Sabtu, 15 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Perbankan & Keuangan » “48 Tahun Pasar Modal RI, Literasi Investasi Masih Payah?”

“48 Tahun Pasar Modal RI, Literasi Investasi Masih Payah?”

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Kamis, 11 Sep 2025
  • visibility 1.262
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PASAR modal Indonesia sudah 48 tahun usianya, inilah ironinya, hampir setengah abad seharusnya udah masuk fase mapan, punya rumah, anak kuliah, dan tabungan aman di bank. Tapi kenyataannya? Masih banyak masyarakat bingung cara beli saham, salah paham bedain reksa dana sama dana darurat, bahkan ada yang lebih paham harga skin Mobile Legends ketimbang harga saham BRI.

Nah, kira-kira begitu kondisi pasar modal Indonesia,  “Diaktifkan kembali” sejak 1977, tapi sampai 2025 ini, literasi keuangan masyarakat kita masih bisa dibilang payah.

Ibarat ikut arisan RT, masih banyak yang bingung, “Ini arisan buat tabungan apa buat modal belanja?”. Apalagi kalau udah ngomongin saham, reksa dana, atau kripto, jangan-jangan yang kita beli bukan saham, tapi malah token parkir Indomaret.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sadar banget masalah ini, makanya mereka bareng Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bikin acara Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2025 di Samarinda. Tujuannya? Ya biar anak muda, santri, sampai pengusaha lokal di Kalimantan Timur nggak bingung lagi bedain antara trading sama trending.

Mari kita jujur, setelah 48 tahun, jumlah investor Indonesia memang naik drastis, dari yang dulu cuma ribuan, sekarang sudah belasan juta. Tapi, coba cek data, mayoritas masih investor pemula yang baru buka rekening tapi nggak tahu mau ngapain.

Ibarat punya treadmill di rumah, tapi dipake cuma buat jemuran, semangat di awal, tapi nggak ngerti cara manfaatinnya.

Inilah PR besar pasar modal kita literasi finansial nggak secepat pertumbuhan jumlah investor. Banyak yang buka akun saham gara-gara ikut tren, bukan karena paham risiko. Bahasa kerennya Fear of Public Opinion (FOPO) alias, kalau teman kos bilang saham A lagi naik, ya ikut beli. Hasilnya? bukannya cuan, malah ambyar.

Di Universitas Mulawarman, Kepala Eksekutif OJK, Hasan Fawzi, langsung kasih wejangan ke ratusan mahasiswa. katanya, literasi itu modal utama sebelum berinvestasi.

“Kalau mau beli saham jangan cuma ikut-ikutan. Kenali dulu produknya, pahami risikonya, dan jangan terjebak FOPO,” ujarnya dalam rilis resmi dilaman data.ojk.go.id, kamis (11/9/2025).

Pesan ini sederhana, tapi dalem, sama kayak pesan ibu waktu kita mau nikah, “Jangan cuma lihat cantiknya, nak. Kenali juga keluarganya.” Nah, dalam investasi pun gitu. Jangan cuma lihat grafiknya hijau, tapi cek dulu perusahaan di baliknya.

Hasan juga ngasih contoh kalau sudah paham saham, jangan langsung loncat ke kripto tanpa belajar. Ibaratnya, baru bisa naik sepeda ontel, langsung mau balapan MotoGP.

Banyak anak muda yang kejebak karena mikir kripto itu jalan pintas jadi sultan, padahal kenyataannya, lebih banyak yang jadi “korban chart merah” ketimbang “crazy rich dadakan”.

Di sinilah literasi penting, bukan berarti dilarang investasi, tapi jangan nyemplung ke kolam dalam kalau baru bisa berenang gaya batu.

Menariknya, SEPMT ini nggak cuma nyasar mahasiswa, ada juga sosialisasi pasar modal syariah buat ratusan santri. Edukasi tentang saham syariah, reksa dana syariah, sampai perlindungan aset sesuai prinsip halal.

Lucunya, bayangin santri yang biasanya ngaji kitab kuning, sekarang ikut coaching clinic IPO, dari “jual kitab” bisa jadi “jual saham”. Keren kan?

Ini menunjukkan bahwa pasar modal bukan lagi milik “orang kota” atau “orang kaya”, tapi bisa diakses siapa saja. Termasuk anak pesantren di Samarinda.

Selain mahasiswa dan santri, OJK juga ngajak perusahaan lokal di Kaltim buat go public. Pesannya jelas IPO itu bukan cuma cari modal, tapi juga reputasi dan keberlanjutan bisnis.

Ibarat nikah resmi di KUA, bukan cuma legalitas, tapi juga bentuk komitmen jangka panjang. Jadi, kalau perusahaan lokal mau lebih besar, pasar modal bisa jadi jalan tol buat ekspansi.

Apalagi, Kalimantan Timur sekarang jadi spotlight karena ada proyek Ibu Kota Nusantara (IKN). Bayangin kalau perusahaan lokal bisa IPO, reputasi mereka bisa melesat, bukan cuma di Samarinda, tapi se-Indonesia.

Nah, balik lagi ke pertanyaan utama, kenapa sudah 48 tahun, literasi pasar modal masih rendah? jawabnya mungkin mindset masyarakat masih konsumtif, banyak orang lebih suka beli iPhone kredit daripada investasi di saham, kurangnya edukasi sejak dini.

Mata pelajaran keuangan di sekolah masih sebatas “cara hitung bunga tabungan”, belum sampai “cara pilih saham bluechip”, citra pasar modal masih elit.Banyak yang mikir main saham itu buat orang kaya, padahal sekarang modal Rp100 ribu pun bisa beli. Fenomena FOMO dan FOPO, banyak investor pemula yang lebih percaya grup WhatsApp daripada riset resmi.

Dari Samarinda, ada satu pesan moral penting,  investasi itu bukan sprint, tapi marathon. Nggak ada jalan pintas jadi kaya, semua butuh proses belajar, trial-error, dan kesabaran.

Ibarat masak mie instan, kalau airnya belum mendidih, jangan maksain masukin mie. Ntar malah setengah matang dan rasanya aneh. Begitu juga dengan investasi, kalau belum matang literasi, jangan maksa masuk pasar modal.

Setelah 48 tahun, pasar modal Indonesia memang tumbuh pesat, tapi literasi masih jadi pekerjaan rumah besar. OJK lewat SEPMT di Samarinda sudah ambil langkah serius, dari mahasiswa, santri, sampai pengusaha lokal semua diajak melek investasi.

Tapi, tugas ini nggak bisa ditanggung OJK sendirian, butuh dukungan kampus, pesantren, media, dan tentu saja kita semua, karena di era digital ini, literasi finansial bukan sekadar tahu cara cuan, tapi juga cara melindungi diri dari jebakan tren dan investasi bodong.

Jadi, kalau ditanya lagi “48 Tahun Pasar Modal RI, Literasi Investasi Masih Payah?”. Jawabannya, iya, tapi masih bisa diperbaiki asal kita mau belajar.

Dan ingat, kalau mau investasi, jangan cuma karena kata tetangga atau grup WA, karena, seperti kata pepatah modern “Lebih baik ketinggalan cuan daripada nyemplung rugi berjamaah”.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Beroperasi Secara Ilegal, KKP Tindak Tegas Kapal Ikan di Perairan Natuna

    Beroperasi Secara Ilegal, KKP Tindak Tegas Kapal Ikan di Perairan Natuna

    • calendar_month Sabtu, 12 Mar 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 569
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan tindakan tegas kepada Kapal Motor (KM) SS yang ditangkap Polisi Air (Polair) Polres Natuna di perairan Pulau Subi pertengahan Februari 2022 lalu, karena kapal tersebut beroperasi secara ilegal. Penangkapan dan penindakan tersebut, merupakan tindak lanjut atas pengaduan masyarakat yang resah atas beroperasinya kapal tersebut. Sempat diduga mengoperasikan alat tangkap […]

  • Mau Tahu Tahapan Seleksi CPNS, Baca Ini Dong!

    Mau Tahu Tahapan Seleksi CPNS, Baca Ini Dong!

    • calendar_month Senin, 10 Sep 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.022
    • 0Komentar

    SUMSELTERKINI.CO.ID, JAKARTA – Salah satu tahapan penting dalam seleksi CPNS adalah Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Tahapan ini harus dilalui oleh pelamar yang dinyatakan lulus seleksi administrasi. Seperti tahun lalu, pelaksanaan SKD CPNS tahun 2018 ini menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT), dan kelulusan menggunakan nilai ambang batas (passing grade). Nilai SKD memiliki bobot 40%, sementara Seleksi […]

  • Agar Tepat Sasaran, Wabup OKI Ajak Tokoh Masyarakat & Ulama ‘Plototin’ Penggunaan Dandes

    Agar Tepat Sasaran, Wabup OKI Ajak Tokoh Masyarakat & Ulama ‘Plototin’ Penggunaan Dandes

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 917
    • 0Komentar

    WAKIL Bupati OKI H. M. Djakfar Shodiq mengajak warga masyarakat desa untuk mengawal Kepala Desa dalam memanfaatkan dana desa. “Untuk Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan warga desa agar Pak Kadesnya selalu dipantau, karena siapa lagi yang mau menasehati Pak Kades kalau bukan ulama dan tokoh masyarakat,” ujar Shodiq usai melantik lima Kades terpilih Kecamatan Mesuji […]

  • Rapat Koordinasi bersama Kepala Sekretariat Presiden, Harnojoyo Bahas Mekanisme Distribusi Sembako

    Rapat Koordinasi bersama Kepala Sekretariat Presiden, Harnojoyo Bahas Mekanisme Distribusi Sembako

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.018
    • 0Komentar

    WALIKOTA Palembang H Harnojoyo, melalui rapat koordinasi penanganan Covid-19 yang membahas mekanisme pendistribusian sembako bantuan Presiden Republik Indonesia (RI) dan koordinasi teknis lainnya  menyampaikan bahwa akan ada bantuan sembako untuk masyarakat Palembang yang terdata di luar PKH dari Presiden Republik Indonesia. “Melalui rapat koordinasi bersama Kepala Sekretariat Presiden, beliau menyampaikan akan ada bantuan paket sembako […]

  • Rame-rame Pemda di Sumsel mulai alihkan ke transaksi digital “Pengadaan”

    Rame-rame Pemda di Sumsel mulai alihkan ke transaksi digital “Pengadaan”

    • calendar_month Kamis, 7 Jul 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 776
    • 0Komentar

    PENGADAAN barang dan jasa yang bersifat langsung pada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Sumatera Selatan khususnya pada belanja publikasi media massa yang dikelola Dinas Komunikasi dan Informatika akan beralih ke flatform Belanja Langsung (BELA) yang dikenalkan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP). Setelah diawali oleh Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), beberapa […]

  • Sederet penyanyi top di dunia yang populer di era 80 -an ke atas, & lagu hingga kini masih asyik dinikmati pecandu musik

    Sederet penyanyi top di dunia yang populer di era 80 -an ke atas, & lagu hingga kini masih asyik dinikmati pecandu musik

    • calendar_month Minggu, 18 Jun 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 3.564
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, – Beberapa artis yang populer di era 80-an dianggap sebagai ikon musik dan budaya pada masanya. Berikut ini beberapa artis top dunia yang populer di era 80-an: Michael Jackson: Michael Jackson adalah salah satu artis terkenal sepanjang masa. Albumnya “Thriller” yang dirilis pada tahun 1982 menjadi album terlaris sepanjang masa dan menghasilkan hits seperti […]

expand_less
WordPress Archive Gymax – Gym & Fitness Elementor Template Kit GymBase – Gym Fitness WordPress Theme GymBase – Responsive Gym Fitness WordPress Theme Gymfito – Fitness and Gym WordPress Gymmy – Fitness & Gym Elementor Template Kit Gymna – Fitness & Gym Elementor Template Kit Gymness – Sport & Fitness Elementor Template Kit Gymniac – Fitness & Exercise Equipment Store Elementor Template Kit Gymo – Gym & Fitness WordPress Theme Gympact – Fitness & Gym Elementor Template Kit