Jumat, 2 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pojok Fisip UIN Raden Fatah » Eksistensi Oposisi untuk Demokrasi yang Konstruktif

Eksistensi Oposisi untuk Demokrasi yang Konstruktif

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 1 Apr 2023
  • visibility 2.374
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

DALAM perspektif etika demokrasi, oposisi politik bisa disebut suatu aktivitas parlementarian yang sangat terhormat, dalam tingkatan demokrasi ia dapat menduduki posisi tertinggi karena sanggup mengendalikan adanya bahaya mayoritarianisme. Oposisi, bukan hanya perlawanan sikap yang menentang kebijakan saja. Lebih dari itu merupakan sekelompok masyarakat diluar pemerintah yang dapat bertindak mengontrol secara tegas terhadap kebijakan penguasa yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat. Untuk mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi yang konstruktif perlu adanya peran checks and balances pada pemerintah yang datang dari partai maupun masyarakat sipil (civil society). Tidak ada yang dapat menjamin bahwa pemimpin yang dihasilkan secara demokratis dapat menjalankan asas-asas dan memprioritaskan kepentingan/kedaulatan rakyat.

Amatan para pemerhati politik Indonesia kontemporer pada umumnya mengisyaratkan sebuah paradoks bahwa Indonesia adalah contoh par excellent dari fenomena ketika mekanisme demokrasi dan eksistensi oligarki atau elitisme dapat saling mengisi atau hidup berdampingan pada saat bersamaan. Hal ini mengindikasi secara eksplisit bahwa produk kebijakan pemerintah bisa saja terbentuk karena untuk memprioritaskan keuntungan bagi para elitisme atau oligarki, bukan kebijakan yang berorientasi kepada masyarakat. Oleh karena itu oposisi memainkan peran yang fundamental bagi elemen berdemokrasi sebagai penyeimbang dan perlawanan bagi pemerintah yang tidak memihak kepada masyarkat.

Secara deskriptif oposisi menurut Frederick M. Barnard seorang ilmuan politik ialah “sebagai bentuk informal dari ketidakbersetujuan atau kontestasi di antara lembaga-lembaga pemangku kekuasaan, sementara oposisi politik adalah bentuk kontestasi yang terkait atau dijamin dalam konstitusi”. Seringkali juga ditemui interpretasi masyarakat secara umum bahwa oposisi dimaknai “berseberangan” atau dimaknai perlawanan atas sesuatu. Penulis sepakat dengan definisi yang dipaparkan oleh Kamil, S dalam buku Islam dan Demokrasi, Oposisi bukanlah sekadar sikap anti pemerintah atau asal berbeda, melainkan sebuah eksistensi yang memberikan kritik dan tawaran alternatif kebijakan dan kontrol atas penyelenggaraan pemerintahan. Oposisi adalah “pemihakan rasional” sebagai konsekuensi dari pelembagaan kontrol atas kekuasaan.

Esensi dari oposisi itu sendiri ialah memperjuangkan kedaulatan rakyat. Penguasa yang tak luput dari kesalahan dan keegoisan tak jarang akan menuaikan tindakan-tindakan koruptif yang berpotensi membangun dinasti atau kartel politik yang mereduksi hakikat dari demokrasi seperti mengkonstruksikan kekuasaan untuk digenggam pada satu tangan, menghalangi perbedaan pandangan, membungkam suara yang dianggap “bersebrangan”, dan yang paling destruktif adalah membangun kekuasaan yang mengarah pada tiranik atau despotik. Maka dari itu oposisi harus eksis dalam setiap lembaga untuk melawan, mengawasi dan mengontrol jalannya kebijakan-kebijakan yang di lakukan oleh pemerintah terutama yang dirasa merugikan masyarakat.

Partai oposisi harus bertindak sebagai pengeras suara untuk mempresentasikan kehendak rakyat. Maka, sebagai representasi rakyat partai oposisi harus berani mengkritik dengan tegas dan keras agar pemerintah tidak sewenang-wenang melahirkan kebijakan yang diproduksi untuk kalangan yang menguntungkan mereka saja. Partai oposisi setidaknya bisa menginisiasi dan mengutarakan alternatif kebijakan lain di luar pemerintahan yang bisa disuarakan. Dengan begitu, tentu akan ada lebih banyak pilihan kebijakan atau alternatif penyempurnaan atas kebijakan pemerintah yang sudah berjalan.

Namun, jika dirasa partai oposisi tidak efektif dalam menjalankan fungsi kontrol, maka kekuatan civil society akan menjadi inisiator dalam pengaplikasian oposisi. Peran lembaga diluar parlemen, seperti organisasi mahasiswa, media massa, lembaga swadaya masyarakat, menjadi alternatif yang efektif dalam memainkan peran sebagai fungsi kontrol dan penyeimbang (checks and balances). Politik oposisi pada hakikatnya adalah suatu yang melekat didalam demokrasi, yang dipraktekan untuk menjamin demokrasi supaya tetap bekerja dan memastikan monopoli kebenaran tidak boleh terjadi. Dalam konteks negara demokrasi, pemerintah tanpa pengimbang atau tanpa kontrol yang efektif dari oposisi maka akan cenderung mendekati pemerintahan yang otoriter.

Oposisi politik Indonesia dari sisi historis pernah tereduksi secara makna, karena rezim terdahulu berhasil mempersepsikan kepada publik bahwa oposisi itu sebagai sebuah kesalahan. Oposisi dicitrakan secara sistematis sebagai konotasi yang negatif dan dianggap terpengaruh oleh pandangan politik liberal yang pro-individualisme. Di era Orde Lama misalnya, dimana oposisi dicitrakan sebagai kontra-revolusi dan kegiatan beroposisi dianggap sebagai persuasi dari kekuatan asing. Budaya feodalistik ini mengalir ke rezim Orde Baru dimana mereka yang beroposisi dicap sebagai kelompok ekstrem, anti-Pancasila, dan anti-Pembangunan. Bahkan rezim juga tak segan-segan menggunakan aksi kekerasan untuk menundukkan kelompok yang berseberangan dengan pemerintah. Mereka yang bersikap antipemerintah akan dituduh mengganggu jalannya pembangunan. Indonesia pada masa itu memang lebih dekat dengan istilah yang dikemukakan Guillermo O’Donnell “delegaive democracy” yaitu demokrasi hidup di tengah lemahnya pelaksanaan checks and balances. Pada era itu, oposisi tetap ada namun eksistensinya lebih terasa diluar pemerintahan dengan civil society sebagai aktor utamanya, akan tetapi kekuatannya tidak seimbang dengan pemerintah.

Harus diakui dalam realitas politik nasional bahwa peran oposisi di Indonesia hingga saat ini masih belum solid. Kuatnya sikap pragmatisme dan oportunisme dalam politik praktis akan menyebabkan mudahnya komitmen oposisi mencair atau terbeli ketika berhadapan dengan tawaran-tawaran politik yang menggiurkan. Komitmen beroposisi juga akan sulit terbentuk karena masyarakat belum cukup kuat dalam mempertahankan kemandiriannya, terutama faktor ekonomi. Dengan lemahnya independensi politik dan ekonomi maka dengan mudah sikap kritis masyarakat dan pejabat akan diredam oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Praktisi oposisi seharusnya menjadi simbol aktualisasi dari Bhineka Tunggal Ika, meskipun berbeda pendapat, berbeda pandangan, berbeda warna partai, namun tujuannya tetap satu yaitu kesejahteraan rakyat Indonesia. Kekeliruan interpretasi yang diturunkan dari rezim-rezim sebelumnya harus diperbaiki dengan menanamkan spirit oposisi kepada kader partai maupun masyarakat. Parpol adalah institusi yang terkait langsung dengan pembentukan oposisi dalam pemerintahan. Sehubungan dengan parpol maka pembenahan sikap beroposisi pada prinsipnya adalah penguatan (kondisi) parpol itu sendiri, yang melibatkan tiga persoalan utama , yakni pertama, pemantapan ideologi, kedua, pelaksanaan kaderisasi, dan ketiga, kemandirian partai.

Selain kesadaran berdemokrasi, untuk menumbuhkan spirit oposisi juga perlu adanya keyakinan terhadap ideologi yang kuat. Masyarakat juga perlu didik melalui lembaga-lembaga formal maupun non formal yang edukatif serta media massa yang memuat kajian substansial dan informatif dengan tujuan untuk mengembangkan pendidikan politik tentang pembangunan demokrasi dan peran krusial oposisi, terutama terkait dengan hak dan kewajiban warga negara untuk berpartisipasi politik (termasuk melakukan kritik terhadap penguasa), patut menjadi agenda penting.[***]

 

Oleh :Ilham Rido Mahendra

Mahasiswa FISIP UIN Raden Fatah

 

 

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sumsel Tekan Angka Kemiskinan

    Sumsel Tekan Angka Kemiskinan

    • calendar_month Kamis, 3 Jan 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.300
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Palembang – Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru resmi mengukuhkan pengurus Komisariat Wilayah (Komwil) Forum Sekretaris Daerah Seluruh Indonesia (Forsesdasi) Komisariat Wilayah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Periode 2018- 2021, sore di Hotel Aryaduta, Jumat (3/1/2019). Pengukuhan tersebut berdasarkan Keputusan Komisariat wilayah forum Sekretaris Daerah Seluruh Indonesia Sumsel Nomor : 01/ Komwil Forsesdasi / 2019 […]

  • Alex Noerdin Sebut Pentingnya Status Zero Konflik untuk Investasi

    Alex Noerdin Sebut Pentingnya Status Zero Konflik untuk Investasi

    • calendar_month Jumat, 2 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 901
    • 0Komentar

    Di tangan para pengusaha yang terdiri dari anak muda inilah kemajuan daerah akan di bawa menuju perubahan yang lebih baik ke depan.

  • Bagaimana Pernilaian Gubernur Terhadap Rekam Jejak PSHT Cabang OKUT ?

    Bagaimana Pernilaian Gubernur Terhadap Rekam Jejak PSHT Cabang OKUT ?

    • calendar_month Sabtu, 7 Sep 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.430
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru menghadiri Wisuda dan Pengesahan Calon Warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang OKU Timur  Pusat Madiun Tahun 2019. Dipusatkan di Padepokan PSHT Desa Tugu Harum Kecamatan Belitang Madang Raya, Kabupaten OKU Timur, kemarin. Dalam arahannya Gubernur Sumsel H. Herman Deru menegaskan, sudah 95 tahun PSHT berdiri, dan selama itu […]

  • Dipastikan 1 Syawal 1440 H Jatuh Pada Hari Rabu Ini

    Dipastikan 1 Syawal 1440 H Jatuh Pada Hari Rabu Ini

    • calendar_month Senin, 3 Jun 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 914
    • 0Komentar

    1 Syawal 1440 Hijirah [Idul Fitri] dipastikan jatuh pada hari rabu 5 Juni 2019 setelah Kementerian Agama Sumsel bersama Badan Hisab Rukyat Sumsel, dan Pengadilan Agama Sumsel melakukan pemantauan hilal di atas gedung Hotel Aryaduta, Senin (3/6/2019). “Kami melakukan Rukyatul Hilal tepat pukul 17:58 WIB saat matahari terbenam, guna mendukung penetapan 1 Syawal 1440 H,”ungkap Kakanwail Kemenag […]

  • Pastikan Keamanan Obyek Vital Nasional, Polda Riau Laksanakan  Patroli Berskala Besar

    Pastikan Keamanan Obyek Vital Nasional, Polda Riau Laksanakan Patroli Berskala Besar

    • calendar_month Kamis, 14 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 830
    • 0Komentar

    KAPOLDA Riau, Irjen. Pol. Agung Setya Imam Effendi, S.H., S.I.K., M.Si., memimpin apel gelar pasukan skala besar, untuk pengamanan objek vital nasional di Rokan Hilir pada Rabu (13/10/2021). Rokan Hilir merupakan wilayah vital dalam eksplorasi blok rokan. Dilansir dari Tribratanews, Seperti diketahui, Kabupaten Rohil merupakan salahsatu daerah di Riau yang masuk dalam eksplorasi blok rokan […]

  • Pemerintah Terapkan Strategi Hilir-Hulu Digitalisasi Indonesia 

    Pemerintah Terapkan Strategi Hilir-Hulu Digitalisasi Indonesia 

    • calendar_month Rabu, 24 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.091
    • 0Komentar

    SALAH  satu wujud nyata dari transformasi digital nasional ditandai dengan kehadiran berbagai aplikasi yang menjawab kebutuhan dan kepentingan pelayanan pemerintah maupun masyarakat di berbagai sektor.  Menyikapi perkembangan saat ini, Pemerintah menerapkan strategi pembangunan infrastruktur digital dari hilir ke hulu. Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyatakan Pemerintah menerima banyak permintaan dari masyarakat dan pemerintah daerah […]

expand_less
WordPress Archive Fundra – Fundraising & Donation WordPress Theme Fundro – Charity Nonprofit WordPress Theme Funeral Service Responsive WordPress Theme Fungi – One Page Personal Portfolio WordPress Theme Funira – Custom Craft Furniture Elementor Template Kit Funnels Jetpack CRX Addon Funnia – Digital Agency Elementor Template Kit Furnatur – Furniture eCommerce Elementor Template Kit Furneta – Furniture Shop Elementor Template Kit Furnicom – Furniture Store & Interior Design WordPress WooCommerce Theme (10+ Homepages Ready)