Religi

Trik Palembang Bikin Ulama Se-Sumatera Bersatu Tanpa Ribut

RUANGAN Asrama Haji Palembang kemarin rame banget. Ulama dari Aceh sampai Banten duduk bareng, sambil sesekali saling becanda mazhab satu sama lain.

Ada juga yang nyeletuk. “Kalau debat teori cuma di media sosial, jangan bawa ke mimbar!” dan semua ketawa, tapi mereka kompak, dan jangan salah, karena dibalik tawa itu, tersimpan strategi besar soal persatuan umat.

Semuanya berkumpul dalam Musyawarah Ulama dan Tokoh Umat (MUTU) 2026, forum yang terlihat santai, namun sebenarnya lagi bikin roadmap kebijakan moral dan sosial se-Sumatera.

Tengok saja, satu ruangan berisi tokoh dari berbagai provinsi, ngobrol soal akhlak, toleransi, sampai strategi politik, dan mereka nggak ada yang ribut. Itu baru luar biasa…keren!

Wali Kota Palembang, H Ratu Dewa, muncul di tengah keramaian dengan gayanya yang santai tapi tegas. Dia bilang “Pembangunan sejati itu bukan cuma gedung tinggi, tapi landasan iman, akhlak, dan persatuan umat.”

Kalau diterjemahkan bahasa kita, itu artinya “Bangun kota gampang, bangun hati rakyat itu yang susah.”

Walikota nggak cuma ngomong teori doang, dia memberi apresiasi ke MPUII ( Majelis Persatuan Umat Islam Indonesia ), “kayak pasukan anti-ribut” menyebarkan dakwah moderat, menjaga stabilitas sosial, dan bikin warga tetap rukun meski beda mazhab.

Jadi kalau ada yang bilang Palembang cuma terkenal pempek dan Jembatan Ampera, ingat, ada ulama dan pemerintah bersinergi kayak Batman dan Robin versi Sumatera.

Lalu muncul Prof Daniel M. Rasyid, Sekjen MPUII, yang bikin suasana makin hidup. Dia bilang, umat Islam harus melakukan transformasi gerakan silaturahmi lintas organisasi, lintas mazhab, sampai kontribusi politik yang cerdas dan damai. Intinya “Bersatu itu keren, ribut itu basi.”

Ada momen lucu juga. Seorang ulama dari Sumatera Utara nyeletuk “Kalau debat mazhab-nya ketemu di media sosial, aman. Kalau ketemu di mimbar, hati-hati jantungnya!”

Semua ketawa, tapi refleksinya dalem banget. Prof Daniel menambahkan, umat Islam harus tampil sebagai perekat nasional, bukan memecah belah.

Oleh karena itu,  jangan cuma rebutan kursi, rebutan nama, tapi rebutan manfaat nyata buat masyarakat luas. Pelajaran moral dari MUTU dapat banget sebab kesatuan dan akhlak lebih penting daripada ego kelompok.

Di sela-sela sesi serius itu,  ada juga diskusi ringan. Beberapa tokoh saling bercanda soal pengalaman dakwah di desa masing-masing. Ada yang cerita, pas ceramah, kambing tetangga ikut nimbrung.

“Dan warga kira itu tanda barokah!” semua ketawa, tapi cerita ini bikin kita sadar sebab Islam itu bukan cuma ritual, tapi interaksi sosial yang nyata dan manusiawi.

Nah, kalau kamu pikir acara ini cuma soal ulama ngobrol di AC dingin, itu salah besar. MUTU jadi workshop kebersamaan umat. Di Palembang nunjukin bahwa sinergi ulama, tokoh masyarakat, dan pemerintah bisa jadi booster pembangunan moral, sosial, dan toleransi.

Oleh sebab itu setidaknya menjadi pembelajaran untuk kota lain, kalau mau maju, jangan cuma mikirin gedung tinggi. Pikirin juga gedung moral warga-nya.

Kontribusi

Prof Daniel juga menekankan, umat Islam bisa berkontribusi di politik, tapi tanpa gaduh. Jadi nggak perlu ribut soal kursi, tapi fokus bikin kebijakan yang bener-bener bermanfaat untuk rakyat.

Ini juga refleksi buat kita semua, terkadang, yang bikin bangsa maju bukan jumlah gedung atau megaproyek, tapi tingkat kedewasaan warga dan pemimpinnya.

Lucunya, di sesi tanya jawab, ada yang nyeletuk “kalau semua ulama kompak, apa yang tersisa buat debat di  media sosial?”

Ketawa lagi, tapi itu nunjukin satu hal, kebersamaan bisa bikin konflik hilang, tapi humor tetap ada. Humor kecil itu nggak bikin serius hilang, malah bikin pesan moral lebih nyangkut di kepala.

Dari semua diskusi itu, pesannya yang muncul jelas, bangun kota, bangun hati warga, gedung tinggi penting, tapi lebih penting lagi soal akhlak masyarakat.

Selain itu bersatu tanpa ribut sebab silaturahmi lintas mazhab dan organisasi itu kunci stabilitas sosial. Dan terakhir kontribusi nyata itu keren sebab politik, sosial, dakwah harus bermanfaat, bukan bikin gaduh.

Kalau ditarik ke kehidupan sehari-hari, pelajaran dari MUTU bisa kita terapin juga, misalnya ngobrol sama teman yang beda pandangan, jangan langsung debat kusir.

Senyum, humor, dan niat baik bisa bikin diskusi tetap sehat tapi hasilnya produktif.

Jadi, Di Palembang kemarin bukan cuma jadi kota tujuan para ulama. Ia jadi panggung uji coba persatuan, bagaimana Islam moderat bisa bersatu dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Jadi kalau ada yang nanya “Kenapa Palembang bisa bikin ulama dari Aceh sampai Banten ngumpul tanpa ribut?” Jawabnya gampang deh… karena mereka serius bicara soal akhlak, santai soal gelar, dan nggak lupa humor.

Dan itu pelajaran besar buat kita semua karena persatuan dan “akhlak itu bisa bikin masyarakat maju tanpa ribut-ribut.” (***)

To Top