Anak Menggunakan AI, Ini Risiko yang Mengintai
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 27 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : komdigi.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Anak menggunakan AI tanpa pendampingan orang tua berisiko mengalami ketergantungan teknologi yang dapat mengikis kemampuan berpikir kritis dan kemandirian.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan pentingnya pengawasan keluarga agar kecerdasan buatan tidak mengambil alih proses berpikir anak di tengah pesatnya perkembangan dunia digital.
Nezar menyampaikan peringatan tersebut saat peluncuran Kelas Pengasuhan Digital di Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, kemudahan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan anak untuk berpikir mandiri, menilai informasi, dan mengambil keputusan tanpa selalu mengandalkan jawaban dari mesin.
“Jangan sampai anak kita menjadi tergantung dengan artificial intelligence sehingga mereka kehilangan kepribadiannya sendiri, mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis. Ini yang saya kira paling berisiko buat generasi kita ke depan,” ujar Nezar.
Menurutnya, sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh di tengah ekosistem digital yang semakin kompleks.
Masalah ini tentu ungkapnya membuat orang tua perlu lebih aktif mendampingi anak, bukan hanya membatasi waktu penggunaan gawai, tetapi juga mengajarkan cara memanfaatkan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
Risiko yang perlu diwaspadai, papar Nezar, yaitu meliputi interaksi dengan orang asing, paparan konten yang tidak sesuai usia, ancaman terhadap data pribadi, hingga kecanduan digital. Karena itu, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan digital yang sehat.
Oleh sebab itu, Pemerintah tambahnya, mendorong kolaborasi dengan platform digital dan keluarga untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS.
Nezar menegaskan, perlindungan anak di dunia digital membutuhkan keterlibatan semua pihak agar teknologi tidak menjadi ancaman bagi tumbuh kembang generasi muda.
“Kita punya tanggung jawab yang cukup besar bagaimana menjamin ruang yang aman dan sehat buat anak-anak kita itu. Itu sebabnya pemerintah membuat PP TUNAS dalam rangka membangun ruang aman dan sehat bagi anak di dalam ekosistem digital. Melindungi anak kita adalah melindungi peradaban,” urainya.
WhatsApp Perkenalkan Fitur Parental Control
Sejalan dengan upaya tersebut, WhatsApp memperkenalkan fitur Parental Control untuk membantu orang tua mendampingi aktivitas digital anak remaja.
Fitur ini memungkinkan orang tua melihat informasi mengenai grup dan kanal yang terhubung dengan akun anak, mengatur sejumlah pilihan terkait konten yang dapat dilihat dan dibagikan, serta menerima notifikasi atas perubahan tertentu pada akun.
Wakil Presiden Business Operations and External Affairs WhatsApp Victoria Grant menjelaskan fitur tersebut dirancang untuk mendukung keselamatan anak tanpa mengharuskan orang tua membaca percakapan pribadinya.
Menurut Grant, pengaturan keamanan sebaiknya dilakukan bersama anak agar mereka memahami tujuan pengawasan dan tidak merasa kehilangan kepercayaan dari orang tua.
“Dengan begitu, tidak ada pengaturan yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan anak Anda. Anda dapat membuka dan mengatur fitur-fitur tersebut bersama-sama,” ungkap Grant.
Kelas Pengasuhan Digital juga mengenalkan buku saku, video, dan permainan edukatif untuk membantu orang tua mempelajari fitur Parental Control bersama anak. Setelah digelar di Jakarta, pelatihan direncanakan berlanjut ke Padang dan Cirebon.
Program ini merupakan kolaborasi WhatsApp dengan Kementerian Komunikasi dan Digital, ICT Watch, serta Keluarga Kita untuk memperluas literasi pengasuhan digital di Indonesia.
Nezar berharap orang tua dapat menanamkan kesadaran mengenai perlindungan data pribadi, etika berkomunikasi, serta penggunaan AI secara bijak dan kreatif.
Di tengah kemajuan teknologi, tantangan terbesar bukan hanya menjauhkan anak dari layar, melainkan memastikan mereka mampu menggunakan AI tanpa kehilangan daya kritis, kreativitas, dan kemandirian. Pendampingan orang tua menjadi kunci agar teknologi berfungsi sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir anak. (***) sumber : komdigi
- Penulis: Irwan Wahyudi
