Selasa, 25 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Sarip Petir, Kisah TKI Antargalaksi [BAB 13 – Planet Tanpa Filter : “Mencari Kebenaran dalam Dunia Ilusi”]

Sarip Petir, Kisah TKI Antargalaksi [BAB 13 – Planet Tanpa Filter : “Mencari Kebenaran dalam Dunia Ilusi”]

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
  • visibility 792
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SETELAH keluar dari Planet PETI tempat semua wajah seperti hasil cetakan spanduk pemilu—Sarip akhirnya mendarat darurat di sebuah planet kecil yang tampaknya belum sempat masuk katalog wisata antargalaksi. Nama planet ini terdengar aneh, tapi jujur Planet LUGAS. Bukan singkatan dari Lulus Ujian Galaksi Antar Sektor, tapi katanya, artinya memang… ya, lugas. Apa adanya.

Tak ada neon menyala, tak ada billboard serum pencerah galaksi, tak ada baligo bertuliskan “Muka Boleh Bopeng, Hati Tetap Glowing”. Yang ada cuma tanah subur, pohon rindang, dan udara yang bikin paru-paru Sarip seperti diremajakan oleh semangat gotong royong RT zaman dulu.

Begitu turun dari kapsul, Sarip langsung disambut oleh warga lokal. Uniknya, semua wajah di sini tidak ada yang mulus. Ada keriput, ada jerawat batu yang melegenda, ada tahi lalat segede kancing batik. Tapi mereka tersenyum. Beneran senyum, bukan senyum hasil settingan filter hologram seperti di Planet PETI kemarin, yang kalau ketawa terlalu lebar malah error dan jadi emoji sedih.

Sarip terdiam.
Ia menatap refleksi dirinya di kolam jernih untuk pertama kali sejak berbulan-bulan lalu, ia melihat wajah aslinya.
“Wah… ini aku ya?” batinnya.
Wajah yang mulai bertekstur kayak jalan kampung habis diguyur hujan. Pori-pori selebar jendela warung kopi. Tapi anehnya, Sarip merasa damai. Nggak ada lagi beban buat ‘kinclong demi likes’.

Ketua kampungnya, Om Gufron, muncul dengan kaus lusuh bertuliskan  “Hidup Sederhana, Tapi Hati Tajam”. Ia menyambut Sarip sambil nyemil kerupuk tenggiri dan minum jamu racikan sendiri.

“Di sini, Nak, kami nggak kenal filter-filteran. Wajah boleh kucel, asal nggak palsu. Tampang bisa bohong, tapi mulut dan perilaku nggak bisa diedit,” katanya sambil nyruput.

Sarip disuguhi teh dari daun asli, bukan teh sachet hologram. Rasanya… pahit. Tapi segar. Seperti hidup tanpa utang kartu kredit.

Beberapa hari Sarip tinggal di sana. Ia mulai mengenal warga: ada Nani, tukang cukur yang dulu kerja di Planet PETI tapi resign karena alergi glitter. Ada Pak Ben, petani yang bangga dengan giginya yang tinggal lima tapi senyumnya selebar aurora.

“Kita percaya, jerawat adalah tanda manusia. Kalau wajahmu terlalu mulus, malah kami curiga kau agen rahasia dari Planet Influensher,” kata Nani.

Sarip tertawa. Untuk pertama kalinya, tawanya tidak ditutupi efek suara buatan. Tawanya keluar dari hati, bukan dari algoritma.

Suatu malam, saat semua warga tidur dan jangkrik antargalaksi menggesek sayapnya, Sarip duduk di bawah pohon kayu bulan.

Ia merenung.
Pernah suatu masa ia rela mencicil filter glowing platinum edition demi dianggap “layak tampil” di acara kenegaraan Planet PETI. Tapi di sini? Tak ada yang peduli apakah kulitmu berminyak atau matamu berkantung. Yang penting, jangan palsu.

Sarip menulis di buku kecilnya “Di dunia yang terus menjual keindahan palsu, tempat seperti ini adalah oasis. Aku tak ingin kembali jadi template manusia. Di sini, aku jelek. Tapi asli”

Tapi ketenangan tak lama. Suatu pagi datang surat hologram. Planet PETI mengundangnya kembali, dengan tawaran jadi Brand Ambassador Filter Abadi. Ada bonus jet pribadi, apartemen terapung, dan gaji 7 digit dalam mata uang galaksi.

Sarip diam. Ia menghela napas panjang. Lalu ia menulis surat penolakan “Terima kasih atas tawarannya. Tapi saya sudah menemukan yang lebih berharga daripada wajah sempurna. Saya menemukan cermin yang tidak bohong: hati saya sendiri”

Ia menempel surat itu di batang pohon, lalu menyalakan api unggun. Surat PETI terbakar perlahan. Bersamaan dengan itu, rasa minder dan kebutuhan untuk diakui perlahan-lahan ikut menguap.

Di akhir bab ini, Sarip berdiri di tengah ladang, diapit warga Planet LUGAS yang sedang panen daun jujur dan buah rendah ekspektasi. Ia mengenakan baju biasa, sarung, dan sendal jepit.

Di depannya terpampang papan besar “Di Sini Tidak Melayani Edit Wajah. Yang Kami Butuhkan Hanya Ketulusan dan Sedikit Garam”

Sarip tersenyum.
Untuk pertama kalinya, senyumnya tidak butuh retouch.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polri Berhasil Tangani 131 Kasus Garong Bansos Selama Pandemi Covid-19 Tahun Lalu

    Polri Berhasil Tangani 131 Kasus Garong Bansos Selama Pandemi Covid-19 Tahun Lalu

    • calendar_month Kamis, 26 Agt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.038
    • 0Komentar

    KABARESKRIM Polri, Komjen. Pol. Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H., mengatakan bahwa selama pandemic Covid-19 sejak tahun 2020, Polri telah berhasil menangani sebanyak 131 kasus penyelewengan bantuan sosial (Bansos). Dari sejumlah kasus tersebut, sebanyak 13 kasus tersebut telah masuk ke proses penyidikan, 35 kasus masih penyelidikan, 26 kasus dilimpahkan ke Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), dan […]

  • Wantannas: Program Hilirisasi Karet Muba Jadi Role Model

    Wantannas: Program Hilirisasi Karet Muba Jadi Role Model

    • calendar_month Kamis, 25 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 823
    • 0Komentar

    DEPUTI Pengembangan Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas), Marsda TNI Dr Sungkono SE MM mengapresiasi program kerja dan langkah-langkah strategis yang telah dilakukan Pemkab Muba pada hilirisasi perkebunan karet tiga tahun belakangan ini. “Setelah mendengar langsung paparan Pak Dodi terkait inovasi hilirisasi karet, kedepan ini bisa jadi role model yang luar biasa, kata dia dalam Rapat Persiapan […]

  • Pj Bupati Apriyadi Bantu Operasi Bocah 3 Tahun Penderita Atresia Ani

    Pj Bupati Apriyadi Bantu Operasi Bocah 3 Tahun Penderita Atresia Ani

    • calendar_month Sabtu, 29 Jul 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 798
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Babat Toman – Bocah di Kelurahan Mangunjaya Kecamatan Babat Toman Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Aisyah (3) putri dari pasangan Yansyah dan Anisa, dengan kelainan atresia ani kini akhirnya bisa berbahagia. Pasalnya, Pj Bupati Muba H Apriyadi Mahmud membantu biaya operasi agar Aisyah bisa hidup normal setelah tiga tahun tanpa anus. Mewakili Pj Bupati Muba, […]

  • Sumsel Terapkan Health Tourism Perdana di RSUP Mohammad Hoesin 

    Sumsel Terapkan Health Tourism Perdana di RSUP Mohammad Hoesin 

    • calendar_month Senin, 8 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 901
    • 0Komentar

    WAKIL Gubernur Sumsel H Mawardi Yahya mengapresiasi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang yang terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Hal itu  dibuktikan dengan telah  dibukanya Festival Layanan Medis dan Kesehatan Tradisional Nusantara Terstandar, sebagai langakah awal  penerapan Health Tourism  yang dilaksanakan di  Lantai 1 Gedung Graha Eksekutif RSMH Sumsel, Senin (8/11). “Kita apresiasi RSUP […]

  • Pemuka Agama di Sumsel Diajak Pertahankan Zero Konflik

    Pemuka Agama di Sumsel Diajak Pertahankan Zero Konflik

    • calendar_month Kamis, 7 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.081
    • 0Komentar

    PEMUKA agama di Sumsel diajak untuk mempertahankan zero konflik, kerena sangat penting sebagai modal utama dalam mencapai suksesnya pembangunan di segala. Gubernur Sumsel Herman Deru menjelaskan untuk itu, para tokoh lintas agama untuk tetap memberikan pembinaan pada umatnya dengan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam hidup beragama dan bermasyarakat. “Kalau kepentingan umat, kita berikan pelayanan utama. […]

  • Mafesripala Unsri Siap Kibarkan Songket di Lempeng Tertinggi Amerika

    Mafesripala Unsri Siap Kibarkan Songket di Lempeng Tertinggi Amerika

    • calendar_month Kamis, 7 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.184
    • 0Komentar

    GABUNGAN Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya Pencinta Alam (Mafesripala) mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), untuk melanjutkan ekspedisi yang ke-4 mendaki puncak tertinggi di lempeng Amerika yakni Aconcagua, Chile, Amerika Selatan. Hal tersebut tertuang saat Wakil Gubernur Sumsel H. Mawardi Yahya Menerima Panitia Pelaksana Sriwijaya World Seven Sumit’s Xpedition, kemarin. Diketahui, Sebelumnya rombongan […]

expand_less
WordPress Archive Popup Maker – Age Verification Modals Popup Maker – Aweber Integration Popup Maker – Exit Intent Popups Popup Maker – Forced Interaction Popup Maker – Leaving Notices Popup Maker – MailChimp Integration Popup Maker – Popup Analytics Popup Maker – Remote Content Popup Maker – Scheduling Popup Maker – Scroll Triggered Popups