Sabtu, 19 Sep 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Perbankan & Keuangan » Visa-Free Economy, Saat Dompet Digital Lebih Cair dari Politik

Visa-Free Economy, Saat Dompet Digital Lebih Cair dari Politik

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Sabtu, 30 Agt 2025
  • visibility 899
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

SEANDAINYA anda berdiri di bandara, paspor di tangan, wajah agak panik, karena antrean imigrasi panjang seperti antre minyak goreng subsidi. Sementara di layar ponsel, dompet digital Anda baru saja “cling” menerima transfer dari teman di luar negeri. Ironis ya? Masuk negara orang masih ditanyai petugas imigrasi, tapi uang Anda sudah lebih dulu melintasi perbatasan tanpa visa, tanpa stempel, tanpa “selamat datang”.

Inilah fenomena baru visa-free economy, kalau dulu pepatah bilang “uang tak mengenal batas”, sekarang benar-benar nyata. Dompet digital, QRIS lintas negara, dan blockchain sudah seperti pesulap, melipat jarak dan menyulap sekat-sekat geopolitik menjadi hanya sebaris kode transaksi.

Politik antarnegara kadang rumit, penuh drama dan negosiasi, satu pertemuan Internasional bisa molor karena debat soal kursi atau urutan bicara. Tapi dompet digital? Dia tidak peduli siapa presidennya, siapa menterinya, atau kursinya ditaruh di sebelah mana. Yang penting saldo cukup, QR ditembak, transaksi jalan.

Dompet digital itu ibarat tetangga yang nggak pernah ikut rapat RT, tapi paling rajin pinjem-meminjem panci. Diam-diam dia justru lebih produktif. Sementara politisi masih ribut soal siapa yang harus salam duluan, uang di dompet digital sudah berpindah lintas benua dengan kecepatan cahaya.

Pepatah Jawa bilang, “yen ono dalan cilik, nggo wae sing penting tekan tujuan” (kalau ada jalan kecil, ya dipakai saja, yang penting sampai tujuan). Nah, dompet digital itulah jalan kecil yang jadi jalan tol baru. Paspor bisa dihambat visa, politik bisa disandera kepentingan, tapi uang selalu cari celah.

Lucunya, kita sering lebih percaya transfer instan dibanding janji pejabat. Kalau dompet digital bilang “saldo sudah masuk”, ya sudah masuk. Nggak perlu Panitia Khusus atau Rapat Dengar Pendapat, sementara kalau politisi bilang “besok harga turun”, kadang yang turun malah daya beli rakyatnya.

Blockchain itu sistemnya transparan, semua transaksi tercatat, tidak bisa dihapus, bandingkan dengan diplomasi perjanjian ditandatangani, tapi besok bisa dianulir dengan alasan “perubahan situasi”. Blockchain tidak pernah PHP. Diplomasi?, seringkali PHP level Internasional.

Di sinilah letak filosofi visa-free economy uang jadi duta besar yang paling setia, tidak ada isu SARA, tidak ada konflik batas wilayah. Yang ada cuma kode unik dan saldo yang berpindah. Kalau dulu Bung Karno pidato keras melawan imperialisme, sekarang generasi Perry Warjiyo melawan dominasi dolar lewat QRIS cross-border dan Digital Rupiah, perlawanan sunyi, tapi dampaknya nyata.

Dompet digital ini mirip air, air bisa merembes, masuk lewat celah sekecil apa pun. Bisa jadi embun, bisa jadi banjir, sama halnya uang digital, bisa jadi rejeki kecil berupa cashback, bisa juga jadi tsunami transaksi lintas negara. Bedanya, kalau air harus tunduk gravitasi, dompet digital hanya tunduk pada jaringan internet.

Atau kita ibaratkan seperti burung merpati pos zaman dulu, kalau dulu kirim surat lewat merpati, sekarang kirim uang lewat server. Sama-sama melintasi batas negara, cuma merpati harus istirahat di atap rumah, sedangkan server cukup pakai pendingin ruangan.

Kita boleh ngakak membandingkan dompet digital dengan politik, tapi ada pesan serius kedaulatan ekonomi digital itu penting, jangan sampai kita cuma jadi pasar. Kalau dompet digital asing lebih populer dari karya anak bangsa, ya kita bisa keok di kandang sendiri. Pepatah Minang bilang, “kok indak pandai manyaok, urang kampuang awak nan mambuanyo”, kalau tidak pandai meracik, orang lain yang akan menikmatinya.

Artinya, kalau kita tidak serius membangun sistem pembayaran nasional yang kuat, dompet digital asing akan panen cuan dari tanah kita, sementara kita hanya jadi penonton.

Visa-free economy adalah kenyataan, uang digital sudah melintasi batas lebih cepat daripada turis backpacker. Tapi politik? masih sibuk ribut kursi rapat, saling lempar pantun, kadang malah perang urat saraf.

Kita butuh belajar dari uang digital sederhana, cair, tidak ribet, tidak baper, kalau politik bisa meniru fleksibilitas dompet digital, mungkin dunia lebih adem.

Pada akhirnya, pepatah lama tetap berlaku “di mana ada kemauan, di situ ada jalan”. tapi di era digital ini, pepatah baru muncul “di mana ada jaringan internet, di situ ada jalan transaksi”

Jadi, saat paspor masih diribetin visa, biarkanlah dompet digital jadi pahlawan lintas batas, karena di era modern ini, uang justru lebih cair dari politik  dan itulah cermin masa depan ekonomi kita.[****]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cegah Kejahatan Pinjol Illegal, Dua Aspek Ini Yang Perlu Diperhatikan

    Cegah Kejahatan Pinjol Illegal, Dua Aspek Ini Yang Perlu Diperhatikan

    • calendar_month Minggu, 17 Okt 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 783
    • 0Komentar

    KEPOLISIAN Negara Republik Indonesia kembali mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam bertransaksi pinjaman online. Hal ini karena masih masifnya laporan masyarakat yang menjadi korban penipuan pinjaman online illegal. Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Helmy Santika, S.H., S.I.K., M.Si., menyebutkan dua aspek yang perlu diperhatikan dalam melihat pinjaman online […]

  • Putuskan Mata Rantai Penularan Covid19, Maksimalkan Pencegahan

    Putuskan Mata Rantai Penularan Covid19, Maksimalkan Pencegahan

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 960
    • 0Komentar

    KETUA  TP PKK Muba Hj Thia Yufada Dodi Reza mengikuti Rapat Koordinasi Pencapaian Target Realisasi APBD 2020 dan Sosialisasi penggunaan masker, cuci tangan, jaga jarak, serta hindari kerumunan untuk Perubahan Perilaku Baru Masa Pandemi Covid-19 melalui Video Conference di SBP Kemendagri, Senin (10/08/2020). Dalam webinar ini, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mensosialisasi dan […]

  • Agar Program 1 Juta Rumah Lancar, APERSI Minta Pemda Tidak Hambat Perizinan

    Agar Program 1 Juta Rumah Lancar, APERSI Minta Pemda Tidak Hambat Perizinan

    • calendar_month Rabu, 7 Mar 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.215
    • 0Komentar

    “Jangan dipersulit, permudah perizinan, itu harapan Asosiasi,”

  • Melihat Tradisi ‘Midang Bebuke’ di Hari Lebaran, Tomas OKI bercerita asal mulanya

    Melihat Tradisi ‘Midang Bebuke’ di Hari Lebaran, Tomas OKI bercerita asal mulanya

    • calendar_month Sabtu, 13 Apr 2024
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 980
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Midang bebuke (arak-arakan pakaian adat pada hari lebaran) jadi tradisi turun temurun masyarakat Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI) Sumsel. Tradisi ini digelar pada hari ke tiga dan keempat lebaran Idul Fitri. Tahun ini gelaran midang terlihat semarak dan tertib. Arak-arakan Puluhan pasang pengantin terlihat mengelilingi sungai Komering diiringi musik jidur pada Jum’at, (12/4/24) […]

  • Kenapa LRT Bisa Dibangun di Palembang ? Begini Cerita Nasrul Umar

    Kenapa LRT Bisa Dibangun di Palembang ? Begini Cerita Nasrul Umar

    • calendar_month Jumat, 23 Feb 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.060
    • 0Komentar

    Berkat komitmen Gubernur Sumsel Alex Noerdin yang berhasil menarik pelaksanaan pembangunan LRT.

  • Puluhan anggota NII di Sumsel  kembali ke pelukan NKRI

    Puluhan anggota NII di Sumsel  kembali ke pelukan NKRI

    • calendar_month Kamis, 2 Jun 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 647
    • 0Komentar

    SEDIKITNYA 39 anggota Negara Islam Indonesia (NII) di dua desa, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT) meneteskan air mata saat mencium sang saka merah putih, Kamis (2/6/2022) siang di gedung Balai Rakyat Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) OKUT Provinsi Sumatere Selatan. Mereka mengucapkan janji sakral mencabut bai’at untuk kembali kepangkuan Negara Republik Indonesia (NKRI). Gubernur Sumatera Selatan […]

expand_less
WordPress Archive TaxPay – Advisor & Financial Consulting Elementor Template Kit Tayta – Single Property & Apartment Complex Theme TazZA – Organic Food Elementor Template Kit Team Booking – WordPress Booking and Appointment Scheduling System Team Builder — Meet The Team WordPress Plugin Team Grid – Team Member Showcase WordPress Plugin & Team Editor Team Member Carousel Addon For Elementor Team Showcase | WordPress Plugin Teamber | Team Member Collection for Elementor Teamer – SEO Marketing Elementor Template Kit