BIASANYA kata study tour identik dengan bus pariwisata, ada foto rame-rame, oleh-oleh magnet kulkas, namun kali ini ceritanya jelas beda, pasalnya 15 pemuda Musi Banyuasin (Muba) berangkat ke Cepu, Jawa Tengah, bukan buat jalan-jalan, tapi buat digembleng negara. Bukan study tour, ini study bor, belajar migas, belajar disiplin, belajar masa depan.
Mereka dilepas langsung Wakil Bupati Muba, Kiai Abdur Rohman Husen, menuju Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas).
Bahkan yang paling enak dimanjakan lagi, karena semua biaya ditanggung APBN. Negara sudah pasang badan, daerah sudah pasang nama. Tinggal satu pertanyaan siapkah mereka pulang membawa perubahan?
Anak muda Muba biasanya merantau dengan koper penuh kaos santai dan harapan setinggi langit. Kali ini koper mereka diisi tekad, jadwal pelatihan, dan target lulus dengan sertifikat kompetensi. Tidak ada ruang untuk leha-leha, di PPSDM Migas, yang diuji bukan cuma kecerdasan, tapi juga ketahanan fisik dan mental.
Lima peserta masuk kelas K3 Migas, ilmu yang tugas utamanya menjaga nyawa orang. Lima orang belajar welding, menyambung baja, bukan menyambung janji. Lima lainnya mendalami scaffolding, kerja di ketinggian yang menuntut fokus, bukan main-main.
Ini bukan pelatihan kaleng-kaleng. Salah hitung bisa berisiko. Salah sikap bisa berbahaya. Di sinilah study bor menemukan maknanya kerja keras sejak dini agar selamat dan profesional di industri nanti.
Dalam arahannya, Wabup Kiai Abdur Rohman Husen tidak banyak basa-basi, pesannya lugas tapi bernas, jaga integritas, jaga sikap, jaga nama baik Muba. Merantau itu bukan cuma pindah tempat, tapi pindah ujian, jauh dari rumah bukan alasan untuk lupa nilai.
Pesannya penting lantaran di dunia industri, skill memang utama, tapi karakter adalah penentu. Bisa saja orang pintar kalah oleh orang disiplin, bisa saja yang jago teknis tersingkir karena tak bisa dipercaya.
Di tengah banyaknya program yang hanya bagus di spanduk, pelatihan PPSDM Migas ini terasa paling rasional. Hasilnya bisa diukur. Ada sertifikasi. Ada standar nasional. Ada peluang kerja nyata.
Bupati Muba, HM Toha Tohet, menegaskan masyarakat Muba jangan hanya jadi penonton di daerah sendiri. Ini bukan sindiran kosong. Ini realita daerah penghasil energi yang sering kali anak mudanya cuma kebagian cerita, bukan pekerjaan.
Program ini adalah bukti pembangunan SDM bukan slogan. Ia butuh jalur teknis, kemauan politik, dan kesiapan daerah. Dan Muba, tahun ini, membuktikan diri serius.
Faktanya, Muba menjadi daerah dengan kuota peserta terbanyak secara nasional, 15 orang. Bojonegoro 14, Blora 10, Tuban 9. Daerah lain rata-rata lima orang.
Ini bukan soal beruntung. Ini soal gerak cepat, komunikasi aktif, dan kesiapan administrasi. Ketika daerah lain masih menunggu, Muba sudah mengirim.
Berkompeten
Pesannya jelas, peluang itu tidak datang dua kali, kalau tidak diambil, ia pindah ke tangan orang lain.
Naik pesawat itu biasa. Yang luar biasa adalah pulang membawa kompetensi. Jangan sampai nanti yang dibawa pulang cuma jaket pelatihan dan cerita capek.
Negara sudah investasi, daerah sudah membuka jalan. Orang tua sudah melepas dengan doa. Maka pulanglah dengan kemampuan yang bisa dipakai, bukan sekadar dikenang. Industri migas tidak mencari yang banyak gaya. Ia mencari yang siap kerja, patuh prosedur, dan bisa dipercaya.
Lima belas pemuda ini mungkin hari ini belum siapa-siapa. Tapi jika mereka serius, kelak merekalah wajah SDM unggul Muba. Pelatihan ini bukan akhir, tapi awal. Bukan jaminan sukses, tapi bekal agar tidak tersesat.
Masa depan tidak datang dengan sendirinya. Ia dilatih, ditempa, dan diperjuangkan kadang dengan peluh, kadang dengan pengorbanan.
Pergi ke Cepu bukan sekadar berpindah kota. Itu perpindahan cara berpikir. Dari ingin cepat kerja, menjadi siap kerja. Dari asal bisa, menjadi benar-benar kompeten.
Selamat belajar, pemuda Muba. Pulanglah nanti bukan hanya sebagai alumni pelatihan, tapi sebagai harapan baru daerah. Karena Muba tidak kekurangan sumber daya, yang dibutuhkan adalah manusia yang siap mengelolanya. (***)