Jumat, 9 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Properti » Renovasi Rumah Rakyat Tak Layak Huni Tanpa Uang Negara

Renovasi Rumah Rakyat Tak Layak Huni Tanpa Uang Negara

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
  • visibility 802
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BICARA soal rumah, orang Indonesia punya istilah klasik rumahku istanaku, tapi kalau istananya bocor, temboknya retak, dan gentengnya tinggal menunggu waktu jatuh pas lagi masak mie instan, ya ujung-ujungnya jadi istanaku ajang drama Korea. Begitulah kira-kira kondisi sebagian warga di Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, sebelum Program Berbenah Kampung hadir.

Nah, Minggu malam (31/8/2025), Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait alias Ara datang langsung menyaksikan Serah Terima Kunci Tahap II. Bedanya dengan seremoni lain, acara ini bukan sekadar potong pita sambil foto-foto pakai kemeja putih. Ini betulan ada isinya rumah tidak layak huni direnovasi tanpa uang negara.

Iya, tanpa APBN, Bung! Bayangkan program ini jalan karena gotong royong yayasan, pengusaha, dan CSR perusahaan. Salah satunya Yayasan Budha Tzu Chi yang memang terkenal kalau urusan membantu rakyat selalu gaspol, tak pakai banyak teori. Ada juga Kadin dan beberapa perusahaan lain yang ikut nyumbang.

Di negeri ini, kata gotong royong sering jadi bintang tamu tetap di spanduk kampanye. “Mari Kita Gotong Royong Membangun Bangsa!” tulisnya. Tapi prakteknya? Kadang malah rakyat yang digotong royongkan untuk kepentingan kelompok kecil.

Program ini beda, di Johar Baru, rumah warga beneran direnovasi. Sampai sekarang sudah 66 unit selesai, dan targetnya 500 rumah rampung sebelum Lebaran. Bayangkan, orang yang biasanya mudik ke kampung halaman dengan rumah masih bocor, tahun ini bisa mudik dengan hati lega rumahnya sudah kinclong kayak habis make up.

Renovasi rumah rakyat lewat gotong royong ini ibarat masak rendang di dapur rumah gadang. Ada yang nyumbang daging, ada yang bawain santan, ada yang rajin ngaduk biar nggak gosong. Hasilnya? Semua bisa makan dengan kenyang.

Kalau hanya mengandalkan APBN, bisa jadi prosesnya panjang, penuh prosedur, plus rawan masuk gorengan politik. Tapi kalau kaya berbagi dengan miskin, perusahaan CSR ikut patungan, yayasan turun tangan, negara cukup jadi wasit, maka rumah pun jadi tanpa ribut-ribut.

Seperti pepatah lama Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, bedanya kali ini, yang dijinjing bukan ember arisan, tapi beban warga yang butuh rumah layak.

Ara, dalam sambutannya, blak-blakan bilang “Yang kaya berbagi dengan rakyat yang kekurangan. Keadilan itu bukan hanya dipidatokan, tapi dilaksanakan.”

Kalimat ini kayak tamparan halus. Kita sudah sering dengar pidato manis soal keadilan sosial. Dari podium ke podium, dari baliho ke baliho. Tapi rakyat di bawah masih tidur di rumah yang atapnya bocor tiap hujan deras. Jadi, kata Ara, jangan cuma pandai bikin quotes, tapi juga bisa kasih kunci rumah.

Kalau mau jujur, Johar Baru selama ini identik dengan padat, sempit, dan rawan kebakaran. Banyak rumah sudah tua, kalau hujan air bisa masuk lebih dulu ke ruang tamu ketimbang ke bak mandi. Anak-anak belajar sambil nangkring di kursi biar kaki nggak kena banjir.

Dengan program ini, wajah kampung perlahan berubah. Rumah diperbaiki, lorong-lorong terlihat lebih rapi, dan warga punya kebanggaan baru. Kalau dulu malu ajak tamu karena rumah reot, sekarang bisa pamer rumah yang lebih sehat.

Satu catatan penting program ini sukses karena ada peran CSR perusahaan.  CSR jangan hanya dijadikan bahan konten Instagram perusahaan dengan caption puitis “Kami peduli rakyat kecil”. CSR yang sejati ya yang seperti ini nyata, membangun, menyentuh kehidupan sehari-hari.

Karena kalau cuma bagi-bagi sembako lalu dipotret, itu namanya Corporate Selfie Responsibility.

Di sini ada pelajaran moral, kekayaan itu bukan hanya untuk beli tas branded atau gonta-ganti mobil mewah. Ada tanggung jawab sosial yang melekat. Kalau yang kaya mau berbagi, yang miskin bisa tersenyum, negara jadi kuat, dan konflik sosial bisa diredam.

Seperti pepatah Jawa urip iku urup  hidup itu menyala ketika bisa memberi manfaat bagi sesama.

Renovasi rumah rakyat lewat gotong royong tanpa APBN ini bisa jadi model pembangunan partisipatif. Pemerintah tak selalu harus jadi bank berjalan. Cukup mengawal, memastikan adil, dan memberi arah, sisanya, biarkan masyarakat, pengusaha, yayasan, dan semua pihak yang peduli ikut bergerak.

Bayangkan kalau model ini dikembangkan di banyak daerah. Bukan hanya rumah, tapi juga sekolah, klinik, bahkan ruang terbuka hijau bisa dibangun dengan pola yang sama. Negara tidak jebol anggaran, masyarakat ikut merasa memiliki, dan hasilnya lebih cepat terasa.

Program Berbenah Kampung di Johar Baru memberi pesan sederhana tapi dalam, gotong royong masih relevan di zaman penuh gawai dan gosip seleb. Bahwa berbagi tak harus menunggu anggaran cair dari pusat. Dan bahwa keadilan sosial, sebagaimana diucapkan Ara, bukanlah orasi kosong, tapi kunci rumah yang nyata bisa diputar di pintu.

Akhirnya, rumahku istanaku tak lagi sekadar slogan manis. Bagi warga Johar Baru, kini sudah bisa jadi kenyataan. Dan semoga pepatah lama ini benar: kalau rumah sudah rapi, hidup pun ikut tertata.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sandiaga Rela Berikan Sepatu yang Dipakainya untuk Warga Malut, Kenapa ?

    Sandiaga Rela Berikan Sepatu yang Dipakainya untuk Warga Malut, Kenapa ?

    • calendar_month Rabu, 7 Nov 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.088
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, MALUKU UTARA – Ada- ada saja, strategi kampanye dilakukan para kandidat,  guna mendapatkan simpatik masyarakat. Dari blukan ke pasar hingga memberikan barang yang dikenakannnya. Salah satu, yang dilakukan Calon Wakil Presiden Nomor Urut 02, Sandiaga Uno rela memberikan sepatu yang dipakainya kepada seorang warga bernama Anti Buamona di Pasar Higienis Gamalama, Ternate, Maluku Utara, […]

  • transportasi-online

    Wahai Driver, Tolong Catat.! Pemerintah Ngomong Begini Terkait Transportasi Daring

    • calendar_month Sabtu, 21 Okt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.208
    • 0Komentar

    Pemilik taksi online menjadi anggota koperasi tidak perlu mengalihkan aset milik anggota menjadi milik koperasi

  • Apresiasi Para Tokoh dan Forkopimda Atasi Berbagai Persoalan Daerah

    Apresiasi Para Tokoh dan Forkopimda Atasi Berbagai Persoalan Daerah

    • calendar_month Selasa, 11 Okt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 764
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, OKI-Bupati Ogan Komering Ilir (OKI), H. Iskandar, SE menyampaikan apresiasinya kepada para tokoh dan Forkopimda  yang telah memberikan dukungan kepada pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan di daerah. Apresiasi tersebut disampaikan Iskandar dalam rapat paripurna dalam rangka hari jadi Ke 77 Kabupaten OKI di Ruang Rapat Paripurna, Gedung DPRD OKI, Selasa, (11/10). “Capaian yang kita raih […]

  • OKI Kirim 114 Kontingen pada FORNAS VI Sumsel

    OKI Kirim 114 Kontingen pada FORNAS VI Sumsel

    • calendar_month Jumat, 1 Jul 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 709
    • 0Komentar

    KABUPATEN Ogan Komering Ilir (OKI) mengirimkan sebanyak 89 Atlet dan 25 offficial pada ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional VI di Sumatera Selatan. Para atlet dan official ini berasal dari 5 Induk Organisasi Olaharaga Inorga binaan Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Ogan Komering Ilir , yaitu AKTI (Aliansi Kungfu Tradisional Indonesia), ATNI (Asosiasi Taijiquan […]

  • Dampak Bencana Siklon  Tropis Serojak, Ribuan Warga NTT Masih  Ngungsi

    Dampak Bencana Siklon  Tropis Serojak, Ribuan Warga NTT Masih  Ngungsi

    • calendar_month Kamis, 15 Apr 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 955
    • 0Komentar

    WARGA di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terdampak bencana yang picu oleh siklon tropis Seroja. Lebih dari 12.000 warganya masih mengungsi di sejumlah titik pengungsian, sedangkan pemerintah daerah terus melayani warga terdampak pascabencana. Data BNPB per Rabu (14/4), pukul 20.00 WIB, mencatat 12.334 penyintas. Dari jumlah tersebut, jumlah warga yang mengungsi terbesar di Kabupaten Rote […]

  • Inilah 4 Prioritas Kebijakan Pembangunan Sumsel

    Inilah 4 Prioritas Kebijakan Pembangunan Sumsel

    • calendar_month Senin, 12 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 987
    • 0Komentar

    “Pembahasan Renja bilateral OPD dengan Bappeda,”

expand_less
WordPress Archive Veltrix – Admin & Dashboard Template Veneno – Coronavirus Information WordPress Theme Venexy – Lawyer Elementor Kit Venezia – Digital Marketing WordPress Theme Vento – Event Organizer Elementor Template Kit Venturr – Venture Capital & Investment Elementor Template Kit Venus | News Magazine Blog WordPress Verbalizer – Language Courses & Learning Center Elementor Template Kit Verdantia – Landscaping and Garden WordPress Theme Verina – Mental Health Elementor Template Kit