Rabu, 19 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » “Prangko Bukan Lagi Tempelan, Tapi Simbol Kejayaan yang Nempel di Hati”

“Prangko Bukan Lagi Tempelan, Tapi Simbol Kejayaan yang Nempel di Hati”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 19 Okt 2025
  • visibility 2.163
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Palembang Jadi Kota Pembuka Sejarah, Kota Tua yang Dipercaya Kementerian Kebudayaan Buka Pameran Nasional Prangko Para Pendiri Bangsa

DULU surat cinta dikirim pak pos, sekarang cukup dengan “ping” di WhatsApp, kalau dulu prangko jadi lambang romantisme dan perjuangan, kini ia tampil lagi di panggung sejarah dan siapa sangka, Palembang yang jadi pembuka acaranya.

Yup, dari tepi Sungai Musi, sejarah dimulai lagi, Kota tua yang pernah berjaya di masa Sriwijaya kini kembali jadi pusat perhatian Nasional lewat Pameran Prangko Para Pendiri Bangsa. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II akan berubah jadi galeri penuh kisah perjuangan dari Soekarno, Hatta, Tan Malaka, sampai Sutan Sjahrir, semuanya hadir lewat selembar kecil yang pernah berkelana dari tangan ke tangan yakni prangko.

Kalau dengar kata museum, banyak anak muda langsung kening berkerut, dalam bayangan mereka, museum itu tempat benda tua berdebu yang cuma cocok buat foto tugas sekolah. Tapi sekarang, Pemerintah Kota Palembang lewat Dinas Kebudayaan kayaknya sudah meputar otak.

Mereka sadar, kalau mau sejarah hidup lagi, ya harus dibikin hidup beneran!, makanya, selama 20–24 Oktober 2025, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II bukan cuma buka pameran prangko, tapi juga menampilkan pameran pusaka Sriwijaya, workshop filateli, dan festival Jumpa Museum yang diisi tari Batanghari Sembilan, seni sastra, sampai musik vokal solo.

Pokoknya, museum sekarang bukan tempat berdiam, tapi tempat nge-dance bareng sejarah, prangko itu kecil, tapi punya nyawa. Ia merekam wajah para pendiri bangsa, simbol perjuangan, bahkan semangat zaman.
Kalau diibaratkan, prangko itu kayak cabe rawit kecik-kecik pedasnyo nian!.

Sekarang, lewat pameran ini, prangko bukan lagi sekadar benda koleksi para filatelis, tapi pengingat bahwa perjuangan besar bisa lahir dari hal-hal kecil. Dan di era digital kayak sekarang, ketika semua serba instan dan nempel di layar HP, pameran prangko jadi tamparan manis “Hei, ada nilai yang gak bisa dikirim lewat sinyal”.

Palembang itu kota yang pandai berdamai dengan waktu, ia bisa setua batu Sriwijaya, tapi juga selincah TikTokers zaman now.
Dan di tangan Dinas Kebudayaan, museum kini seperti Jembatan Ampera, menghubungkan masa lalu dengan masa depan, sejarah dengan hiburan, edukasi dengan ekonomi.

Kepala Dinas Kebudayaan Sulaiman Amin bilang, acara ini bukan cuma nostalgia, tapi bentuk kebanggaan. “Kita ingin museum jadi ruang edukatif dan rekreatif, sejarah jangan cuma dilihat, tapi juga dirasakan,” ujarnya.

Apalagi sebentar lagi, Pemkot juga menyiapkan studio dan ruang imersif 5 dimensi untuk menampilkan film-film sejarah Sriwijaya dan Kesultanan Palembang, jadi bukan cuma bisa lihat patung, tapi juga bisa masuk ke zamannya.

Negara-negara maju udah lama paham bahwa museum itu bukan kuburan sejarah, tapi taman bermain pengetahuan.
Jepang punya museum pos dengan prangko bertema anime; Inggris punya seri prangko bergambar Ratu Elizabeth sejak 1952, Jerman bahkan punya museum pos interaktif lengkap dengan zona selfie.

Nah, Palembang akhirnya ikut barisan itu, tentu dengan cita rasa lokal, kita gak perlu hologram Ratu, cukup semangat Sriwijaya dan aroma kopi Musi buat bikin pengunjung betah, dan ingat pepatah lama “Biar lambat asal selamat, biar tua asal berisi”
Palembang mungkin datang belakangan, tapi datangnya elegan, langsung jadi pembuka sejarah Nasional.

Tahun ini target pengunjung museum 30 ribu orang. Tapi baru 12.500 yang mampir. Artinya, masih banyak yang belum sempat “jatuh cinta”.

Tiket masuknya juga lucu murah: Rp2.000 buat anak-anak, Rp5.000 buat dewasa, Rp20.000 buat bule.
Harga yang bahkan lebih murah dari es teh di kafe, tapi yang didapat bukan cuma dingin, melainkan perjalanan ke masa lalu yang bikin hati hangat.

Jadi, kalau akhir tahun nanti target tercapai, bukan cuma angka yang naik, tapi juga rasa bangga. Karena, mencintai sejarah itu kayak menjaga hubungan, kalau gak sering dikunjungi, ya bisa dilupakan.

Langkah Palembang ini strategis banget, di saat banyak kota sibuk bikin event yang cepat viral tapi cepat basi, Palembang malah main di jalur jangka panjang membangkitkan ekonomi budaya.

Museum jadi magnet wisata, tapi juga ruang edukasi dan kreativitas, setiap kunjungan bukan cuma tiket, tapi interaksi antara warga dengan warisan sejarahnya sendiri, dan kalau ini terus digarap serius, Palembang bisa jadi contoh Nasional soal bagaimana “Nostalgia bisa jadi ekonomi”.

Dulu, kapal-kapal Sriwijaya berlayar dari Sungai Musi membawa rempah dan kejayaan, sekarang, dari tempat yang sama, Palembang mengirimkan aroma baru kebanggaan dan kesadaran sejarah.

Lewat selembar prangko, sejarah menempel lagi di hati kita, karena prangko, meski kecil dan sederhana, mengajarkan satu hal penting yaitu Yang kecil bisa punya arti besar, kalau ditempel di tempat yang tepat.

Kini, lewat museum yang semakin hidup, Palembang menempel di peta sejarah nasional, bukan cuma sebagai kota tua, tapi sebagai kota yang tahu caranya bikin sejarah tetap muda.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polusi Udara di Jakarta: Apa yang kita ketahui sejauh ini

    Polusi Udara di Jakarta: Apa yang kita ketahui sejauh ini

    • calendar_month Sabtu, 2 Jul 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.075
    • 0Komentar

    SEMOGA di bulan yang baru ini kita bisa melihat langit yang lebih biru dan menghirup udara yang lebih segar dibanding bulan lalu ya, apalagi bagi teman-teman yang tinggal di wilayah Jabodetabek.   Bulan Juni lalu wilayah Jakarta ramai diperbincangkan gara-gara polusi udaranya. Berikut beberapa fakta terkait polusi udara di Jakarta yang kita ketahui sejauh ini: […]

  • Temu Bisnis BI, Catat Komitmen Rp207 Miliar, Deputi Gubernur Senior BI : Bukti Nyata UMKM Jadi Penggerak Kebangkitan Ekonomi

    Temu Bisnis BI, Catat Komitmen Rp207 Miliar, Deputi Gubernur Senior BI : Bukti Nyata UMKM Jadi Penggerak Kebangkitan Ekonomi

    • calendar_month Senin, 27 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 745
    • 0Komentar

    PENYELENGGARAAN Puncak Karya Kreatif Indonesia (KKI) tahun 2021 ditutup pada 26 September 2021 secara virtual dan mencatat komitmen temu bisnis (business matching) sebesar Rp207 miliar. Kegiatan temu bisnis melibatkan 34 UMKM, 7 bank, dan 2 lembaga keuangan Non-Bank untuk temu bisnis pembiayaan, dan 155 UMKM, 4 aggregator[1], serta 10 pembeli potensial dari 6 negara untuk temu bisnis […]

  • Cegah Korupsi, Dimulai Dengan Pemerintahan Yang Handal

    Cegah Korupsi, Dimulai Dengan Pemerintahan Yang Handal

    • calendar_month Kamis, 2 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 832
    • 0Komentar

    KEHANDALAN perangkat desa yang didukung dengan sistem pengelolaan pemerintah yang akuntabel, transparan, dengan melibatkan peran aktif masyarakat, akan meminimalkan terjadinya potensi korupsi pada pengelolaan keuangan di desa. Dalam keterangan resmi yang diterima InfoPublik, Kamis (2/12/2021), pesan tersebut disampaikan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexader Marwata saat peluncuran Program Desa Antikorupsi di Kampung Mataraman, Desa Panggungharjo, […]

  • Idul Adha Momentum Teladani Kisah Nabi Ibrahim & Ismail

    Idul Adha Momentum Teladani Kisah Nabi Ibrahim & Ismail

    • calendar_month Senin, 11 Jul 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.194
    • 0Komentar

    BUPATI Ogan Komering Ilir, H. Iskandar, SE bersama Ketua TP PKK, Hj. Linda Sari Iskandar dan keluarga menunaikan Ibadah Solat Idul Adha di Masjid Al-Furqon, Desa Celikah Kayuagung. Lebaran sebelumnya orang nomor satu di Kabupaten OKI ini melaksanakan sholat ied di Masjid Agung Sholihin Kayuagung. Dalam kesempatan tersebut, Bupati OKI Iskandar mengajak untuk menjadikan Hari […]

  • Uang Garuda Masih Goyang, Begini Kata Gub Bank Sentral

    Uang Garuda Masih Goyang, Begini Kata Gub Bank Sentral

    • calendar_month Selasa, 22 Mei 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.912
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Jakarta –  Pergeraka Uang Garuda belum stabil, hingga perdagangan hari ini, Selasa (22/5/2018) rupiah masih berada di angka Rp14.190 turun tipis dari posisi kemarin sempat tembus di angkat Rp14.202 per dollar AS. Melansir Bloomberg Dollar Index, pada pukul 17.11, Senin (21/5/2018), Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 34 poin atau 0,24% ke level Rp14.190 […]

  • AJI, IJTI, PFI, dan PWI di Sumsel Bersemuka Semeja  Bahas Isu-Isu 2021

    AJI, IJTI, PFI, dan PWI di Sumsel Bersemuka Semeja Bahas Isu-Isu 2021

    • calendar_month Selasa, 5 Jan 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 907
    • 0Komentar

    PALEMBANG – Empat pimpinan organisasi wartawan konstituen Dewan Pers, Aliansi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTV) Sumsel, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Sumsel, dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumsel, bersemuka semeja. Dalam Outlook Series ke-3 Jurnalis 2021, mereka membahas Isu Profesionalisme Jurnalis, Senin (4/1/2021). Peserta daring , Maspril Aries, memberikan apresiasi terhadap […]

expand_less
WordPress Archive Ultimate Reviewer WordPress Plugin For WPBakery Page Builder Ultimate Sliders Bundle – Layers, Parallax, Zoom Ultimate Smart Slider – WordPress Ultimate Social – Easy Social Share Buttons and Fan Counters for WordPress Ultimate Timeline – Responsive Timeline History Ultimate Tweaker for WordPress Ultimate User Export & Filter for WordPress Ultimate Video Player Ultimate Video Player WordPress Plugin Ultimate WhatsApp Chat | WordPress WhatsApp Chat Support Plugin