DI internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumatera Selatan, peluit panjang akhirnya ditiup. Bukan tanda bubar barisan, apalagi bubar jalan, tapi menandakan pergantian sopir setelah beberapa tahun setir dipegang Ramlan Holdan. Kini kemudi DPW PKB Sumsel resmi berpindah ke tangan Nasrul Halim atau yang lebih akrab disapa Alung.
Mobilnya masih PKB, jalannya tetap politik, tapi rutenya disetel ulang. Mesin dipanaskan, kaca spion dicek, dan penumpang terutama yang muda diminta tak cuma duduk manis, tapi siap ikut pegang setir.
Pergantian nahkoda ini bukan datang mendadak seperti hujan sore di Palembang. Prosesnya panjang, berlapis, dan penuh seleksi. Musyawarah Wilayah (Muswil) PKB Sumsel sudah digelar sejak akhir Desember 2025, menghasilkan lima nama kandidat yang masuk bursa.
Lima nama itu bukan kaleng-kaleng, ada Nasrul Halim sendiri, kemudian Ramlan Holdan selaku Ketua DPW sebelumnya, SN Prana Putra Sohe yang merupakan anggota DPR RI, Sutami Ismail Ketua DPC PKB Palembang, serta Nilawati, anggota DPRD Sumsel yang kemudian memilih mundur di tahap Uji Kelayakan dan Kepatuhan (UKK) di DPP.
Dari Muswil, cerita berlanjut ke bab paling menentukan fit and proper test di DPP PKB. Di sinilah semua kandidat ‘ditimbang’ bukan pakai timbangan pasar, tapi pakai ukuran elektabilitas, kapabilitas, dan kesiapan memimpin lima tahun ke depan.
Hasilnya, satu nama keluar sebagai pemenang seleksi panjang itu Nasrul Halim.
“Iya sudah keluar, susunan KSB (Ketua, Sekretaris dan Bendahara) DPW PKB Sumsel,” ujar Sekretaris DPW PKB Sumsel terpilih, Sutami Ismail, sabtu (24/1/2026).
Usai kepengurusan diketok, arah gerak PKB Sumsel pun ditegaskan. Tak ada euforia berlebihan, tak ada selebrasi seperti juara turnamen tarkam. PKB Sumsel memilih langkah yang lebih tenang tapi strategis, konsolidasi internal dan penguatan struktur partai.
“Fokus kita saat ini konsolidasi internal penguatan struktur,” tegas Sutami.
Tak hanya itu, PKB Sumsel juga menegaskan komitmen memberi ruang lebih luas bagi kader muda untuk masuk dalam berbagai struktur penting. Pesannya jelas yang muda jangan cuma jadi pelengkap foto, tapi disiapkan sebagai pemain inti.
Untuk menopang kepengurusan periode 2026- 2031, DPW PKB Sumsel juga diperkuat dua politisi berpengalaman yang kini duduk sebagai anggota legislatif.
Pengalaman dijadikan rem, regenerasi dipasang sebagai gas, kombinasi klasik agar mesin partai tak oleng di tikungan politik.
Pergantian kepemimpinan di tubuh PKB Sumsel bukan sekadar ganti nama di papan struktur. Ini adalah upaya menata ulang barisan, merapikan mesin partai, dan menyiapkan regenerasi agar PKB tetap relevan dan kompetitif dalam lima tahun ke depan.
Di bawah komando Nasrul Halim, PKB Sumsel memilih tidak langsung tancap gas. Mesin dipastikan hidup normal, baut dikencangkan, dan arah disepakati bersama. Sebab dalam politik seperti juga di jalanan Sumsel yang paling penting bukan siapa paling kencang, tapi siapa yang paling siap sampai tujuan. (***)