Seni & Budaya

Pandemi Melanda, Lestari Tari Tradisi Berlanjut

DI MASA pandemi, dan saat kaum milenial lebih akrab dengan seni budaya yang berasal dari luar, Elly Rudi merasa terpanggil. Terlebih, Wawako Palembang Fitrianti Agustinda memberi dukungan berupa tempat latihan dan sarana pendukung lainnya.
Maka, sejak tiga bulan lalu, dia menargetkan akan mengakrabkan enam tari tradisi kepada anak-anak. Baik itu, anak usia sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama.
“Dua di antara tarian yang akan diajarkan itu adalah Tari Gending Sriwijaya dan Tari Tanggai. Yang lainnya adalah Tari Kipas, Tari Sabung, Tari Kembang Emas dan Tari Bedana,” ujar bunda yang kelahiran Tanjungenim, 75 tahun yang lalu.
Pelatihan tari tradisi ini, juga memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bersosialisasi. Karena selama masa pandemi ini, mereka lebih banyak berada di rumah. Belajar pun, secara daring. “Supaya anak didik tidak gadget minded. Yang bisa membuat mereka jenuh. Karenanya, dua tiga pulau terlampau dengan pelatihan ini. Lestarikan tari tradisi, mengenalkan milenial dengan tradisi, memberi peluang sosialisasi, dan menghidupkan kembali tari tradisi yang sempat tenggelam. Tentunya dengan melaksanakan protokol kesehatan yang ketat,” tambah Bunda Elly.
Di lokasi tari, terlihat tempat pencucian tangan dengan air mengalir lengkap dengan sabun. Juga, anak-anak wajib mengenakan masker, serta latihan dilaksanakan dengan menjaga jarak.
Bunda Elly, dalam perkawinannya dengan sang suaminya, Rudi Syafruddin dianugerahi empat putra-putri, yakni Swarna Maha Reza, S.Sos., Swarga Arya Eza, S.Pd., Permata Safira, S.E., dan Puspa Dita, S.Si. Kini putra-putrinya sudah dewasa dan berkeluarga, maka dia punya waktu luang untuk berbagi ilmu. Meski, waktu yang dimilikinya juga harus dibagi untuk aktivitasnya di beberapa organisasi kesenian, dan juga melatih menari di Bukit Siguntang, yang disiapkan Dewan Kesenian Sumsel (DKSS).
Dengan mengajar tari, Bunda Elly merasa mendapatkan kesempatan untuk berbagi ilmu. “Terutama untuk tiga tarian, kipas, kembang emas, dan kipas, yang sempat tenggelam dan kurang dikenal masyarakat. Kalau diajarkan ke anak-anak, kaum milenial, maka mereka akan lebih mengenal seni tradisi,” tambahnya.
Sementara, untuk tari Gending Sriwijaya, Tanggai, dan Bendana, merupakan tarian yang sudah selayaknya terus dilestarikan dan diwariskan.
“Karenanya, ketika Bu Wawako menyampaikan keinginannya untuk mengenalkan tarian tradisi ke anak-anak dan kaum milenial, saya langsung meresponnya,” ujar alumni FKIP Bahasa dan Seni Unsri tahun 1967 ini.
Kini, setiap Sabtu dari pukul 13.00 sd 16.00 WIB, Bunda Elly terlihat bersemangat mengajarkan tarian ke anak-anak usia SD dan SMP yang berminat dan ingin menguasai tarian tradisi. Sedikitnya, ada 30 anak yang tak kalah semangatnya dengan sang pelatih, untuk berlatih menari.
“Sebenarnya, waktu yang ideal itu dua kali seminggu. Tetapi, saya yang waktunya terbatas. Semoga, dengan waktu yang tersedia, harapan agar tarian tradisi bisa lestari dan kaum milenial juga menguasai kekayaan budaya sendiri, bisa terealisasi,” ujarnya di sela-sela latihan di Rumah Dinas Wawako, di Jalan Seruni, Bukit Besar Palembang.
Menggeluti dunia tari, telah dilakoni Bunda Elly Rudi sejak 1962. Saat itu, dia masih duduk di bangku kelas I SMA Xaverius. Di usia sepuhnya, penari yang masih energik ini keukeuh membina anak-anak di usia dini agar kenal dan menguasai tari tradisi.
Istri Rudi Syafrudin ini, awalnya dulu bergabung dengan Sanggar Gending Sriwijaya pimpinan Sukaenah Rozak. Temannya, diantaranya Ana Kumari.
Selain penari, Elly Rudi atau nama kecilnya Elly Anggaraini Soewondo ini, kemudian mencipta tari. Begitupun Ana Kumari. Kalau Elly Rudi antara lain mencipta Tari Tanggai, yang diiiringi lagu enam saudara. Sementara Ana Kumari, ciptaannya, antara lain Tari Tepak Keraton.
Kini, pandemi covid 19 masih berlanjut. Tetapi, kondisi ini tidaklah menjadi penghalang bagi usaha pelestarian dan pengembangan tari tradisi. Justru di tengah pandemi yang mengikat dan semuanya terbatas, usaha pelestarian terus berjalan. Semoga, pandemi segera berakhir dan tari tradisi semakin elekat dengan kalangan milenial. (**) muhamad nasir

Comments

Terpopuler

To Top