Jumat, 9 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pojok Fisip UIN Raden Fatah » Frame Media dan Politik di Indonesia

Frame Media dan Politik di Indonesia

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 10 Feb 2022
  • visibility 1.912
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kekhawatiran banyak kalangan masyarakat terkait potensi tidak profesionalnya berita politik dalam media penyiaran negeri maupun swasta, tampaknya benar-benar terjadi. Dapat kita saksikan bersama seperti pada masa kampanye pemilihan presiden misalnya, secara kuantitas potensi dukungan media televisi kepada capres Prabowo-Hatta lebih besar dibandingkan dengan capres Jokowi-JK.  MNC TV, Global TV,  RCTI, TV ONE,  dan ANTV, dekat ke Prabowo-Hatta, sementara Metro TV ke Jokowi-JK. Yang menarik, ruang-ruang diskursif politik tidak sebatas bermodal dana kampanye yang menggunung, tetapi sekaligus oleh modal stabilitas media dalam menopang citra personal calon. Arus deras dukungan media televisi, menjadi satu magnet tersendiri, sebab siapa yang menguasai media, maka ia berpotensi menguasi suara.

Politik media adalah gerakan strategis untuk mendapatkan kemenangan yang telah digaris. Keberpihakan media dalam skala politik tentu bukan sesuatu yang instan dan tanpa sebab. Para pemangku kebijakan dalam industri media dalam hal ini pemilik media telah sejak awal menisbatkan kiprahnya dalam pusaran politik praktis. Sehingga, keberpihakan media terhadap salah satu calon, tidak ditentukan oleh nalar dan kadar profesionalitas jurnalisme, tetapi oleh kepentingan partikular pemilik media.

Di sini, media televisi terancam menjadi mobilitas politik yang mengabaikan netralitas media sebagai penghubung kepentingan publik. Memang, secara formalitas tidak ada satu pun televisi yang secara struktur mendeklarasikan dukungan kepada pihak manapun. Tetapi, porsi pemberitaan yang berlebihan adalah kunci untuk melihat bagaimana sesungguhnya dinamika televisi hari ini. Agensi (pelaku dalam industri) akan me-realy berita-berita yang sesuai dengan pilihan politik para pemilik media. Potret semacam ini tidak saja bermasalah karena terkait netralitas, tetapi oleh pemfungsian pada ‘jalan lain’ frekuensi publik yang menjadi hak publik. Berupa berita perporsional sebagai mandat konstitusional. Realitas semacam ini telah menimbulkan kontradiksi, pertama, kontradiksi yang bersumber dari media sebagai instrumen hegemoni isu dan semangat netralitas. Kedua, benturan kontradiksi berkaitan dengan aturan kepentingan publik dengan napas media yang menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan pemilik. Kedua benturan tersebut sesungguhnya merupakan problem pelik demokratisasi media. Ketika demokrasi diberikan seluas-luasnya, justru potensi keberpihakan pada politik menjadi sangat sulit ditepis. Isu-isu politik akan digiring pada kamuflase tentang sepak terjang calon tertentu secara terus-menerus  dan pada saat yang bersamaan sangat minimalis pada kandidat yang lain.

“Dalam tulisan, Waren Breed (1955) Social control in The Newsroom , menegaskan bahwa gelombang media penyiaran pada akhirnya akan surut ketika politik telah masuk menjadi kanker kehidupan media massa, terutama televisi. Televisi menjadi sebuah black box karena sarat kepentingan politik yang turut menentukan arah  pemberitaan. Kerja televisi tidak sebatas berkutat pada proses linear, sekadar langkah-langkah kegiatan memproduksi berita. Tetapi, oleh ambisi politik salah satu kandidat yang dipaksakan.

Televisi telah menjelma menjadi dua arus besar. Pertama, televisi memainkan peran sebagai alat politik (political tool) terhadap kandidat, kemudian pada saat yang sama pendukung kritis (critical supporter) bahkan pembengkang (spoiler) terhadap  kandidat lain yang dianggap sebagai lawan. Ekspektasi ini akan mencederai gugus politik yang berkembang. Setidaknya bagi mereka yang tidak memiliki banyak dukungan dari media televisi akan berpotensi menjadi sasaran empuk instabilitas sebuah citra. Jika pada rezim Orde Baru televisi seperti RCTI, SCTV, dan Indosiar, harus mendukung penuh program pemerintah dan partai politik tertentu karena terancam oleh gerakan Represif State Aparatus, tetapi justru kini setelah semuanya bebas dan aman media menjelma menjadi penopang strategis gerakan politik.

95 kepemilikan stasiun televisi di negara berkembang selalu memiliki afiliasi dengan politik tertentu. Ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, berpotensi menjadi suplai tambah dalam menopang pembangunan infrastruktur media. Kedua, televisi berpengaruh dalam membangun citra positif, khususnya citra kelompok dan figur yang didukung. Ketiga, jaringan televisi sangat cepat dan efektif bagi penyabaran informasi dan inovasi pemerintah untuk program pembangunan para kandidat. Untuk kategori yang kedua dan terakhir, sangat relevan untuk menujukkan proses politik yang terjadi hari ini. Keterlibatan para pemilik media dalam pusaran politik telah menciptakan irasionalitas substantif yang dapat memengaruhi diaspora berita televisi.

Pertarungan capres pada titik klimaksnya melahirkan pertarungan citra melalui televisi yang sangat ketat. Sehingga, format berita yang ditampilkan menjadi kabur. Sukar untuk membedakan di mana berita yang benar-benar mencerminkan realitas yang netral dan realitas yang penuh keberpihakan. Televisi di satu sisi menjadi instrumen demokrasi, pada sisi yang lain ia menjadi instrumen politik pragmatis. Tidak lagi berpihak pada masyarakat sebagai mandat, tetapi berpihak pada salah satu kandidat. Demokrasi politik pada akhirnya riuh oleh sentimen politik dan kebencian yang dilahirkan oleh media penyiaran.

Hal ini sekaligus menunjukkan televisi yang memiliki keberpihakan pada proses politik kandidat capres telah menjelma menjadi ruang yang berpotensi melahirkan propaganda bukan informasi yang mencerahkan. Semangat untuk menayangkan berita yang penuh dengan nilai-nilai pendidikan dan high culture berorientasi  pada kepentingan, manfaat,  idealisme berwawasan publik, pada akhirnya jauh panggang dari api. Dinamika televisi yang berada di bawah bayang-bayang kepentingan politik  telah melahirkan berbagai kontradiksi yang membentur struktur dan idealisme televisi itu sendiri sebagai  instrumen demokrasi yang paling populis.

Penulis :  Andrian Sani

Mahasiswa Prodi Ilmu Politik

FISIP UIN Raden Fatah Palembang

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • HUT ke-29, JNE Bikin Lomba Jurnalis se- Indonesia, Ikutan Yuk !

    HUT ke-29, JNE Bikin Lomba Jurnalis se- Indonesia, Ikutan Yuk !

    • calendar_month Rabu, 18 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.474
    • 0Komentar

    DALAM rangka menyambut ulang tahun ke-29 sekaligus mempererat hubugan baik dengan rekan – rekan wartawan di seluruh Indonesia, JNE bersama dengan Kompasiana menggelar JNE Journalist Competition 2019. Kali ini temanya adalah “Logistik Bagian dari Gaya Hidup di Era Digital”. Tema tersebut dipilih karena logistik atau aktifitas pengiriman paket telah menjadi bagian hidup sehari – hari di era digital. […]

  • Giliran Pelatih Budiarjo Dipecat Manajemen Sriwijaya FC

    Giliran Pelatih Budiarjo Dipecat Manajemen Sriwijaya FC

    • calendar_month Rabu, 17 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.120
    • 0Komentar

    Manajemen Klub Sriwijaya FC terus melakukan evaluasi di tubuh tim Laskar Wong Kito, setelah sebelumnya manajemen gencar mendepak sejumlah punggawa Sriwijaya FC. Kini giliran sang pelatih harus terdepak lantaran kontrak pelatih Budiardjo Thalib tidak diperpanjang alias dipecat. Kepastian itu dibenarkan Manajer Tim Sriwijaya FC, Muhammad Fadli dalam keterangan pres kepada wartawan, Rabu (17/2/2021) siang. “Salam […]

  • Harnojoyo Lantik 152 Pejabat Baru

    Harnojoyo Lantik 152 Pejabat Baru

    • calendar_month Jumat, 7 Feb 2020
    • account_circle Yosep Indra Praja
    • visibility 1.242
    • 0Komentar

    WALIKOTA Harnojoyo melantik 152 pejabat di lingkup Pemkot Palembang pada Jumat (7/2) pagi. Dari total tersebut 11 diantaranya merupakan pejabat Eselon II yang telah lama ditunggu untuk mengisi kekosongan dan rotasi, sesuai seleksi yang dilakukan beberapa waktu lalu. Dalam sambutannya, Harnojoyo meminta para pejabat melakukan percepatan pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat. Demi mewujudkan visi Palembang […]

  • Gunakan Sistem Digital, Jonan Optimistis Pertamina Mampu Bersaing

    Gunakan Sistem Digital, Jonan Optimistis Pertamina Mampu Bersaing

    • calendar_month Rabu, 25 Apr 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.089
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.ID, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Ignasius Jonan optimistis Pertamina mampu bersaing dengan menggunakan sistem digital dalam pengembangan bisnisnya. Ia menilai meski agak terlambat namun Pertamina bisa memanfaatkan sumber daya melalui sistem digital. “Digitalisasi dapat memberikan banyak manfaat pada sebuah industri, antara lain dalam manajemen risiko dan keselamatan kerja,” ungkapnya […]

  • Bupati Juga Turut Melepas, 28 Ekor Burung Curik Bali Dilepasliarkan di Taman Nasional Bali Barat

    Bupati Juga Turut Melepas, 28 Ekor Burung Curik Bali Dilepasliarkan di Taman Nasional Bali Barat

    • calendar_month Minggu, 24 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.550
    • 0Komentar

    28 EKOR burung Curik Bali (Leucopsar Rothschildi) dilepasliarkan di areal Cekik dan Labuan Lalang kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna K menjelaskan pelepasliaran ini merupakan hasil sinergi antara Balai TNBB Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana dan para penangkar di Yogyakarta melalui Balai Konservasi Sumber […]

  • Berguru ke Klungkung, TP PKK Muba Ingin Contoh Ini  

    Berguru ke Klungkung, TP PKK Muba Ingin Contoh Ini  

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 981
    • 0Komentar

    “Berkembang pesat sebab memiliki potensi pariwisata yang baik. Kurang lebih 15.000 pengunjung setiap tahunnya, namun sarana dan prasarana kesana belum memadai,”

expand_less
WordPress Archive Sox – Baseball Team Sports WordPress Theme Soziely | Social Media & Digital Marketing Agency Elementor Template Kit Space – Beauty Salon Elementor Template Kit Space | Furniture WooComerce Theme Space, Responsive Premium Moodle Theme Spacehub – Coworking & Creative Space Elementor Template Kit Spaciaz – Real Estate & Construction Group WordPress Theme Spaclub – Beauty Salon & Spa Service Booking WordPress Theme SpaLab | Beauty Salon WordPress Theme Sparker – Directory and Listings Template