Minggu, 20 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pojok Fisip UIN Raden Fatah » Frame Media dan Politik di Indonesia

Frame Media dan Politik di Indonesia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 10 Feb 2022
  • visibility 1.902
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kekhawatiran banyak kalangan masyarakat terkait potensi tidak profesionalnya berita politik dalam media penyiaran negeri maupun swasta, tampaknya benar-benar terjadi. Dapat kita saksikan bersama seperti pada masa kampanye pemilihan presiden misalnya, secara kuantitas potensi dukungan media televisi kepada capres Prabowo-Hatta lebih besar dibandingkan dengan capres Jokowi-JK.  MNC TV, Global TV,  RCTI, TV ONE,  dan ANTV, dekat ke Prabowo-Hatta, sementara Metro TV ke Jokowi-JK. Yang menarik, ruang-ruang diskursif politik tidak sebatas bermodal dana kampanye yang menggunung, tetapi sekaligus oleh modal stabilitas media dalam menopang citra personal calon. Arus deras dukungan media televisi, menjadi satu magnet tersendiri, sebab siapa yang menguasai media, maka ia berpotensi menguasi suara.

Politik media adalah gerakan strategis untuk mendapatkan kemenangan yang telah digaris. Keberpihakan media dalam skala politik tentu bukan sesuatu yang instan dan tanpa sebab. Para pemangku kebijakan dalam industri media dalam hal ini pemilik media telah sejak awal menisbatkan kiprahnya dalam pusaran politik praktis. Sehingga, keberpihakan media terhadap salah satu calon, tidak ditentukan oleh nalar dan kadar profesionalitas jurnalisme, tetapi oleh kepentingan partikular pemilik media.

Di sini, media televisi terancam menjadi mobilitas politik yang mengabaikan netralitas media sebagai penghubung kepentingan publik. Memang, secara formalitas tidak ada satu pun televisi yang secara struktur mendeklarasikan dukungan kepada pihak manapun. Tetapi, porsi pemberitaan yang berlebihan adalah kunci untuk melihat bagaimana sesungguhnya dinamika televisi hari ini. Agensi (pelaku dalam industri) akan me-realy berita-berita yang sesuai dengan pilihan politik para pemilik media. Potret semacam ini tidak saja bermasalah karena terkait netralitas, tetapi oleh pemfungsian pada ‘jalan lain’ frekuensi publik yang menjadi hak publik. Berupa berita perporsional sebagai mandat konstitusional. Realitas semacam ini telah menimbulkan kontradiksi, pertama, kontradiksi yang bersumber dari media sebagai instrumen hegemoni isu dan semangat netralitas. Kedua, benturan kontradiksi berkaitan dengan aturan kepentingan publik dengan napas media yang menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan pemilik. Kedua benturan tersebut sesungguhnya merupakan problem pelik demokratisasi media. Ketika demokrasi diberikan seluas-luasnya, justru potensi keberpihakan pada politik menjadi sangat sulit ditepis. Isu-isu politik akan digiring pada kamuflase tentang sepak terjang calon tertentu secara terus-menerus  dan pada saat yang bersamaan sangat minimalis pada kandidat yang lain.

“Dalam tulisan, Waren Breed (1955) Social control in The Newsroom , menegaskan bahwa gelombang media penyiaran pada akhirnya akan surut ketika politik telah masuk menjadi kanker kehidupan media massa, terutama televisi. Televisi menjadi sebuah black box karena sarat kepentingan politik yang turut menentukan arah  pemberitaan. Kerja televisi tidak sebatas berkutat pada proses linear, sekadar langkah-langkah kegiatan memproduksi berita. Tetapi, oleh ambisi politik salah satu kandidat yang dipaksakan.

Televisi telah menjelma menjadi dua arus besar. Pertama, televisi memainkan peran sebagai alat politik (political tool) terhadap kandidat, kemudian pada saat yang sama pendukung kritis (critical supporter) bahkan pembengkang (spoiler) terhadap  kandidat lain yang dianggap sebagai lawan. Ekspektasi ini akan mencederai gugus politik yang berkembang. Setidaknya bagi mereka yang tidak memiliki banyak dukungan dari media televisi akan berpotensi menjadi sasaran empuk instabilitas sebuah citra. Jika pada rezim Orde Baru televisi seperti RCTI, SCTV, dan Indosiar, harus mendukung penuh program pemerintah dan partai politik tertentu karena terancam oleh gerakan Represif State Aparatus, tetapi justru kini setelah semuanya bebas dan aman media menjelma menjadi penopang strategis gerakan politik.

95 kepemilikan stasiun televisi di negara berkembang selalu memiliki afiliasi dengan politik tertentu. Ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, berpotensi menjadi suplai tambah dalam menopang pembangunan infrastruktur media. Kedua, televisi berpengaruh dalam membangun citra positif, khususnya citra kelompok dan figur yang didukung. Ketiga, jaringan televisi sangat cepat dan efektif bagi penyabaran informasi dan inovasi pemerintah untuk program pembangunan para kandidat. Untuk kategori yang kedua dan terakhir, sangat relevan untuk menujukkan proses politik yang terjadi hari ini. Keterlibatan para pemilik media dalam pusaran politik telah menciptakan irasionalitas substantif yang dapat memengaruhi diaspora berita televisi.

Pertarungan capres pada titik klimaksnya melahirkan pertarungan citra melalui televisi yang sangat ketat. Sehingga, format berita yang ditampilkan menjadi kabur. Sukar untuk membedakan di mana berita yang benar-benar mencerminkan realitas yang netral dan realitas yang penuh keberpihakan. Televisi di satu sisi menjadi instrumen demokrasi, pada sisi yang lain ia menjadi instrumen politik pragmatis. Tidak lagi berpihak pada masyarakat sebagai mandat, tetapi berpihak pada salah satu kandidat. Demokrasi politik pada akhirnya riuh oleh sentimen politik dan kebencian yang dilahirkan oleh media penyiaran.

Hal ini sekaligus menunjukkan televisi yang memiliki keberpihakan pada proses politik kandidat capres telah menjelma menjadi ruang yang berpotensi melahirkan propaganda bukan informasi yang mencerahkan. Semangat untuk menayangkan berita yang penuh dengan nilai-nilai pendidikan dan high culture berorientasi  pada kepentingan, manfaat,  idealisme berwawasan publik, pada akhirnya jauh panggang dari api. Dinamika televisi yang berada di bawah bayang-bayang kepentingan politik  telah melahirkan berbagai kontradiksi yang membentur struktur dan idealisme televisi itu sendiri sebagai  instrumen demokrasi yang paling populis.

Penulis :  Andrian Sani

Mahasiswa Prodi Ilmu Politik

FISIP UIN Raden Fatah Palembang

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Setelah KTNA, Muba Ingin Jadikan Taman Agro Tempat Belajar Anak Sekolah

    Setelah KTNA, Muba Ingin Jadikan Taman Agro Tempat Belajar Anak Sekolah

    • calendar_month Jumat, 28 Jun 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 769
    • 0Komentar

    TAMAN Agro Inovasi Dinas TPHP Kabupaten Musi Banyuasin yang sebagai lokasi kunjungan para peserta Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan ke XIII tingkat Provinsi Sumatera Selatan akan tetap berlanjut dan dijadikan tempat wisata sekaligus untuk belajar anak-anak sekolah. Demikian diungkapkan Kepala Dinas TPHP Muba Thamrin disela acara Karya Wisata yang merupakan rangkaian kegiatan Peda KTNA […]

  • Alasan Ini Bikin BRIN Teliti Biosimilar Insulin

    Alasan Ini Bikin BRIN Teliti Biosimilar Insulin

    • calendar_month Selasa, 25 Okt 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 832
    • 0Komentar

      Sumselterkini.co.id, Cibinong –  Jumlah penderita diabetes diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia hingga 2045. Hal ini karena ada perubahan pola hidup. Indonesia sendiri termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes peringkat 5 terbesar di dunia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 8,5% dan biaya obat Diabetes Mellitus membebani BPJS. […]

  • Teka- teki tentang hewan punya nyali. Apa tuh!

    Teka- teki tentang hewan punya nyali. Apa tuh!

    • calendar_month Jumat, 16 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 822
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Ada teka-teki tentang hewan punya nyali.Lumayan untuk tambah-tambah referensi ente, main tebak-tebakan bersama anak-anak-Mu di malam libur sabtu. Coba simak di bawah ini, mungkin bisa bikin anakmu tertawa. Hewan apa yang berani mengejar singa? Jawaban: Semut. Meskipun ukurannya kecil, semut memiliki nyali besar dan bisa mengejar singa dengan jumlah yang banyak. Hewan apa yang […]

  • RT Di Kelurahan Sei -Selayur Keluhkan Warganya Banyak Tak Peroleh BLT dan Sembako

    RT Di Kelurahan Sei -Selayur Keluhkan Warganya Banyak Tak Peroleh BLT dan Sembako

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.543
    • 0Komentar

    KETUA Rukun Tetangga di Kelurahan Sei – Selayur, Kecamatan Kalidoni, Palembang mengeluh lantaran warganya masih banyak belum mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) senilai Rp600 ribu dan bantuan sembako dari Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Irsan, Ketua RT 38, RW 008 Kelurahan Sei- Selayur, Kecamatan Kalidoni Palembang menjelaskan, dari 107 Kepala Keluarga [KK], warganya. 34 KK merupakan […]

  • HD Didaulat Jadi Irup pada HAB Kemenag Sumsel

    HD Didaulat Jadi Irup pada HAB Kemenag Sumsel

    • calendar_month Kamis, 3 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 751
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang- Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-73 Tahun 2019 tingkat Provinsi Sumatera Selatan diperingati dalam upacara bendera bertempat di halaman Griya Agung Palembang, Kamis (3/1/2018) dengan inspektur upacara Gubernur Sumatera Selatan H Herman Deru SH MM, Dalam pidatonya tertulisnya Menteri Agama RI,  Lukman Hakim Saifuddin yang dibacakan Gubernur Sumsel H Herman […]

  • Progres Perbaikan Jalan Simpang Belimbing – Pendopo PALI 80%

    Progres Perbaikan Jalan Simpang Belimbing – Pendopo PALI 80%

    • calendar_month Minggu, 4 Okt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.399
    • 0Komentar

    DALAM lawatannya di Kabupaten  Panungkal Abab Lematang Ilir (PALI), Jumat (2/10) Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru  kunjungan kerjannya dengan meninjau  Ruas jalan Simpang Belimbing – Pendopo (PALI). Diketahui jalan simpang Belimbing-Pendopo memiliki  panjang kurang lebih 27 Km, merupakan jalan yang kewenangannya menjadi tanggung jawab provinsi. Saat ini progres pengerjaan jalan  sudah mencapai […]

expand_less
WordPress Archive Sox – Baseball Team Sports WordPress Theme Soziely | Social Media & Digital Marketing Agency Elementor Template Kit Space – Beauty Salon Elementor Template Kit Space | Furniture WooComerce Theme Space, Responsive Premium Moodle Theme Spacehub – Coworking & Creative Space Elementor Template Kit Spaciaz – Real Estate & Construction Group WordPress Theme Spaclub – Beauty Salon & Spa Service Booking WordPress Theme SpaLab | Beauty Salon WordPress Theme Sparker – Directory and Listings Template