Menag Nasaruddin Umar Ungkap Cara Mengukur Keteladanan kepada Rasulullah: Lihat Istiqamah
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 17 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemenag.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Seberapa jauh seorang Muslim sudah meneladani Rasulullah SAW? Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut ada satu ukuran sederhana yang bisa digunakan untuk melihatnya, yakni istiqamah.
Menurut Nasaruddin, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan atau ditunjukkan pada momen Maulid Nabi. Keteladanan justru terlihat dari kemampuan seseorang menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Gampang kalau mau mengukur dirinya apakah seperti pengikut Rasulullah atau bukan, ukurannya adalah istiqamah,” kata Nasaruddin saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Jami Attaqwa, Babelan, Bekasi, Selasa (25/8/2026).
Bagi Menag, istiqamah bukan hanya kemampuan mengulang sebuah perbuatan secara konsisten. Di dalamnya terdapat sejumlah karakter yang saling berkaitan dan menjadi bagian dari akhlak seorang Muslim.
Nasaruddin menyebutkan sembilan nilai yang dapat menjadi pijakan dalam menjaga istiqamah, yakni ikhlas, sabar, tawadu, ihsan, qana’ah, amanah, muru’ah, akhlak, dan al-haya atau rasa malu.
Ia menjelaskan, setiap nilai memiliki peran dalam membentuk pribadi yang mampu mempertahankan kebaikan. Ikhlas menjadi landasan dalam berbuat, sedangkan sabar membantu seseorang tetap bertahan ketika menghadapi berbagai keadaan.
Sementara itu, tawadu mengajarkan seseorang untuk tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ihsan mendorong umat untuk memberikan yang terbaik dalam setiap perbuatan.
Ada pula qana’ah yang berkaitan dengan sikap menerima dan mensyukuri apa yang dimiliki. Amanah menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan yang diberikan kepada seseorang.
Menurut Nasaruddin, muru’ah, akhlak, dan al-haya juga tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga kehormatan diri. Ketiga nilai tersebut ikut membentuk perilaku seorang Muslim ketika berhubungan dengan orang lain maupun ketika menjalani kehidupan sehari-hari.
Menag meminta umat tidak berhenti pada pertanyaan apakah dirinya mencintai Rasulullah SAW. Yang lebih penting adalah melihat apakah kecintaan tersebut sudah menghasilkan perubahan dalam sikap.
“Apakah kita akan menjadi umatnya Rasulullah, lihat kriterianya apakah saya istiqamah atau tidak,” ujarnya.
Nasaruddin kemudian mengaitkan istiqamah dengan akhlak Rasulullah. Baginya, meneladani Nabi Muhammad SAW bukan hanya tentang mengetahui kisah dan ajaran beliau, tetapi bagaimana nilai tersebut terus dipraktikkan.
“Inilah akhlaknya Rasulullah yaitu akhlakul istiqamah,” tutur Nasaruddin.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Bekasi. Momen Maulid tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi ruang untuk mengevaluasi sejauh mana teladan Nabi hadir dalam perilaku umat.
Dengan demikian, istiqamah menjadi semacam cermin untuk melihat kembali praktik keberagamaan sehari-hari. Nilai seperti ikhlas, sabar, amanah, tawadu hingga menjaga rasa malu tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi perlu dijaga agar menjadi kebiasaan.
Oleh sebab itulah, keteladanan kepada Nabi Muhammad SAW tidak berhenti sebagai kecintaan, melainkan terlihat dalam akhlak dan perilaku yang terus dipelihara dari waktu ke waktu. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
