuk pemusik.
Sempat ikut kegiatan mentas daring yang dibiayai oleh Kemendikbud, lalu juga dibiayai oleh Diknas Sumatera Barat. Dan terakhir, dengan dana guliran dari Bank Indoensia, akan mementaskan lakon Dul Muluk dengan melibatkan tiga grup Dul Muluk lainnya, Melati Jaya dan Karunia. “Itu semua merupakan bagian dari jurus dan rekondisi yang bisa saling menyesuaikan,” ujar Randi yang kini juga menguasai irama batanghari sembilan.
“Saya dapat ilmu petikan irama batanghari sembilan, dari bangku kuliah, karena ada mata kuliah khusus untuk itu. Ada lagu yang terbilang wajib, yakni Tiga Serangkai. Jadilah kini, Randi pun dikenal, sebagai pemetik gitar tunggal Irama Batanghari sembilan.
Diantara yang sedikit, Randi kini termasuk generasi milenial pelestari Dul Muluk dan Irama Batang Hari Sembilan. Kondisi telah mengajarkan dirinya untuk bisa selalui menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Bermain peran di panggung telah mengajari kami banyak pengalaman. Pentas di panggung dipelajari dari kehidupan sehari-hari.
“Barangkali itulah yang membuat kami bisa punya jurus bersiasat. Terbiasa bersandiwara di panggung, dan untuk bersandiwara dengan lakon-lakon itu, kami menyerap dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya sedikit serius.
Paling tidak, manusia memang punya kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi. Dalam kondisi seperti apapun, seniman itu akan bertahan dan beradaptasi. Karena, seniman itu juga manusia. Pandemi telah mengajarkan bahwa Covid 19 bukanlah penghalang untuk berkreasi. Tetapi, justru memberi pintu masuk untuk bisa bertahan dan menyesuaikan diri.
Dulmuluk pun menemukan itu. Tak bisa tampil di panggung, pilih dunia maya. Tak bisa tampil dengan cerita utuh, alurnya dipersingkat. Tak bisa tampil bareng beramai-ramai, buat pentas kecil berdua ataupun trio. Jadilah, seni itu tetap meramaikan dan memberi makna bagi kehidupan. (muhamad nasir)

  • Penulis: Nasir Nasir

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gempa M 5.0 Guncang  Maluku Tenggara Barat

    Gempa M 5.0 Guncang  Maluku Tenggara Barat

    • calendar_month Sabtu, 20 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 956
    • 0Komentar

    BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika [BMKG] melaporkan gempa mengguncang Maluku Tenggara Barat. Peristiwa gempa Magnitudo 5.0  itu terjadi pukul 15:26 WIB, sabtu [20/3/2021]. Situs resmi BMKG menyebutkan pusat gempa di Kedalaman 16 km, berada 5.94 LS – 130.56 BT. Lokasi gempa berada 240 km Barat Laut Maluku Tenggara Barat. BMKG menyebutkan tidak berpotensi stunami.[***]   one

  • Ada Apa Gub Sumsel Mampir di Warung Sedekah HAYZA ?

    Ada Apa Gub Sumsel Mampir di Warung Sedekah HAYZA ?

    • calendar_month Jumat, 9 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 802
    • 0Komentar

    USAI shalat Jumat (9/8/2019) siang, Gubernur Sumsel dan rombongan mampir ke Warung Sedekah HAYZA (Rumah Makan Gratis Kaum Dhuafa) yang berlokasi di Jalan Jendral A.Yani Blok F 17, Komplek Nigata Plaju. Kehadirannya kali ini sekaligus meresmikan pembukaan rumah sedekah tersebut untuk masyarakat. Di warung tersebut tampak sudah banyak masyarakat dan kaum dhuafa yang datang untuk ikut […]

  • 6 Finalis Nasional Ikut Kompetisi UD Trucks Pengemudi

    6 Finalis Nasional Ikut Kompetisi UD Trucks Pengemudi

    • calendar_month Kamis, 9 Agt 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.261
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, JAKARTA  –  UD Trucks Indonesia bersama dengan Astra UD Trucks berhasil menggelar kompetisi Extra Mile ke-3 yang diadakan di lapangan ICE BSD Jakarta. Sebanyak 6 finalis nasional berpartisipasi dalam kompetisi ini dan Eko Yulianto dari PT Duta Lintas Nusa dinobatkan sebagai pemenang. Berawal dari tahun 2016, tahun ini kompetisi mengemudi extra mile telah memasuki […]

  • 189 Kg Narkotika Diamankan, Tim Gabungan Gagalkan Penyeludupan Narkoba Jaringan Internasional

    189 Kg Narkotika Diamankan, Tim Gabungan Gagalkan Penyeludupan Narkoba Jaringan Internasional

    • calendar_month Kamis, 10 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 596
    • 0Komentar

    TIM gabungan berhasil mengagalkan upaya penyeludupan 189 kilogram narkotika jenis sabu dan 38,850 pil ekstasi jaringan Internasional di wilayah perairan Aceh Utara dan mengamankan dua tersangka. Petugas gabungan yang terlibat tersebut yakni dari Direktorat Tindakan Pidana Narkoba Polri, Polda Aceh, Ditpolairud, Polres Aceh Utara dan Bea Cukai. Kapolda Aceh, Irjen Pol. Ahmad Haydar menjelaskan pengungkap […]

  • Akhirnya Kupek Muba Naik Podium di Singapura

    Akhirnya Kupek Muba Naik Podium di Singapura

    • calendar_month Sabtu, 30 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 943
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id Singapura- Perjuangan Sri Maya Sari mengikuti kompetisi olahraga bergengsi tingkat Internasional, yakni Atletik Singapore Open di Singapore Sport Hub 28-29 Maret 2019 meraih hasil yang sangat memuaskan dan membanggakan. Pasalnya, Kupek asal Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin ini berhasil naik podium dengan memborong medali emas dan perunggu dari dua kategori perlombaan yang diikuti. Dara cantik kelahiran Sekayu […]

  • Wow, Partai Garuda Ikutan Menangkan  AKHOR

    Wow, Partai Garuda Ikutan Menangkan  AKHOR

    • calendar_month Kamis, 22 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.128
    • 0Komentar

    Menjadi pasangan alternatif untuk membawa perubahan di Palembang. 

expand_less
WordPress Archive Animo – Creative & Clean Multi-Purpose WordPress Theme Anita | Photography WordPress Theme Anjani – Spa & Beauty Elementor Template Kit Anne Alison – Soft Personal Blog Theme Anno – One Page Portfolio WordPress Theme Annotator Pro – Image Tooltips & Zooming Annova – Survey Wizard Anomica – IT Solutions and Services WordPress Theme + RTL Anondho – Night Club & Event WordPress Theme Anotte – Horizontal Photography WordPress Theme