Rabu, 7 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Peristiwa » Sisik Berdarah dan Jaringan Gelap: Ketika Trenggiling Lebih Mahal dari Berlian Korea

Sisik Berdarah dan Jaringan Gelap: Ketika Trenggiling Lebih Mahal dari Berlian Korea

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
  • visibility 692
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Jangan karena ingin kaya mendadak, malah jadi mendadak masuk bui. Sisik trenggiling itu bukan abon, kawan. Itu nyawa bergulir pakai sisik, bukan pakai helm!”

DI negeri yang katanya kaya flora fauna ini, trenggiling rupanya harus menyamar jadi batu akik demi bisa hidup tenang. Di hutan, ia mengendap-endap, bukan karena pemalu, tapi takut kepalanya dijadikan ‘souvenir’ dan sisiknya dijual ke pasar gelap internasional yang lebih licin dari minyak rambut Rhoma Irama.

Kabar terbaru dari Balai Gakkum Jabalnusra bikin bulu kuduk kita berdiri miring. Lagi-lagi ada yang tertangkap karena main sisik ilegal, bukan sisik ular tangga atau kepik emas, tapi sisik trenggiling, si makhluk nokturnal yang kalau berjalan suaranya kayak sendok jatuh di atas seng.

Tersangka terbaru, inisial PAI (bukan PAI pelajaran agama, ya), asal Kebumen, ditahan resmi karena diduga jadi makelar trenggiling. Dari kasus ini, terkuak bahwa 165 kilogram sisik itu setara dengan mayat lebih dari 400 trenggiling dewasa, kalau ini festival, ini bukan pesta rakyat, tapi pesta pembantaian!

Coba bayangkan, 400 trenggiling. Kalau semua ngumpul, bisa bikin orkestra sisik, atau bikin komunitas pecinta tidur siang. Tapi kenyataannya, mereka dijadikan barang dagangan yang konon harganya di pasar gelap bisa lebih tinggi dari bonus gaji ke-13 PNS. Di Cina atau Vietnam, sisik ini dipercaya bisa menyembuhkan reumatik, kanker, sampai patah hati. Sementara di Indonesia, trenggiling cuma minta hidup tenang dan makan semut. Ironis bukan?

Di luar negeri, seperti di Kenya dan Nepal, pemerintahnya rela menyisihkan anggaran khusus buat pelatihan “Satwa Rangers” semacam Hansip Hutan, tapi bersertifikat dan bersenjata kamera drone.

Di sana, membunuh satu gajah bisa bikin pelakunya dihukum lebih lama dari pelaku korupsi kelas kakap. Di Indonesia? Ya… baru juga nonton YouTube tentang trenggiling, eh udah muncul DM nawarin sisik asli. Luar biasa sekali mafia digital kita ini bisa buka cabang lebih cepat dari minimarket.

Gakkum Kehutanan kita memang tidak tinggal diam, mereka sudah menyiapkan strategi ala Avengers mulai dari patroli siber, operasi lapangan, sampai kerja sama lintas lembaga dan lintas doa. Tapi, tetap saja, sindikat ini ibarat cabe rawit dalam mie instan tersembunyi, tapi pedasnya minta ampun.

Mereka bergerak diam-diam, lintas provinsi, bahkan lintas dunia, dari warung kopi ke Grogol, dari Jawa ke luar negeri. Bukan jual beli biasa, ini mafia ekosistem.

Pak Dirjen Dwi Januanto dan Kepala BKSDA Pak Didid sudah bicara lantang. Mereka bahkan menyebut bahwa kejahatan ini sudah masuk definisi organized transnational crime ala UNODC dan INTERPOL. Tapi pertanyaan kritisnya apakah jerat hukum kita cukup tajam? Jangan sampai hukum kita cuma jadi jaring bolong, pelakunya lari sambil nyanyi dangdut.

Denda Rp5 miliar dan hukuman 15 tahun penjara memang terdengar berat, tapi kalau pelakunya cuma ‘kaki tangan’, bos besarnya enteng saja kabur lewat bandara, sambil nyaru jadi penumpang travel Umrah. Inilah PR besar negara memberantas jaringan, bukan cuma mengejar pelaku eceran.

Sisik trenggiling sudah jadi seperti valuta asing bagi para kriminal nilainya naik saat manusia makin hilang empati. Sungguh miris, ketika seekor hewan yang bahkan gak bisa melawan manusia jadi sasaran empuk kerakusan.

Coba bayangkan, kalau trenggiling bisa bicara. Mungkin dia akan bilang, “Kami ini bukan suku naga. Sisik kami bukan untuk gelang mistik atau obat awet muda. Kami hanya ingin hidup dan tidur nyenyak tanpa dijadikan bahan Instagram story penyelundup”

Negeri ini katanya Nusantara, negeri sejuta flora fauna, tapi kok, satwanya dijual, hutannya dibabat, airnya dikotori. Kita seperti membiarkan keindahan berubah jadi kenangan. Dan bila tidak segera sadar, anak cucu kita nanti cuma bisa mengenal trenggiling dari gambar stiker dinding TK.

Satwa ilegal

Perdagangan satwa ilegal bukan cuma soal hukum dan ekonomi gelap, ini soal moralitas, soal siapa kita sebagai manusia.

Di saat negara lain berlomba menjaga biodiversitasnya, kita malah membabat dan menjualnya. Ingat pepatah orang tua “Jangan jual rumah hanya demi beli payung saat hujan”. Begitulah alam kalau terus kita rusak, kita juga yang akan kehujanan tanpa atap.

Kita bukan cuma butuh penegakan hukum, kita butuh gerakan budaya, mengedukasi dari sekolah dasar, dari tayangan televisi, dari ceramah Jumat, bahkan dari obrolan tongkrongan. Bahwa menyelamatkan trenggiling itu bukan kerjaan aktivis, tapi tugas semua manusia yang masih punya hati.

Trenggiling bukan pahlawan super. Dia gak bisa terbang atau punya jurus api. Tapi keberadaannya menjaga keseimbangan ekosistem. Maka, mari jadi manusia yang tidak kalah dari semut makhluk kecil yang justru dihormati trenggiling. Karena kalau kita terus rakus, mungkin besok yang punah bukan cuma trenggiling, tapi rasa malu kita sebagai manusia.

“Jangan sampai kelak kita ditertawakan anak cucu, bukan karena kita miskin, tapi karena kita terlalu pintar membunuh yang tak bisa melawan”.

Sisik bukan untuk dijual, tapi untuk dilindungi. Trenggiling bukan untuk dimakan, tapi untuk dibiarkan makan dengan tenang. Negara bukan hanya untuk dihormati, tapi untuk hadir membela yang tak bersuara.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Palembang & PLN Bersatu, Pohon Dipangkas untuk Atasi Byarpet

    Palembang & PLN Bersatu, Pohon Dipangkas untuk Atasi Byarpet

    • calendar_month Kamis, 27 Mar 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.113
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Siapa di Palembang yang belum pernah ngalamin mati lampu mendadak? Lagi asyik nonton TV, kerja di laptop, atau sekadar santai di rumah, tiba-tiba listrik padam tanpa aba-aba. Bukan cuma bikin kesal, tapi juga bisa merugikan banyak orang, terutama pelaku usaha yang mengandalkan listrik untuk menjalankan bisnisnya. Inilah yang akhirnya mendorong Wali Kota Palembang, Ratu […]

  • Bupati Muba Dinobatkan Jadi Bapak Santri Millenial Muba

    Bupati Muba Dinobatkan Jadi Bapak Santri Millenial Muba

    • calendar_month Kamis, 3 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 939
    • 0Komentar

    LANTUNAN ayat Suci Alquran menggema di Stable Berkuda Sekayu, lantang suara ribuan santriwan dan santriwati serta warga Nahdlatul Ulama (NU) menyanyikan Lagu Ya Lal Wathan. Suasana ini merupakan rangkaian dari kegiatan peringatan HUT Muba ke-63 sekaligus Hari Santri Nasional Muba yang dipusatkan di Kota Sekayu, Rabu (2/10/2019). Sebelum berkumpul di Stable Berkuda Sekayu, ribuan santri yang […]

  • Cara Muba Evaluasi Kinerja 2021 & Tatap 2022

    Cara Muba Evaluasi Kinerja 2021 & Tatap 2022

    • calendar_month Jumat, 31 Des 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 713
    • 0Komentar

    PEMKAB Muba melakukan rapat guna mengevalusi capaian program kerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang sudah berjalan selama tahun 2021. Plt Bupati Muba Beni Hernedi Pimpin Rapat Kerja Evaluasi Capaian Pembangunan Kabupaten Musi Banyuasin Tahun 2021 dan Perencanaan Pembangunan Tahun 2023 – 2026, bertempat di Auditorium Pemkab Muba, Jumat (31/12/2021). Rapat Evaluasi ini sebagai momentum yang […]

  • Kembangkan Bibit Unggul, Gubernur Gandeng PT GMZ Biomega Utama

    Kembangkan Bibit Unggul, Gubernur Gandeng PT GMZ Biomega Utama

    • calendar_month Jumat, 21 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 843
    • 0Komentar

    GUBERNUR Sumsel H Herman Deru tak henti-hentinya mengajak semua pihak terus mensukseskan program gerakan Sumsel Mandiri Pangan (SMP). Termasuk mengandeng PT. GMZ Biomega Utama dalam pengembangan bibit unggul bagi masyarakat di Sumsel. “Saya minta juga kepada kepada PT. GMZ Biomega Utama, agar masyarakat dapat kemudahan dalam kemandiran pangannya melalui bibit unggul seperti cabai, tomat, bawang. […]

  • Dorong BBM Satu Harga di Muba

    Dorong BBM Satu Harga di Muba

    • calendar_month Jumat, 1 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.005
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Keluang- Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi  [BPH] Migas menggelar Sosialisasi Implementasi Sub Penyalur BBM bagi masyaakat Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), bertempat di Gedung Serbaguna Kecamatan Keluang, Jumat (1/3/2019). Menurut Komite Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, Ir H Ahmad Rizal SH MH FCBArb, sosialisasi ini digelar dengan tujuan mempercepat program BBM satu harga. […]

  • Ketika Si Manis Menjebak Umat [Marshmallow Bertopeng Halal]

    Ketika Si Manis Menjebak Umat [Marshmallow Bertopeng Halal]

    • calendar_month Kamis, 24 Apr 2025
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 953
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id,- Bayangkan anda lagi santai di ruang tamu, menonton sinetron sambil ngemil marshmallow rasa cokelat, eh tiba-tiba baca berita  label halal, tapi isinya babi, pasti kaget, pikiran juga gak karuan-karuan khusus muslim, ibarat seperti dikhianati mantan dua kali. Sakitnya itu bukan cuma di hati, tapi juga di kerongkongan yang baru saja menelan si empuk manis […]

expand_less
WordPress Archive Vertical Ultimate 3D Carousel WordPress & WooCommerce Plugin Verve – Creative Agency, Studio, Personal & Portfolio WordPress Theme Vespia – Creative Coming Soon WordPress Plugin Vestige – Museum Responsive WordPress Theme Vestre | Creative Photography & Portfolio WordPress Theme Vestry – Church Vethouse – Pet Care & Veterinary Theme Vetrio – Veterinary Clinic & Pet Care Elementor Template Kit VETS – Veterinary Medical Health Clinic WP Theme Vevent - Event Planner & Organizer Elementor Template Kit