KANTOR PPSDM Migas di Cepu tampak lebih ramai dari biasanya hari ini, bukan karena ada inspeksi mendadak atau kunjungan dadakan, tapi karena banyak tamu datang dari berbagai daerah dan instansi. Ada yang datang pakai jas rapi, ada yang gayanya simpel, tapi satu hal sama, semua datang dengan agenda serius.
Nama acaranya Partnership Gathering PPSDM Migas 2026. Kedengarannya resmi, agak berat, dan biasanya bikin orang langsung pasang mode serius. Tapi di balik agenda formal itu, obrolan yang muncul justru dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama soal anak muda dan urusan masa depan kerja.
Acara dibuka Kepala PPSDM Migas, Waskito Tunggul Nusanto, sambutannya runtut, jelas, dan penuh harapan. Hadir pula jajaran penting sektor energi nasional, mulai dari BPSDM ESDM, SKK Migas, hingga BPH Migas. Lengkap. Kalau diibaratkan, ini seperti rapat keluarga besar, cuma bedanya yang dibahas bukan arisan, tapi SDM migas.
Begitu sesi daerah mulai berbagi cerita, suasana jadi lebih cair dari Musi Banyuasin, Kadisnakertrans Herryandi Sinulingga menyampaikan kabar yang cukup bikin senyum. Tahun ini, 15 generasi muda Muba dinyatakan lulus seleksi siap didik di PPSDM Cepu melalui dukungan anggaran APBN 2026.
Lima belas orang ini mungkin tidak duduk di kursi acara gathering, tapi cerita mereka terasa hadir. Karena setiap kali bicara soal pelatihan dan sertifikasi, ujung-ujungnya selalu ke satu topik yang sama setelah ini, langkahnya ke mana?
Di situlah kata magang mulai sering muncul, bukan magang sekadar numpang lewat, tapi magang yang benar-benar memberi pengalaman kerja. Karena semua sepakat, pelatihan itu penting, sertifikat juga penting, tapi pengalaman kerja tetap jadi bekal utama.
Sinulingga menyampaikan harapan agar ke depan ada kolaborasi lebih kuat antara PPSDM Migas, kementerian terkait, dan perusahaan migas yang beroperasi di daerah. Tujuannya sederhana supaya anak-anak muda yang sudah dididik tidak kebingungan saat masuk dunia kerja.
Cerita serupa datang dari Kadisnakertrans Kabupaten Rokan Hilir, Firdaus. Ia menyampaikan dukungan terhadap penguatan SDM daerah penghasil migas. Menurutnya, standardisasi dan sertifikasi menjadi kunci agar tenaga kerja lokal siap bersaing dan relevan dengan kebutuhan industri.
Obrolan makin seru karena sudut pandang yang dibawa beragam. Pemerintah pusat bicara kebijakan, pemerintah daerah bicara kebutuhan lapangan, industri bicara standar kerja, dan akademisi bicara pendidikan. Semuanya duduk satu meja, saling dengar, tanpa saling mendahului.
Perwakilan industri migas seperti Pertamina Group, ExxonMobil Cepu Ltd, dan Medco E&P Indonesia turut hadir. Kehadiran mereka menambah warna diskusi. Karena dari sisi industri, yang dibutuhkan memang tenaga kerja yang siap pakai, paham aturan, dan bisa langsung menyesuaikan diri di lapangan.
Di sela-sela diskusi, suasana tidak melulu tegang. Ada tawa kecil, ada obrolan santai, ada juga cerita ringan soal pengalaman mendampingi peserta pelatihan. Hal-hal kecil seperti ini yang bikin gathering terasa hidup, tidak kaku, dan tidak sekadar formalitas.
PPSDM Migas sendiri berada di posisi tengah. Sebagai lembaga pengembangan SDM, perannya memang menjembatani banyak kepentingan. Mulai dari kebutuhan industri, kebijakan pemerintah, sampai harapan daerah. Tugasnya tidak ringan, tapi justru di situlah letak pentingnya forum seperti ini.
Menariknya, meski topiknya berat, pembahasan tetap membumi. Tidak berputar-putar di istilah yang susah dicerna. Intinya jelas bagaimana menyiapkan SDM migas yang kompeten dan punya kesempatan berkembang.
Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Peserta saling bertukar pandangan, menyampaikan ide, dan mencatat peluang kerja sama. Diskusi seperti ini sering kali terlihat sederhana, tapi justru di situlah banyak kesepahaman awal terbentuk.
Gathering ditutup dengan peluncuran Booklet Layanan PPSDM Migas. Booklet ini menjadi panduan layanan dan kerja sama ke depan. Isinya ringkas, tapi fungsinya penting sebagai acuan bersama.
Partnership Gathering PPSDM Migas 2026 ini terasa seperti pertemuan yang sederhana tapi bermakna. Tidak berlebihan, tidak ribet, tapi fokus pada satu tujuan besar, menyiapkan anak muda agar siap masuk dunia kerja migas.Tidak ada yang muluk-muluk. Semua sepakat bahwa prosesnya bertahap. Mulai dari pelatihan, sertifikasi, magang, sampai akhirnya bekerja. Yang penting, jalurnya jelas dan terbuka.
Dan mungkin, beberapa tahun ke depan, anak-anak muda yang hari ini sedang dididik itu akan kembali ke Cepu. Bukan lagi sebagai peserta pelatihan, tapi sebagai bagian dari industri migas itu sendiri.
Karena dari obrolan santai yang terjadi di satu meja, sering kali lahir langkah-langkah nyata. Dan hari itu, migas, anak muda, dan proposal magang memang benar-benar duduk semeja membicarakan masa depan dengan cara yang sederhana. (***)