Rabu, 28 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi » “Modal Asing Masuk, Duit Lokal Malah Kabur ke Luar”

“Modal Asing Masuk, Duit Lokal Malah Kabur ke Luar”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
  • visibility 955
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PERNAH dengar pepatah “air beriak tanda tak dalam”?, begitu pula kabar tentang arus modal asing ke Indonesia, ramai, heboh, penuh angka, tapi begitu dikupas, ceritanya kadang nggak semulus headline.

Bank Indonesia dalam Laporan Posisi Investasi Internasional (PII) Triwulan II 2025 dilaman resmi bi.go.id belum lama ini mencatat, kewajiban neto Indonesia naik jadi 244,3 miliar dolar AS, lebih tinggi dibanding triwulan I 2025 sebesar 226,3 miliar dolar AS. Aset finansial luar negeri (AFLN) juga naik tipis ke 536,8 miliar dolar AS, sementara kewajiban finansial luar negeri (KFLN) melonjak lebih besar ke 781,1 miliar dolar AS.

Sekilas kelihatan manis, modal asing deras masuk, aset kita di luar juga tumbuh, rasio terhadap PDB masih 17,2% (kata BI “aman”). Tapi kalau dibaca pakai kacamata kritis plus sedikit humor, ada paradoks lucu bin ironis uang asing betah masuk, duit lokal malah kabur ke luar. Mari kita bedah bareng, santai ala warung kopi.

Menurut BI, kenaikan KFLN banyak dipicu oleh penarikan pinjaman luar negeri sektor swasta, ibarat anak kos doyan ngutang ke warung, bilangnya buat “modal usaha kecil-kecilan”, padahal seringnya buat jajan mi instan ekstra topping. Kalau utangnya dipakai ekspansi bisnis produktif, mantap. Tapi kalau buat gaya hidup, hati-hati bisa jadi bom waktu.

Masih dari laporan BI, AFLN naik 0,7%, karena orang Indonesia tambah rajin investasi di luar negeri saham, obligasi, deposito. Analogi gampang rumah sendiri bocor tapi malah sibuk beli apartemen di Singapura.

Katanya sih buat diversifikasi, tapi ada yang nyeletuk “jangan-jangan ini versi halus capital flight”, ironisnya, ketika kita ajak tamu asing invest di Indonesia, warga kita sendiri justru sibuk nitip duit di luar negeri.

BI juga mencatat kenaikan nilai aset dan kewajiban dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS terhadap mata uang global, termasuk Rupiah. Efeknya? Nilai portofolio dalam dolar kelihatan naik.

Ini semacam ilusi optik ekonomi, ibarat gajian Rp 10 juta, lalu kurs dolar jeblok, pas dihitung dolar, seolah makin kaya. Padahal isi dompet nggak nambah sepeser pun.

Bank Indonesia bangga 92,2% kewajiban PII berjangka panjang, mayoritas investasi langsung, katanya bikin aman, karena investor asing nggak bisa cabut cepat.

Betul, tapi sisi lainnya, itu berarti nggak likuid, kalau ada krisis mendadak butuh dana segar, kita nggak bisa minta investor langsung cairkan modalnya. Pepatah Jawa bilang “Jer basuki mawa bea” – kemakmuran ada biayanya. Nah, biaya dari “aman tapi tidak cair” ini bisa bikin repot kalau badai datang.

BI menyebut rasio PII terhadap PDB pada triwulan II 2025 tetap terjaga di 17,2%, angka ini dipamer seperti nilai raport bagus. Tapi angka cantik belum tentu sehat.

Analogi orang obesitas bilang, “Lemakku cuma 17% kok,” padahal bobotnya segede gajah, tanpa perbandingan ke negara lain, rasio ini bisa menipu, jadi jangan terlalu cepat puas.

Kalau modal asing masuk lewat investasi langsung, pertanyaan berikutnya masuk ke sektor apa? Tambang nikel? Pabrik baterai? Properti?

Kalau mayoritas ke sektor ekstraktif, jangan kaget kalau keuntungan lebih banyak lari ke luar negeri, kita hanya kebagian remahan. Investasi asing itu mirip mertua, kalau sudah masuk rumah tangga, pasti ikut ngatur. Pertanyaannya ngaturnya bikin tambah makmur, atau justru bikin pusing?

Dan inilah punchline yang paling kocak, di saat asing betah menanam modal, warga kita sendiri malah giat naruh aset di luar negeri.

BI mencatat AFLN naik, sementara KFLN juga melonjak, ibarat pesta di rumah penuh tamu bawa kue, tapi tuan rumah kabur nongkrong di rumah tetangga. Ironis banget, orang asing justru lebih percaya sama Indonesia ketimbang orang Indonesia sendiri.

Data BI soal PII Triwulan II 2025 memberi cermin, bukan cuma soal angka, tapi soal mentalitas seperti swasta jangan kebablasan ngutang ke luar negeri, warga jangan lebih betah simpan duit di luar, pemerintah jangan terlalu cepat puas dengan angka manis.

Pepatah bilang “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”, kita sibuk pamer modal asing masuk, tapi lupa uang kita sendiri kabur.

Secara kasat mata, laporan Bank Indonesia menegaskan PII Indonesia masih aman kewajiban jangka panjang dominan, rasio terhadap PDB terjaga, dan investor asing percaya. Tapi paradoksnya jelas orang luar lebih optimistis, orang dalam justru hati-hati.

Kalau tren ini berlanjut, kita bisa jadi bangsa yang pestanya ramai karena tamu, sementara tuan rumah sendiri malah sembunyi. Pertanyaan sederhana tapi menohok, kapan orang Indonesia lebih percaya menaruh uang di negeri sendiri daripada di luar negeri?

Kalau belum, kita akan terus hidup dengan pepatah baru “Tamu lebih betah daripada tuan rumah”.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di OKI, 90 Pelanggaran Lalu Lintas Terjaring di Operasi Zebra Musi 2019  

    Di OKI, 90 Pelanggaran Lalu Lintas Terjaring di Operasi Zebra Musi 2019  

    • calendar_month Selasa, 5 Nov 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 966
    • 0Komentar

    SATUAN sat Lantas Polres OKI melaksanakan Operasi Zebra Musi 2019 di wilayah Hukum Polres OKI, Senin sore (4/11/19) dengan memberikan bukti pelanggaran secara langsung (Tilang) kepada para pelanggar lalu lintas dan langsung disidang di lokasi. Kepala Satuan Lau Lintas Polres OKI, AKP Amalia Kartika mengatakan, langkah ini diambil sebagai upaya memotong birokrasi dan mempercepat proses penegakan […]

  • Jangan Pergi Kalau Untuk Kalah

    Jangan Pergi Kalau Untuk Kalah

    • calendar_month Rabu, 11 Okt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 989
    • 0Komentar

    Palembang – Sebanyak 105 atlet dikirim Sumsel dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) ke XV tahun 2017 di Universitas Hasanuddin Makasar 14 Oktober. Pelepasan kontingen ini dilakukan langsung oleh Sekda Provinsi Sumsel Nasrun Umar, didampingi Ketua BAPOMI Sumsel Dr HM. zulkarnain di Graha Bina Praja Rabu (11/10).

  • Jokowi Sebut Lakalantas Masuk 5 Besar Penyebab Kematian, Ini Pesan untuk Milenial Palembang

    Jokowi Sebut Lakalantas Masuk 5 Besar Penyebab Kematian, Ini Pesan untuk Milenial Palembang

    • calendar_month Sabtu, 9 Mar 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.091
    • 0Komentar

    “Kalian kan kalau bermotor,  dalam sehari sering pulang pergi. Jadi hati-hatilah, Siapkan Semua Surat Menyurat dan Perlengakapan, terutama Helem,” Sumselterkinii.co.id, Palembang – Ribuan kaum milenial di Palembang tumpah ruah di sepanjang Jembatan Ampera, Bundaran Air Mancur,  Jalan Sudirman hingga Areal Benteng Kuto Besak [BKB] untuk ikut menghadiri  South Sumatra Millenial Road Safety Festival di Taman […]

  • Problem Framing Politik pada Media

    Problem Framing Politik pada Media

    • calendar_month Senin, 14 Okt 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.415
    • 0Komentar

    PAKAR Hukum UIN Raden Fatah, Dr Sadi Is, SHI, MH memaparkan pada pasal 1 ayat 3, menjelaskan Indonesia adalah Negara Hukum, untuk media sudah ada UU Pers No 40 tahun 1999, maka sulit untuk mempidana framing pada media. “Sulit untuk mempidana, karena framing itu bukan suatu yang bisa dipidana,” ungkapnya dalam Diskusi Framing Politik di Media yang digelar […]

  • Ini Menu Terbaik Saat Berbuka Puasa

    Ini Menu Terbaik Saat Berbuka Puasa

    • calendar_month Rabu, 27 Apr 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 663
    • 0Komentar

    SETELAH hampir 14 jam berpuasa, maka waktu berbuka menjadi momen yang paling dinantikan. Sayangnya, hal ini seringkali menjadi pemicu seseorang makan secara berlebihan pada saat berbuka puasa, dan cenderung mengonsumsi makanan yang kurang sehat. Jadi kalau sudah begitu, risiko terjadinya gangguan kesehatan bisa meningkat, terutama obesitas. Makan berlebihan dan salah memilih jenis makanan saat berbuka […]

  • Harga Minyak Goreng Terjangkau, Pemerintah Berlakukan Harga Rp14.000,-

    Harga Minyak Goreng Terjangkau, Pemerintah Berlakukan Harga Rp14.000,-

    • calendar_month Rabu, 19 Jan 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.003
    • 0Komentar

    PEMERINTAH mulai memberlakukan kebijakan minyak goreng Rp14.000 per liter hari ini, Rabu (19/01/2022) agar harga bagi masyarakat terjangkau. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekon) Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kebijakan ini berlaku di seluruh Indonesia tanpa ada perbedaan lokasi. “Pemberlakuan kebijakan satu harga untuk minyak goreng yakni sebesar Rp14.000,00 per liter akan di mulai pada hari […]

expand_less
WordPress Archive Advanced Mailchimp integration with ARForms Advanced Masonry Portfolio Builder Advanced Product Features Showcase for Elementor Advanced Product Fields for WooCommerce Advanced Security – PHP Register/Login System Advanced Segments Jetpack CRX Addon Advanced Themer for Bricks Adventure Tours – WordPress Tour/Travel Theme Advertisement Banner Addon for WPBakery Page Builder Advertisement & Branding Custom Content for Flow-Flow