Minggu, 11 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Seni & Budaya » Rumah Dinas, Rumah Kesenian, “Saatnya Seni Duduk di Meja Utama”

Rumah Dinas, Rumah Kesenian, “Saatnya Seni Duduk di Meja Utama”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Selasa, 15 Apr 2025
  • visibility 1.586
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Suatu hari yang tidak biasa di Ruang Audiensi Wawako Palembang, sekelompok manusia berseragam sederhana datang membawa semangat yang tidak bisa diredam. Mereka bukan pemodal, bukan pengusaha properti, bukan pula kontraktor jalan. Mereka adalah seniman, orang-orang yang hidupnya diwarnai nada, garis, gerak, dan kata.

Mereka datang bukan untuk menuntut, tapi menyapa. Bukan untuk menyindir, tapi mengajak bersinergi. Karena sejatinya, seni itu seperti air  dia tak pernah ingin menguasai, cukup diberi ruang, maka ia akan mengalir, menyegarkan, dan menyuburkan.

Di ruang itu, Dewan Kesenian Palembang (DKP) periode 2024–2029 menyampaikan niat baik  memperkenalkan kepengurusan baru, dan meminta arahan terkait pelantikan. Tapi kemudian, dari balik suasana resmi, muncul satu kalimat Wakil Walikota Prima Salam yang menggema seperti gong kemenangan. “Silakan pakai Rumah Dinas Walikota untuk pelantikan.”

Tunggu dulu.

Ini bukan sekadar tawaran tempat. Ini simbol. Dan simbol itu penting.

Kalau selama ini kesenian sering seperti anak kos numpang di mana-mana, sering diundang kalau ada acara, tapi jarang dianggap bagian dari keluarga, maka kali ini ceritanya berbeda. DKP diundang masuk ke “ruang tengah” rumah besar bernama Kota Palembang. Di tempat yang biasanya jadi panggung politik dan kebijakan, kini seni mendapat tempat.

Kalau diibaratkan keluarga, ini seperti menantu yang akhirnya diundang duduk di ruang makan setelah bertahun-tahun cuma disuruh bantu cuci piring di dapur. Pelantikan di Rumah Dinas Walikota bukan cuma soal panggung dan spanduk. Ini soal pengakuan.

Contoh konkret? Di banyak kota besar dunia, kantor walikotanya sering jadi tuan rumah pembukaan pameran seni lokal, peluncuran buku, sampai pertunjukan orkestra. New York punya “Mayor’s Arts Awards”, di mana para seniman lokal disambut dengan karpet merah  oleh pemerintah kota.

Ada lagi di Melbourne, pemerintah kotanya menggandeng kolektif seniman jalanan untuk memperindah tembok-tembok kota bukan malah dicat ulang warna abu-abu tiap kali mural muncul. Di Seoul, ada “Seoul Foundation for Arts and Culture” yang langsung berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk mendanai proyek komunitas dari seni teater sampai tari kontemporer.

Seoul punya yayasan khusus seni budaya yang programnya jalan beriringan dengan agenda pemkot, dari seni tari sampai festival kuliner.

Itu di luar negeri yang seni itu lebih dipandang berharga, tapi jangan jauh-jauh dulu, mari lihat contoh dalam di negeri sendiri, di Yogyakarta, kesenian bukan sekadar hiburan, tapi jantung budaya kota. Pemkot dan komunitas di sana bersinergi menghidupkan Taman Budaya Yogyakarta, membina sanggar, dan menggelar festival dari jazz sampai wayang.

Bandung punya gedung-gedung kreatif seperti Bandung Creative Hub, di mana pemuda bisa ngumpul bikin karya, diskusi, sampai pameran seni. Semua disokong oleh pemerintah kota dan dibuka gratis untuk publik. Surabaya? Lewat Festival Rujak Uleg, pemkot berhasil meramu budaya, kuliner, dan seni dalam satu momen yang bukan cuma menghibur, tapi mendatangkan wisatawan dan menghidupkan UMKM.

Nah, masa Palembang kalah? Kita punya jembatan legendaris, kampung budaya di 3 Ilir, rumah limas yang ikonik, dan segudang seniman dari musik, tari, lukis, sampai film pendek. Kalau semua ini disambungkan ke mesin yang bernama kebijakan dan difasilitasi sungguh-sungguh, Palembang bukan cuma bisa berseni, tapi bisa hidup dari seni.

Oleh sebab itu ke depannya, semoga DKP tak hanya berurusan dengan pelantikan dan seragam, tapi juga jadi mitra strategis dalam mendesain wajah budaya kota. Tidak cuma tampil saat ada seremoni, tapi benar-benar ikut dalam narasi.

Karena kalau seni cuma jadi pajangan, ya sama saja seperti lukisan mahal yang digantung di ruang tamu tapi ditutup taplak karena takut debu, pemerintah juga wajib mendukungnya karena salah satu aset daerah.

Dan kita? Mungkin belum sampai sana, tapi langkah DKP dan Pemkot Palembang ini sudah menuju arah yang benar. Kalau seni terus diberi ruang, bukan tak mungkin Palembang kelak punya panggung seni jalanan rutin di bawah Jembatan Ampera, atau tur mural kampung budaya seperti di Penang, Malaysia.

Kalau ada yang masih menganggap seniman itu cuma kerja kalau ada pentas, sebaiknya duduk sebentar dan ngobrol dengan pelaku seni. Di balik puisi yang indah ada malam tanpa tidur. Di balik panggung yang megah, ada latihan berbulan-bulan. Di balik mural di tembok kota, ada tangan yang kotor, punggung yang pegal, dan ide yang kadang butuh kopi lima gelas untuk muncul.

Seni itu kerja keras yang tak kalah dengan proyek bangunan. Bedanya, kalau jalan rusak kelihatan, jiwa rusak tidak langsung tampak. Di sinilah seni bekerja menambal luka sosial, menyambung nalar yang koyak, menyatukan yang berbeda.

Dan ketika Pemkot bilang siap mendukung, itu bukan hadiah. Itu bentuk keadilan.

Salah satu hal yang mencuat dalam audiensi itu adalah harapan terhadap Gedung Kesenian Palembang. Bangunan itu seharusnya jadi terminal gagasan, taman bermain imajinasi, dan ruang ekspresi warga kota karena potensinya luar biasa. Misalnya, jika setiap Jumat sore ada “Panggung Bebas”, di mana anak-anak muda bisa tampil musik akustik, stand-up comedy, atau baca puisi. Setiap Sabtu ada kelas teater terbuka, yang bisa diikuti siapa pun, dari anak SMA sampai ojol yang ingin belajar akting dan Minggu pagi ada “Pasar Seni”—bazar karya lukis, kerajinan, zine, sampai workshop batik modern. Wow pasti keren…!!

Dan semuanya hidup. Bukan cuma bangunan yang berdiri, tapi denyut budaya yang bergerak.

Komitmen Pemkot untuk melibatkan DKP dalam program seni di sekolah patut kita sambut dengan peluk dan tepuk tangan. Karena sekolah yang baik bukan cuma mencetak juara olimpiade matematika, tapi juga melahirkan anak yang tahu cara menari, menulis cerita, dan memainkan angklung.

Seni di sekolah adalah investasi rasa. Di situ anak-anak belajar mendengarkan, menghargai perbedaan, dan mengekspresikan diri tanpa takut. Mungkin kelak bukan semua murid jadi seniman, tapi minimal mereka tumbuh jadi manusia utuh yang tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan cukup menyanyi.

Apa yang terjadi antara DKP dan Pemkot Palembang bukan sekadar agenda pelantikan. Ini adalah momentum. Sebuah permulaan dari ekosistem seni yang tidak dibangun dari atas menara gading, tapi dari ruang audiensi yang penuh senyum dan secangkir niat baik.

Kalau ini dijaga, diperluas, dan dirawat, kita bisa punya kota yang tidak cuma megah dalam beton, tapi juga dalam batin. Di mana pembangunan tak melupakan panggung, tak meninggalkan kanvas, tak mengabaikan syair. Mari kita bantu DKP bukan hanya dengan dana, tapi dengan kepercayaan. Mari kita bantu Pemkot bukan hanya dengan kritik, tapi dengan partisipasi.

Karena seni bukan urusan segelintir orang. Ia adalah milik semua. Dan kota yang besar, tak hanya dibangun oleh insinyur dan ekonom, tapi juga oleh pelukis, penari, penyair, dan pemimpi. Dan semoga, langkah pertama itu dimulai dari Rumah Dinas, untuk kemudian menyapa rumah-rumah seni lainnya, dan akhirnya… rumah kita semua.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Urap Bik Cik Moya, Resep Segar, Lezat, dan Gaya Kocak”

    “Urap Bik Cik Moya, Resep Segar, Lezat, dan Gaya Kocak”

    • calendar_month Minggu, 21 Sep 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.310
    • 0Komentar

    SIAPA bilang urap itu cuma sayur dicampur kelapa parut?, kalau urap ala Bik Cik Mona, rasanya bukan cuma bikin lidah joget poco-poco, tapi juga hati ikut melompat kegirangan. Bik Cik Mona itu ibarat maestro dapur, kalau masak, sayur-sayuran di piring bisa bernyanyi sendiri karena senang dicampur tangan penuh cinta dan humor. Bahan-bahan Urap Bik Cik […]

  • Utamakan Damai, Polda Sumut Bakal Pakai Restorative Justice untuk Pedagang Dipukul Malah Tersangka

    Utamakan Damai, Polda Sumut Bakal Pakai Restorative Justice untuk Pedagang Dipukul Malah Tersangka

    • calendar_month Sabtu, 16 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 704
    • 0Komentar

    KAPOLDA Sumatera Utara (Sumut) Irjen Pol. Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si., menjelaskan perkembangan terbaru penanganan kasus pedagang dipukul preman malah menjadi tersangka. Kapolda Sumut mengatakan pihaknya bakal mengedepankan restorative justice dalam kasus ini. “Setelah kita tarik perkara itu ke Polda ini masih dalam proses, kita percayakan saja bahwa kita akan tetap melakukan pendekatan restorative […]

  • Sesuai Aksi Kerjasama ASEAN, Infrastruktur Jaringan Listrik Tingkatkan Penggunaan Energi Baru Terbarukan

    Sesuai Aksi Kerjasama ASEAN, Infrastruktur Jaringan Listrik Tingkatkan Penggunaan Energi Baru Terbarukan

    • calendar_month Senin, 25 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.603
    • 0Komentar

    MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengharapkan pembangunan infrastruktur jaringan listrik di Asia Tenggara (ASEAN Power Grid), dapat meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) di kawasan regional tersebut. Kebijakan ini akan mendorong pencapaian komponen EBT dengan target peningkatan kapasitas daya terpasang EBT di ASEAN hingga 35 persen pada 2025. Dilansir dari […]

  • Cegah Stunting, Ini Yang Diprogramkan Pemkot Palembang

    Cegah Stunting, Ini Yang Diprogramkan Pemkot Palembang

    • calendar_month Jumat, 15 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 917
    • 0Komentar

    PEMERINTAH Kota Palembang terus berkomitmen dalam percepatan penanggulangan stunting atau kekerdilan dengan melaksanakan berbagai upaya seperti pemetaan ibu hamil. “Dengan mengalokasikan dana yang akan kita manfaatkan untuk betul-betul menyelesaikan stunting serta pemetaan ibu-ibu hamil yang berpotensi stunting,” ujar Ketua Penanggulangan Stunting, yang juga Wakil Wali Kota Palembang, Fitrianti Agustinda, usai memimpin rapat membahas percepatan penanganan […]

  • Pemindahan IKN, Kemenhub Akan Siapkan Sarana Transportasi Terintegrasi

    Pemindahan IKN, Kemenhub Akan Siapkan Sarana Transportasi Terintegrasi

    • calendar_month Jumat, 28 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.612
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Perhubungan sedang menyiapkan rencana pembangunan sistem transportasi yang cerdas, terintegrasi, dan ramah lingkungan, untuk mendukung sektor transportasi terhadap rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan, pihaknya telah menyampaikan kebutuhan penambahan anggaran untuk persiapan dan pembangunan sektor transportasi IKN tahun […]

  • Tindaklanjut Program Adhyaksa ‘Peduli Anak Umang’, OKI -Kejari resmikan percepatan pembuatan akta kelahiran & KIA

    Tindaklanjut Program Adhyaksa ‘Peduli Anak Umang’, OKI -Kejari resmikan percepatan pembuatan akta kelahiran & KIA

    • calendar_month Rabu, 15 Mei 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.093
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,  – Menindaklanjuti  program Adhyaksa Peduli Anak Umang yang diinisiasi  Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Pemkab OKI dan Kejaksaan Negeri (Kejari) OKI resmikan percepatan pembuatan akta kelahiran dan Kartu Identitas anak (KIA). Penjabat (Pj) Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) diwakili Pj. Sekda M. Refly MS. S.Sos MM mengatakan sesuai Undang-undang Pengelolaan Kependudukan Nomor 23 Tahun 2006, […]

expand_less
WordPress Archive Iconic WooCommerce Attribute Swatches Iconic WooCommerce Bundled Products Iconic WooCommerce Custom Fields for Variations Iconic WooCommerce Delivery Slots Iconic WooCommerce Product Configurator Iconic WooCommerce Quickview Idea Mail – Minimal & Responsive Email Template iDea – Technology & IT Network Service Elementor Template Kit iDent – Dentist & Medical WordPress Theme IDonatePro - Blood Donation, Request And Donor Management WordPress Plugin