Selasa, 18 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pemerintahan » Dari Posko ke Perubahan, Cerita Serius di Balik Celoteh Mahasiswa Kepada Wagub Sumsel

Dari Posko ke Perubahan, Cerita Serius di Balik Celoteh Mahasiswa Kepada Wagub Sumsel

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 20 Jun 2025
  • visibility 845
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sumselterkini.co.id, – Kalau kamis kemarin, anda ikut menyelinap masuk ke Ruang Tamu Wakil Gubernur Sumatera Selatan, jangan kaget kalau suasananya agak beda dari biasanya. Tidak ada aroma kopi tubruk khas tamu-tamu dinas, tapi yang hadir adalah rombongan mahasiswa yang datang bukan untuk numpang WiFi atau ikut pelatihan “how to jadi aktivis elegan”.

Mereka datang membawa keresahan, karena kampus sekarang bukan lagi tempat aman untuk berpikir, tapi mulai terasa seperti labirin penuh jebakan, dari pungutan liar sampai pelecehan seksual. Di kursi tamu yang empuk itu, duduklah Yoga Aldo Novensi, Ketua Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Sumsel, yang hari itu tak sedang membawa proposal lomba catur, tapi niat serius ingin mendirikan Posko Pengaduan Mahasiswa.

Ada satu kalimat bijak dari petuah nenek zaman dulu yang tak pernah kadaluarsa dan layak untuk direnungkan, bunyinya sederhana. “Bila anak muda sudah berani bersuara, itu tandanya negeri ini masih punya harapan”. Itulah yang dilakukan  Yoga Aldo Novensi, Ketua Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW-LMND) Sumsel, saat menyambangi Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang.

Ia tidak datang untuk minta usulan beasiswa, namun menyampaikan keresahan kampus sekarang makin mirip pasar malam ramai, tapi banyak hal gelap yang tak terang-terangan diakui.

Ya, di balik toga dan skripsi, ternyata ada cerita soal pelecehan seksual dan pungutan liar yang masih berseliweran di balik tembok kampus. Kampus, yang seharusnya jadi tempat menimba ilmu dan mencetak pemimpin masa depan, malah sebaliknya, sering jadi tempat mahasiswa diuji bukan oleh soal ujian, tapi oleh keberanian untuk bersuara.

LMND Sumsel pun mengajukan satu ide sederhana tapi cerdas, yakni mendirikan Posko Pengaduan Mahasiswa. Tempat curhat, lapor, dan speak up. Bukan posko makan gratis atau tempat fotokopi skripsi, tapi tempat para mahasiswa bisa mengadu, tanpa takut dibungkam atau dibisikin, misalnya “Udahlah, nanti kamu nggak lulus loh”.

Kabar baiknya, Cik Ujang menyambut ide itu bukan dengan menguap atau main HP, tapi dengan dukungan hangat. Katanya, kalau memang niatnya baik, Pemprov Sumsel akan ikut mendukung. Ini langkah yang patut diapresiasi, karena, jujur saja, banyak pejabat  yang lebih cepat merespons undangan makan daripada usulan program serius mahasiswa.

Mari kita bawa kisah ini ke dunia luar, di Korea Selatan, tepatnya di Seoul National University, ada platform digital bernama SNU Whistle, tempat mahasiswa bisa melaporkan kasus pelecehan atau penyalahgunaan wewenang secara anonim. Hasilnya?. Banyak dosen dan staf kampus mulai berhati-hati dalam bertindak, karena tahu mahasiswa bisa bicara kapan saja.

Lalu di Swedia, Universitas Lund bahkan punya “student ombudsman”, semacam perwakilan independen mahasiswa yang berfungsi sebagai pengawal keadilan kampus. Kalau ada masalah, bukan langsung ke rektorat, tapi ke ombudsman ini dulu. Gak perlu demo, cukup satu laporan, sistem bergerak.

Kembali ke tanah air, Universitas Gadjah Mada (UGM) sempat disorot, karena kasus pelecehan di KKN yang akhirnya memicu gerakan “Breaking the Silence”. Dari sana lahirlah sejumlah regulasi dan SOP baru untuk menjamin keselamatan mahasiswa. Tapi semua itu bermula dari satu hal, yakni mahasiswa berani bersuara, dan kampus membuka telinga. Pertanyaannya apakah kampus-kampus di Sumsel siap membuka telinga mereka? atau masih pura-pura sibuk ngatur jadwal wisuda?.

Kalau kampus masih dianggap zona suci yang tak boleh dikritik, maka mahasiswa akan terus belajar dua hal yang tidak diajarkan di buku kuliah, cara diam dan cara bertahan, Kalau itu terus terjadi, maka percuma kita bangun gedung tinggi dan laboratorium canggih, karena isinya adalah mental-mental ketakutan.

Sebuah posko memang terdengar sederhana, bahkan mungkin dianggap ‘kebanyakan gaya’. Tapi justru dari tempat-tempat sederhana seperti itulah, perubahan besar sering bermula. Pepatah lama bilang, “Batu besar pun bisa pecah oleh tetesan air yang konsisten”. Nah, Posko Pengaduan ini bisa jadi tetesan air itu.

Jadi, jika hari ini ada mahasiswa yang datang ke pejabat pemerintah untuk menyampaikan keresahan dan bukan sekadar foto-foto, maka itu adalah tanda baik. Yang kurang sekarang hanyalah komitmen nyata dari pihak kampus, apakah mereka berani membuka pintu, atau akan terus pasang satpam untuk jaga citra?.

Membangun posko pengaduan mahasiswa bukan sekadar membangun meja dan kursi. Ini tentang membuka ruang aman, membangun keberanian, dan membentuk kultur baru di kampus bahwa ketidakadilan bisa dilawan tanpa harus dibisukan. Oleh sebab itu, Pemprov Sumsel sebaiknya tak hanya dukung secara lisan, tapi juga logistik dan regulasi.

Apalagi Kampus  itu bukan medan perang, juga jangan jadi zona nyaman para pelaku pungli dan predator seksual. Kalau mahasiswa sudah berani bersuara, maka sekarang giliran negara hadir mendengar,  kata pepatah Madura yang patut direnungkan “Ajunan pote mata, tape’ pote tolang”. (Mending buta mata, daripada buta hati).

Sejatinya, Posko Pengaduan Mahasiswa ini bukan cuma tenda darurat penuh keluhan, tapi fondasi kecil dari kampus masa depan yang lebih manusiawi. Kalau selama ini mahasiswa dipaksa belajar Public Speaking tapi dilarang Public Screaming, maka posko ini hadir agar suara mereka nggak cuma bergema di status WhatsApp dan kolom komentar TikTok.

Kita tidak sedang membangun kantor polisi mini di kampus, tapi membangun budaya speak up yang sehat, karena kampus itu bukan tempat mahasiswa jadi robot penurut, tapi manusia kritis. Jangan biarkan para predator moral berseliweran seperti hantu gentayangan yang tak bisa ditangkap karena alasan “itu bukan urusan kampus”.

Perlu diingat!, diam adalah emas, tapi di lingkungan kampus yang penuh pungli dan pelecehan, diam bisa berubah jadi racun. Jika biarkan mahasiswa terus-terusan bungkam, bukan tidak mungkin  akan panen generasi lulusan dengan IPK tinggi tapi nyali rendah, skripsi tebal tapi prinsip tipis.

Bantu realisasi posko ini, karena pepatah Minang bilang “Nan sabana harato bukan emas jo intan, tapi harga diri ka diri awak,”. Kalau kampus tidak bisa menjaga harga diri mahasiswa, maka kita sedang gagal dalam mendidik bangsa, kalau pemerintah hadir sebagai pendengar, bukan penonton, maka Sumatera Selatan tak hanya punya gedung kampus yang megah, tapi juga jiwa kampus yang waras.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Libur Lebaran, Sistem Transaksi BI Berhenti, BI-FAST Tetap Jalan

    Libur Lebaran, Sistem Transaksi BI Berhenti, BI-FAST Tetap Jalan

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    MENJELANG libur panjang Idulfitri 1447 Hijriah, sebagian sistem transaksi yang dikelola Bank Indonesia akan berhenti sementara. Penyesuaian ini berlaku selama periode libur nasional dan cuti bersama Lebaran, yakni 18 hingga 24 Maret 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan operasional sistem keuangan nasional selama masa libur panjang. Meski sejumlah infrastruktur transaksi dihentikan sementara, masyarakat tetap dapat […]

  • BPKP Pusat Nilai Pengelolaan Siskeudes di Muba Perfect

    BPKP Pusat Nilai Pengelolaan Siskeudes di Muba Perfect

    • calendar_month Rabu, 20 Feb 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 961
    • 0Komentar

    Sumselterkini.co.id, Sekayu- Implementasi dan pengelolaan Sistem Keuangan Desa (siskeudes) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) terus mendapatkan sorotan dan pujian dari banyak pihak. Setelah pada 2017 lalu Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin mendapatkan penghargaan dari  Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sumsel karena telah menerapkan Sistem Pengelolaan Keuangan Desa secara mandiri, Selasa (19/2/2019) Bupati Muba […]

  • Cuaca Menyengat Saat Ini, Apa Penyebabnya

    Cuaca Menyengat Saat Ini, Apa Penyebabnya

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2022
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.394
    • 0Komentar

    CUACA terik melanda sejumlah wilayah Indonesia sejak awal Mei lalu. Di siang hari, suhu udara terasa lebih menyengat dibanding biasanya. Pun di malam hari, hawa juga terasa panas dan kondisi tersebut apa penyebabnya. Perubahan suhu yang demikian terasa akhir-akhir ini, tidak ayal menimbulkan banyak pertanyaan. Ada fenomena apa? Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, punya jawaban. […]

  • Tingkatkan Layanan Pengaduan,  Kemenkes Luncurkan Chatbot WhatsApp PeduliLindungi

    Tingkatkan Layanan Pengaduan, Kemenkes Luncurkan Chatbot WhatsApp PeduliLindungi

    • calendar_month Rabu, 10 Nov 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 680
    • 0Komentar

    KEMENTERIAN kesehatan (Kemenkes) terus berupaya memperbaiki fitur dan layanan PeduliLindungi terutama untuk mempercepat respon dan meningkatkan pelayanan pengaduan masyarakat terkait vaksinasi COVID-19. Chief Digital Transformation Office Kemenkes, Setiaji, mengatakan selama ini pengaduan diarahkan ke email sertifikat@pedulilindungi.id atau call center 119 exit 9. Namun untuk melengkapinya, Kemenkes juga meluncurkan Chatbot WhatsApp PeduliLindungi untuk melengkapi saluran pengaduan […]

  • Wah, !! Ada Virus-Virus Genre yang Disebar Calon Duta Genre Sumsel 2018

    Wah, !! Ada Virus-Virus Genre yang Disebar Calon Duta Genre Sumsel 2018

    • calendar_month Jumat, 11 Mei 2018
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.351
    • 0Komentar

    “Lalu diajak ke Stan Genre untuk bermain Genre Kid. Masing-masing peserta terlihat menikmati kegiatan di tahap ini,”

  • Mapillu-PWI OKI Ajak Masyarakat Pemilu Damai

    Mapillu-PWI OKI Ajak Masyarakat Pemilu Damai

    • calendar_month Selasa, 16 Apr 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.078
    • 0Komentar

    Sumselterkini,co,id.Kayuagung – Dalam upaya memberikan pendidikan politik bagi masyarakat, serta mengumpulkan informasi terkait proses penyelenggaraan pemilu, keberadaan Masyarakat dan Pers Pemantau Pemilu Persatuan Wartawan Indonesia Ogan Komering Ilir (Mappilu PWI OKI) juga untuk memastikan proses Pemilu Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif 2019 berjalan jujur dan adil. Ketua Mapillu-PWI OKI Bambang Samudera, mengajak masyarakat turut menciptakan pemilu damai, […]

expand_less
WordPress Archive AntiqueMall – Antique Store Marketplace WordPress Theme Antomi – Multipurpose Theme for WooCommerce WordPress Anubia | Smoking and Hookah Bar WordPress Theme Anwalt – Law Firm and Lawyer WordPress Theme AnyCar – Automotive, Dealership WordPress Theme Anymag – Magazine Style WordPress Blog AnyWhere Elementor Pro WordPress Plugin AOi – Software & Technology WordPress Theme Aoki – Creative Design Agency WordPress Theme Aonsil – Business & Consulting Elementor Template Kit