KAMPUS itu dianggap sebagai taman bermain ilmu, Telkom University (Tel-U) baru saja memperkenalkan wahana baru bernama Telurator insinerator canggih karya tim dosen Teknik Fisika yang bisa mengubah sampah menjadi solusi praktis, tapi jangan salah, ini bukan sekadar mainan laboratorium yang seru untuk dicubit-cubit mahasiswa yang bosan skripsi. Telurator ini nyata, turun ke lapangan, dan… lumayan bikin tetangga senyum-senyum sambil menghirup udara yang masih aman (semoga begitu).
Dalam dunia pendidikan tinggi, sering kita dengar jargon “kampus harus berdampak”, “riset harus hilirisasinya”, dan “inovasi harus menyentuh masyarakat”. Kalau cuma sekadar cetak sertifikat, tentu bisa dibilang efeknya cuma, seperti kertas tisu di angin terbang, hilang, dan tidak ada yang basah.
Telurator menantang semua stereotip itu, coba misalnya dari lab berpendingin AC, asap riset ini langsung mendarat di TPS Desa Tarumajaya, Bandung, mengubah tumpukan sampah yang biasanya bikin monyong warga mengerut menjadi proses daur ulang yang… lumayan bikin ngakak.
Adegan ini misalnya juga lakonnya mahasiswa Tel-U, mengenakan jas lab putih serba rapi, memegang tombol besar berlabel “ON”, sementara bapak-bapak petugas TPS cuma menatap sambil menggaruk kepala. “Ini tombol untuk apa, Nak? Kalau salah pencet, kebakaran desa nggak, ya?” tanyanya dengan nada setengah serius setengah lucu. Inilah realitas di lapangan kampus berinovasi, masyarakat menunggu hasilnya, dan udara harus tetap aman.
Kuncinya ada pada lingkungan dan keberlanjutan, yang sering terlewat di berita mainstream. Telurator dirancang hemat bahan bakar, hanya 1 liter per jam. Sudah lolos uji emisi, artinya warga nggak perlu memakai masker ekstra tebal ketika nasi goreng terbakar di samping TPS. Tapi, seperti pepatah lama bilang “Biar bagai emas di tangan, kalau salah tempat tetap jadi abu”. Betul, teknologi sehebat apa pun tetap harus ditempatkan dengan bijak.
Di sinilah letak pencerahannya, pendidikan tinggi bukan hanya soal mengajarkan mahasiswa cara menghitung integral atau membuat robot yang bisa menari TikTok.
Lebih dari itu, kampus harus mendidik SDM yang gigih, pantang menyerah, dan peduli lingkungan. Telurator jadi guru tambahan mengajarkan bahwa inovasi harus membawa manfaat nyata, bukan cuma untuk eksis di media sosial kampus.
Kalau kita pakai perumpamaan, kampus itu seperti kebun, mahasiswa adalah bibitnya, dosen adalah tukang kebunnya, dan masyarakat adalah tanah tempat bibit itu tumbuh. Kalau bibit ditanam asal-asalan, jangan harap akan tumbuh pohon yang berbuah manis. Tapi kalau dirawat dengan riset dan praktik nyata, misalnya Telurator bibit ini bisa menghasilkan buah yang tidak hanya lezat di lidah, tapi juga bermanfaat bagi udara dan kesehatan sekitar.
Selain itu, Telurator juga mengajarkan satu hal yang kerap dilupakan humor dalam pendidikan, saat alat ini diuji coba, banyak momen lucu yang terjadi. Mahasiswa serius mencatat konsumsi bahan bakar, petugas TPS kaget melihat sampah “ngegas” sendiri, dan tetangga desa mengira ada pertunjukan sulap. Humor seperti ini bukan sekadar hiburan, tapi menjadi media pembelajaran. “Belajar itu nggak harus selalu serius. Kadang tertawa juga bagian dari pendidikan,” begitu kira-kira pesannya.
Pesan moral lainnya cukup sederhana tapi tajam, inovasi tanpa implementasi nyata sama saja dengan buku tebal yang berdebu di rak perpustakaan.
Di sinilah Tel-U dan Telurator memberi contoh riset turun ke masyarakat, memberi manfaat langsung, dan mendidik mahasiswa sekaligus mengedukasi warga. Diktisaintek Berdampak bukan sekadar slogan, tapi nyata, berasap tapi tetap ramah lingkungan, dan yang terpenting bisa bikin ngakak.
Jadi dari cerita di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, pertama, pendidikan tinggi harus menghasilkan SDM kreatif yang berpikir luas, tapi tetap memikirkan bumi dan masyarakat, kedua, inovasi harus turun ke lapangan dan diuji realitasnya, bukan cuma eksis di jurnal ilmiah atau foto Instagram kampus, ketiga, humor dan storytelling bisa jadi alat edukasi yang powerful, karena manusia belajar paling cepat saat dia tertawa sambil memahami konteks nyata.
Telurator bukan cuma hero sampah, tapi simbol bagaimana pendidikan tinggi bisa mengubah teori menjadi praktik, laboratorium menjadi lapangan, dan riset menjadi solusi nyata.
Kampus yang hebat bukan cuma yang punya gedung megah atau laboratorium canggih, tapi yang menghasilkan dampak nyata untuk masyarakat, lingkungan, dan generasi masa depan.
Jadi, saat kita membaca berita formal tentang Menteri Brian Yuliarto yang memuji Tel-U dan Telurator, jangan cuma angguk-angguk. Bayangkan mahasiswa bercelana kotor, dosen serius memegang tombol, dan sampah yang perlahan-lahan berubah menjadi peluang.
Di situlah pencerahan edukatif sejati belajar itu nggak melulu serius, tapi manfaatnya bisa serius untuk bumi dan generasi berikutnya.
Oleh karena itu, tegakkan prinsip sederhana tapi penting, yakni “Ilmu tanpa praktik adalah hampa, dan praktik tanpa kepedulian adalah sia-sia”. Telurator, dengan segala humor, asap, dan teknologi cerdasnya, sudah membuktikan hal itu.[***]