Selasa, 29 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » [Sarip Petir: Kisah TKI Antargalaksi] Bab 2: Welcome to Karmelia, Negara Tanpa Cicilan

[Sarip Petir: Kisah TKI Antargalaksi] Bab 2: Welcome to Karmelia, Negara Tanpa Cicilan

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
  • visibility 855
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Begitu mendarat di Planet Karmelia, Sarip merasa seperti ayam kampung masuk mal ber-AC, segalanya serba canggih. Pintu otomatis, jalanan melayang, dan tempat sampah yang bisa ngomong, ‘Masukkan sampahmu dengan cinta, jangan buang perasaanmu sembarangan’. Sarip manggut-manggut, setengah kagum, setengah lapar.

Angin bandara pun  beraroma lavender, bukan aroma solar dan gorengan bekas kayak di kampung. Begitu turun, aku langsung disambut petugas bandara berwajah glowing, pakai baju linen longgar, dan senyum yang kayak baru kelar facial di salon bintang lima.

Bahkan Sarip  disambut pejabat lokal Karmelia bernama Konsul Zambor, makhluk berkepala tiga dan berjubah neon. “Selamat datang, para pekerja dari Bumi. Kami senang kalian datang tepat waktu, walau gaya fesyen kalian agak… tradisional,” katanya, melirik sandal jepit Sarip yang sudah bolong dua dan disol dengan kabel tis.

Sarip tak paham semua kata-kata Zambor karena dialihbahasakan oleh mesin penerjemah bernama ‘BahasaKU V.9’. Tapi kadang terjemahannya ngaco. Waktu Zambor bilang, ‘Kami ingin kalian bahagia di sini,’ mesin itu menerjemahkan, ‘Kami ingin kalian digoreng dengan tepung beras.’ Sarip langsung berkeringat dingin…

Tapi ternyata, mereka ramah nggak cuma senyum. Aku dikasih handuk hangat buat ngelap peluh, semangka manis tanpa biji buat nyegerin tenggorokan, dan… tas berisi uang tunai!

Sempat curiga, ini amplop sogokan? Tapi ternyata bukan. “Ini uang sambutan, Pak Sarip,” kata petugas imigrasi sambil membungkuk sopan. “Tamu kehormatan dari Bumi harus disambut dengan hormat. Terima kasih sudah bersedia bekerja di negeri kami”.

Hari pertama di barak, Sarip dan kawan-kawan dikasih makan. Menu pertama sup angkasa rasa daging. Tapi ketika dikunyah, teksturnya kayak sandal jepit kena rendaman banjir. Sarip tetap makan, karena ingat kata pepatah lebih baik makan asing daripada makan hati.

Setelah makan, mereka diberi orientasi kerja. Tugas Sarip adalah mengurus tanaman hidro-laser, yaitu tanaman yang disiram bukan pakai air, tapi pakai sinar laser. Kalau salah arah, tanaman bisa jadi kebab gosong. ‘Pokoknya jangan nyemprot sambil ngelamun,’ kata pengawas, ‘nanti ladang bisa meledak kayak hati mantan yang lihat kamu bahagia’.

Lalu dia lanjut, “Gaji dibayar di muka. Rumah gratis. Jatah libur setiap Kamis dan Jumat. Dan kalau Bapak rindu kampung, tinggal pencet tombol di ruang tamu, nanti muncul suasana sawah 3D dengan suara jangkrik asli”.

Aku bengong. Di kampungku, mau ambil cuti sehari aja harus bawa ayam jago ke bos. Itu pun kalau ayamnya gak kena kutu.

Hari pertama kerja, aku diantar pakai mobil listrik melayang yang kalau belok nggak ada suara, tapi malah muter lagu jazz. Sopirnya pakai seragam rapi, lengkap dengan dasi hologram bergambar bunga matahari yang kelap-kelip. Sepanjang jalan, dia cerita kalau di Karmelia, stres itu dilarang. Ada undang-undangnya. Kalau ketahuan ngeluh, langsung dikasih libur tambahan plus voucher spa di Pegunungan Melati.

“Kami percaya, Pak Sarip,” katanya sambil senyum kalem, “TKI dari Bumi itu aset penting. Kalau bahagia, kerja pun bersinar”

Aku cuma bisa angguk. Mulutku udah nggak sanggup bilang “wow”. Mulut ini terlalu terbiasa bilang “waduh” kalau lihat harga minyak goreng.

Sampai di kompleks Panel Surya Nasional, aku kira ini semacam gudang besar penuh kabel. Ternyata, tempatnya kayak taman wisata. Rumputnya rapi, ada gazebo buat duduk santai, wifi kenceng, dan tiap pagi ada burung yang menyanyi… dalam tiga bahasa Karmel, Jawa halus, dan Korea.

Tugas pertamaku duduk di pojok taman, minum teh herbal, dan mengawasi panel agar tetap bahagia. Katanya, “Panel surya di Karmelia bisa merasakan energi manusia. Kalau penjaganya sumpek, nanti sinarnya ngambek”

Aku sempat mikir ini akal-akalan, tapi setelah dua jam senyum-senyum di depan panel, lampu indikatornya berubah dari biru ke pink. Supervisorku datang sambil bawa donat dan bilang, “Bagus, Pak Sarip. Panelnya suka vibe Bapak”

Gila. Di kampung, dulu aku pernah kerja jaga pintu WC umum. Dua jam diem aja malah dimarahin, karena gak sigap ambil karcis. Di sini? Duduk manis dapet donat dan pujian dari panel.

Malamnya aku pulang ke rumah dinas, sebuah kubah kaca otomatis yang bisa berubah warna sesuai suasana hati penghuni. Karena aku bahagia, rumahnya nyala warna toska dan muterin lagu-lagu Koes Plus versi jazz galaksi. Lemari es isi penuh, kasur empuk, dan kamar mandi ada pancuran air hangat aromaterapi. Aku sempat nangis di dalam bukan karena sedih, tapi karena ngerasa kayak tamu undangan surga.

Tapi aku tetap hati-hati. Walau Karmelia terlihat sempurna, aku tetap ingat pesan Mamak waktu di pelabuhan antariksa. “Sarip, jangan silau liat negara orang. Ingat!!, walau tanahnya subur, belum tentu cocok buat tanam singkong”

Malam itu aku tidur sambil peluk tas kerja dan surat dari Mamak. Di Karmelia memang semua indah, tapi di hatiku masih ada kampung, sawah, dan suara kentongan ronda yang kadang bunyinya kayak nada dering HP jadul.

Karmelia ini bener-bener negara surgawi. Nih, coba lihat sendiri, warganya dapat rumah gratis sejak lahir. Bukan rumah KPR 30 tahun yang cicilannya bisa bikin uban tumbuh di alis. Pendidikan sampai S3 ditanggung negara, lengkap dengan beasiswa jalan-jalan riset ke planet tetangga.

BPJS gak ada, bukan karena bubar, tapi karena… gak ada yang sakit! Iya, serius. Warganya sehat semua, mungkin karena makanan tanpa micin dan udara yang bisa bikin paru-paru tepuk tangan. Harga bahan pokok stabil, gak ada drama nyari diskon tengah malam sambil adu cepat checkout di e-commerce. Presidennya, Ramanda, bukan dipilih, karena janji kampanye yang manis kayak teh warung, tapi karena kebaikan hati dan… kelucuan. Iya, katanya sih waktu debat capres dia bikin juri ngakak sampe batuk langsung menang.

Lalu aku dikasih pekerjaan penjaga panel surya nasional. Tugasnya sederhana duduk di taman, ngawasi panel-panel surya sambil ngopi dan baca buku, kadang-kadang main sudoku atau nonton sinetron intergalaksi.

“Gaji?” tanya aku, masih agak tak percaya.
“Cukup buat beli tanah di Mars, Pak,” jawab mereka dengan santai.

Aku senyum. Di kampung, kerja 20 tahun belum tentu bisa beli teras rumah sendiri. Di sini, baru mendarat, udah ditawarin hidup kayak pensiunan pejabat yang bertobat.

Karmelia, kau benar-benar negeri tanpa cicilan, tanpa drama, dan tanpa alasan buat pulang kampung kecuali kangen bakso gerobak.[bersambung bab3]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muba Launching Tiga PPLP-D Baru Di Peringatan Haornas

    Muba Launching Tiga PPLP-D Baru Di Peringatan Haornas

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.333
    • 0Komentar

    Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin resmi melaunching Pusat Pengembangan Latihan Pelajar Daerah (PPLP-D) tiga cabang olahraga baru yakni eSport, Angkat Besi, dan Balap Motor. Launching sendiri dilakukan langsung oleh Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin, didampingi Kapolres Muba AKBP Erlin Tangjaya, Dandim 0401/Muba Letkol Arh Faris Kurniawan dan unsur Forkompimda lainnya, saat peringatan Hari Olahraga […]

  • Gulung Persimura 4-0, PS Palembang Puncaki Grub B

    Gulung Persimura 4-0, PS Palembang Puncaki Grub B

    • calendar_month Senin, 13 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.150
    • 0Komentar

    PS Palembang berhasil menjaga asa lolos ke babak empat besar Liga 3 Sumsel setelah menggulung Persimura, 4-0 dalam laga yang berlangsung di Lapangan Ria Jaya, Prabumulih Minggu (12/12) sore. Kemenangan ini membuat Laskar Segentar Alam bertengger di puncak klasemen akhir Grup B dengan torehan 7 poin, hasil dua kali kemenangan dan sekali seri. “Alhamdulillah, sebetulnya […]

  • Orbit Rendah Bumi Kian Padat, Mengapa Dunia Mulai Khawatir?

    Orbit Rendah Bumi Kian Padat, Mengapa Dunia Mulai Khawatir?

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 40
    • 0Komentar

    LANGIT malam yang tampak tenang menyimpan aktivitas luar biasa sibuk jauh di atas kepala manusia. Pada ketinggian sekitar 160 hingga 2.000 kilometer dari permukaan Bumi, ribuan satelit bergerak tanpa henti di jalur yang dikenal sebagai Low Earth Orbit (LEO) atau orbit rendah Bumi. Di kawasan inilah berbagai layanan modern mulai dari komunikasi, navigasi, pemantauan cuaca, […]

  • Bybit Luncurkan Akun Trading Terpadu, Ubah Pengalaman Trading untuk Investor

    Bybit Luncurkan Akun Trading Terpadu, Ubah Pengalaman Trading untuk Investor

    • calendar_month Sabtu, 28 Jan 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.474
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,DUBAI, UNITED ARAB EMIRATES –  Bybit, bursa cryptocurrency ketiga yang paling banyak dikunjungi di dunia, dengan gembira mengumumkan peluncuran akun perdagangan terpadu (UTA) barunya, yang memungkinkan investor untuk berdagang di berbagai pasar dari satu Akun.   UTA Bybit adalah pemutakhiran all-in-one yang dioptimalkan untuk pengalaman perdagangan yang lancar bagi para pedagang. Ini memberi semua klien […]

  • Ratusan Pengemudi Wanita Grab Ikut Acara ‘Untuk Kartini Masa Kini’

    Ratusan Pengemudi Wanita Grab Ikut Acara ‘Untuk Kartini Masa Kini’

    • calendar_month Kamis, 19 Apr 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.293
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Jakarta  – Ratusan pengemudi wanita Grab ikutan acara ‘Untukmu Kartini Masa Kini’, hal itu sebagai bentuk kepedulian grab terhadap jerih payah para pengemudi wanita. Dalam acara tersebut ratusan pengemudi Grab wanita dalam sesi Yoga on the Road, Safety Riding bersama QueenRides, dan kelas kecantikan. “Pencapaian kami di hampir 125 kota di Indonesia tidak terlepas […]

  • Virus Covid-19 Masih Bersiliweran Kesana Kemari, Bikin Angka Penularan Turun Naik, Gak Bisa Dilihat Kasat Mata & Diraba, Palembang Putuskan untuk Tunda Lagi PTM, Walikota Akui Tingkat Hunian RS Capai 70%, Vaksinasi Juga Bakal Sasar Usia 12-17 Tahun, Saya Tak Ingin Ada Siswa Terpapar

    Virus Covid-19 Masih Bersiliweran Kesana Kemari, Bikin Angka Penularan Turun Naik, Gak Bisa Dilihat Kasat Mata & Diraba, Palembang Putuskan untuk Tunda Lagi PTM, Walikota Akui Tingkat Hunian RS Capai 70%, Vaksinasi Juga Bakal Sasar Usia 12-17 Tahun, Saya Tak Ingin Ada Siswa Terpapar

    • calendar_month Senin, 5 Jul 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.852
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kota Palembang kembali akan menunda pembelajaran tatap muka (PTM) menyusul kasus Covid-19 masin meningkat. Bahkan tingkat hunian rumah sakit-pun, kini mencapai 70%. Sebelumnya Pemkot Palembang melalui Dinas Pendidikan akan menggelar PTM pada 12 Juli mendatang. “Ya, kita sepakat dengan berat hati untuk sekolah belum bisa dilakukan secara tatap muka,” kata Walikota Palembang H. Harnojoyo […]

expand_less
WordPress Archive Growler – Brewery WordPress Theme Growthy – Growth Hacking & Marketing Agency Elementor Template Kit Groxi – Grocery Store Elementor Template Kit GrozPastry – Bakery Elementor Template Kit Gruene – Digital Marketing WordPress Theme Grulf – Golf Club WordPress Theme Grund - Creative Digital Agency Elementor Template Kit Grunge WordPress Theme Grupo Chat – Chat Room & Private Chat – Video Chat & Audio Chat – AI Chat – PHP Group Chat Code Gröwla – Digital Agency & Studio WordPress Theme