Kamis, 5 Nov 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pojok Fisip UIN Raden Fatah » Frame Media dan Politik di Indonesia

Frame Media dan Politik di Indonesia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 10 Feb 2022
  • visibility 1.924
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kekhawatiran banyak kalangan masyarakat terkait potensi tidak profesionalnya berita politik dalam media penyiaran negeri maupun swasta, tampaknya benar-benar terjadi. Dapat kita saksikan bersama seperti pada masa kampanye pemilihan presiden misalnya, secara kuantitas potensi dukungan media televisi kepada capres Prabowo-Hatta lebih besar dibandingkan dengan capres Jokowi-JK.  MNC TV, Global TV,  RCTI, TV ONE,  dan ANTV, dekat ke Prabowo-Hatta, sementara Metro TV ke Jokowi-JK. Yang menarik, ruang-ruang diskursif politik tidak sebatas bermodal dana kampanye yang menggunung, tetapi sekaligus oleh modal stabilitas media dalam menopang citra personal calon. Arus deras dukungan media televisi, menjadi satu magnet tersendiri, sebab siapa yang menguasai media, maka ia berpotensi menguasi suara.

Politik media adalah gerakan strategis untuk mendapatkan kemenangan yang telah digaris. Keberpihakan media dalam skala politik tentu bukan sesuatu yang instan dan tanpa sebab. Para pemangku kebijakan dalam industri media dalam hal ini pemilik media telah sejak awal menisbatkan kiprahnya dalam pusaran politik praktis. Sehingga, keberpihakan media terhadap salah satu calon, tidak ditentukan oleh nalar dan kadar profesionalitas jurnalisme, tetapi oleh kepentingan partikular pemilik media.

Di sini, media televisi terancam menjadi mobilitas politik yang mengabaikan netralitas media sebagai penghubung kepentingan publik. Memang, secara formalitas tidak ada satu pun televisi yang secara struktur mendeklarasikan dukungan kepada pihak manapun. Tetapi, porsi pemberitaan yang berlebihan adalah kunci untuk melihat bagaimana sesungguhnya dinamika televisi hari ini. Agensi (pelaku dalam industri) akan me-realy berita-berita yang sesuai dengan pilihan politik para pemilik media. Potret semacam ini tidak saja bermasalah karena terkait netralitas, tetapi oleh pemfungsian pada ‘jalan lain’ frekuensi publik yang menjadi hak publik. Berupa berita perporsional sebagai mandat konstitusional. Realitas semacam ini telah menimbulkan kontradiksi, pertama, kontradiksi yang bersumber dari media sebagai instrumen hegemoni isu dan semangat netralitas. Kedua, benturan kontradiksi berkaitan dengan aturan kepentingan publik dengan napas media yang menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan pemilik. Kedua benturan tersebut sesungguhnya merupakan problem pelik demokratisasi media. Ketika demokrasi diberikan seluas-luasnya, justru potensi keberpihakan pada politik menjadi sangat sulit ditepis. Isu-isu politik akan digiring pada kamuflase tentang sepak terjang calon tertentu secara terus-menerus  dan pada saat yang bersamaan sangat minimalis pada kandidat yang lain.

“Dalam tulisan, Waren Breed (1955) Social control in The Newsroom , menegaskan bahwa gelombang media penyiaran pada akhirnya akan surut ketika politik telah masuk menjadi kanker kehidupan media massa, terutama televisi. Televisi menjadi sebuah black box karena sarat kepentingan politik yang turut menentukan arah  pemberitaan. Kerja televisi tidak sebatas berkutat pada proses linear, sekadar langkah-langkah kegiatan memproduksi berita. Tetapi, oleh ambisi politik salah satu kandidat yang dipaksakan.

Televisi telah menjelma menjadi dua arus besar. Pertama, televisi memainkan peran sebagai alat politik (political tool) terhadap kandidat, kemudian pada saat yang sama pendukung kritis (critical supporter) bahkan pembengkang (spoiler) terhadap  kandidat lain yang dianggap sebagai lawan. Ekspektasi ini akan mencederai gugus politik yang berkembang. Setidaknya bagi mereka yang tidak memiliki banyak dukungan dari media televisi akan berpotensi menjadi sasaran empuk instabilitas sebuah citra. Jika pada rezim Orde Baru televisi seperti RCTI, SCTV, dan Indosiar, harus mendukung penuh program pemerintah dan partai politik tertentu karena terancam oleh gerakan Represif State Aparatus, tetapi justru kini setelah semuanya bebas dan aman media menjelma menjadi penopang strategis gerakan politik.

95 kepemilikan stasiun televisi di negara berkembang selalu memiliki afiliasi dengan politik tertentu. Ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, berpotensi menjadi suplai tambah dalam menopang pembangunan infrastruktur media. Kedua, televisi berpengaruh dalam membangun citra positif, khususnya citra kelompok dan figur yang didukung. Ketiga, jaringan televisi sangat cepat dan efektif bagi penyabaran informasi dan inovasi pemerintah untuk program pembangunan para kandidat. Untuk kategori yang kedua dan terakhir, sangat relevan untuk menujukkan proses politik yang terjadi hari ini. Keterlibatan para pemilik media dalam pusaran politik telah menciptakan irasionalitas substantif yang dapat memengaruhi diaspora berita televisi.

Pertarungan capres pada titik klimaksnya melahirkan pertarungan citra melalui televisi yang sangat ketat. Sehingga, format berita yang ditampilkan menjadi kabur. Sukar untuk membedakan di mana berita yang benar-benar mencerminkan realitas yang netral dan realitas yang penuh keberpihakan. Televisi di satu sisi menjadi instrumen demokrasi, pada sisi yang lain ia menjadi instrumen politik pragmatis. Tidak lagi berpihak pada masyarakat sebagai mandat, tetapi berpihak pada salah satu kandidat. Demokrasi politik pada akhirnya riuh oleh sentimen politik dan kebencian yang dilahirkan oleh media penyiaran.

Hal ini sekaligus menunjukkan televisi yang memiliki keberpihakan pada proses politik kandidat capres telah menjelma menjadi ruang yang berpotensi melahirkan propaganda bukan informasi yang mencerahkan. Semangat untuk menayangkan berita yang penuh dengan nilai-nilai pendidikan dan high culture berorientasi  pada kepentingan, manfaat,  idealisme berwawasan publik, pada akhirnya jauh panggang dari api. Dinamika televisi yang berada di bawah bayang-bayang kepentingan politik  telah melahirkan berbagai kontradiksi yang membentur struktur dan idealisme televisi itu sendiri sebagai  instrumen demokrasi yang paling populis.

Penulis :  Andrian Sani

Mahasiswa Prodi Ilmu Politik

FISIP UIN Raden Fatah Palembang

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Soal Klaim Lahan SMKN 3 Kayuagung, Pesan Kajari OKI : Jangan Sampai Korbankan Kepentingan Masyarakat

    Soal Klaim Lahan SMKN 3 Kayuagung, Pesan Kajari OKI : Jangan Sampai Korbankan Kepentingan Masyarakat

    • calendar_month Rabu, 9 Nov 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 788
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, OKI – Kepala Kejaksaan Negeri Kayuagung, Dicky Darmawan, SH meminta kepada anggota masyarakat yang mengklaim lahan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kayuagung untuk tidak mengganggu ketertiban umum. “Ya tadi pagi saya bertemu dengan yang bersangkutan (ahli waris H. Jalil). Kita minta ini harus diselesaikan dengan baik dan benar jangan sampai mengganggu kepentingan publik” […]

  • Peringati Maulid Nabi, Bupati OKI Ngaji Bareng Gus Miftah

    Peringati Maulid Nabi, Bupati OKI Ngaji Bareng Gus Miftah

    • calendar_month Jumat, 22 Sep 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.145
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, -Bupati Ogan Komering Ilir, H. Iskandar, SE ngaji bersama Gus Miftah dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Nurul Anwar, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sungai Menang, OKI pada Kamis, (21/9/23).Bupati Iskandar menyampaikan kegiatan pengajian akbar  sebagai upaya menegakkan akidah dan memperkuat ukuwah islamiyah. “Ber-muamalah dalam kegiatan sehari-hari sebagaimana yang dianjurkan Nabi Muhammad […]

  • APBD Fokus Untuk Kesejahteraan Masyarakat, Ya, Emang Gitu Seharusnya, Pak Gub !!

    APBD Fokus Untuk Kesejahteraan Masyarakat, Ya, Emang Gitu Seharusnya, Pak Gub !!

    • calendar_month Kamis, 20 Feb 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.070
    • 0Komentar

    BPK maupun BPKP Sumsel diharapkan memberikan bimbingan kepada Walikota maupun Bupati serta instansi berwenang di Sumsel terkait soal regulasi yang berlaku dalam pengelolaan keuangan  daerah yang akuntabel, sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Bimbingan tersebut harus diberikan, agar penyelenggaraan pelaksanaan program pemerintah dapat berjalan baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hal itu dilakukan juga mengingat tidak […]

  • Kabut Asap Palembang Makin Terasa, 9.313 Kasus ISPA Tercatat Hanya dalam 21 Hari

    Kabut Asap Palembang Makin Terasa, 9.313 Kasus ISPA Tercatat Hanya dalam 21 Hari

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 41
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID – Kabut asap Palembang mulai menunjukkan dampak yang tak lagi sekadar mengganggu aktivitas warga. Dalam periode 1 hingga 21 Agustus 2026, Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat 9.313 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kondisi tersebut muncul ketika kualitas udara Kota Palembang memburuk. Pada Senin (24/8/2026) pagi, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tercatat mencapai 195 atau […]

  • Bebas Berekspresi Bikin Konten Unik dengan Filter dan AR Zone di Galaxy Z Flip5

    Bebas Berekspresi Bikin Konten Unik dengan Filter dan AR Zone di Galaxy Z Flip5

    • calendar_month Jumat, 29 Sep 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 6.727
    • 0Komentar

    Kamera Galaxy Z Flip5 bukan hanya memberikan hasil gambar yang terbaik, konsumen bisa juga merasakan berbagai fitur yang tidak biasa   Kecanggihan kamera bukan hanya dilihat dari seberapa besar megapiksel yang dimiliki oleh sebuah smartphone, namun dukungan fitur-fitur lain untuk membuat content making menjadi lebih praktis dan seamless juga tidak kalah penting. Galaxy Z Flip5, hadir dengan sejumlah fitur unggulan […]

  • “Anak Main Otok-Otok, Menteri Main Komitmen, Resep Indonesia Emas Rasa Cilok!”

    “Anak Main Otok-Otok, Menteri Main Komitmen, Resep Indonesia Emas Rasa Cilok!”

    • calendar_month Minggu, 20 Jul 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 690
    • 0Komentar

    PAGI minggu yang biasanya cuma ramai sama mamang-mamang jualan odading dan bocah main lato-lato, Bundaran HI mendadak kayak taman bermain raksasa!. Anak-anak lari-larian, main otok-otok, dan para menteri pun ikut lari, walau sebagian lebih lari dari kenyataan. Tapi tenang, bukan lari dari tanggung jawab. Hari Anak Nasional 2025 kali ini bukan sekadar seremoni tepuk tangan […]

expand_less
WordPress Archive Sox – Baseball Team Sports WordPress Theme Soziely | Social Media & Digital Marketing Agency Elementor Template Kit Space – Beauty Salon Elementor Template Kit Space | Furniture WooComerce Theme Space, Responsive Premium Moodle Theme Spacehub – Coworking & Creative Space Elementor Template Kit Spaciaz – Real Estate & Construction Group WordPress Theme Spaclub – Beauty Salon & Spa Service Booking WordPress Theme SpaLab | Beauty Salon WordPress Theme Sparker – Directory and Listings Template