PALEMBANG cuacanya sangat panas, tapi tak membuat kampus sepi, dan sepertinya tahu akan ada tamu penting mampir ke kampus Poltekkes, daun-daun trembesi melambai pelan, seolah ikut menyambut iring-iringan mobil hitam plat merah yang perlahan menepi.
Hari itu, 3 Juli 2025, kampus yang biasa sibuk dengan praktik tensi dan aroma alkohol 70% itu kedatangan rombongan Komisi IX DPR RI, mereka bukan mau periksa gigi, meski Ketuanya, drg. Putih Sari, jelas bisa melakukan tambal celah baik di gigi maupun di regulasi kebijakan.
Mereka datang untuk kunjungan kerja spesifik. Spesifik, katanya, tapi semoga nggak sekadar spesifik buat selfie di ruang dekan dan makan pempek kapal selam, karena kalau cuma datang-duduk-pamit, itu bukan kunjungan kerja, tapi study tour berkedok legislasi.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel, H. Edward Candra, tampil bak tuan rumah resepsi, dengan jas yang duduk rapi di bahu dan suara yang stabil macam alat EKG, beliau menyambut rombongan seperti orang tua menyambut calon menantu.
Hangat, penuh harap, dan sedikit deg-degan apakah nanti akan ditanya soal akreditasi atau soal pendingin ruangan ruang praktikum yang sudah lama mendesah minta diganti.
Pak Edward tak berpanjang-panjang, namun kata-katanya mengandung makna yang mengendap seperti teh tubruk “Pendidikan vokasi kesehatan ini sangat penting untuk mencetak tenaga profesional di Sumatera Selatan. Poltekkes Palembang punya peran besar dalam mendukung layanan kesehatan”
Bahasa diplomatis itu kalau diterjemahkan bebas artinya “Tolong bantu kami, Pak dan Bu Dewan. Ini kampus butuh perhatian lebih, bukan hanya kunjungan”
Poltekkes memang bukan kampus biasa, disinilah para calon tenaga medis dibentuk, bukan cuma diajar cara menyuntik dan membaca hasil lab, tapi juga idealnya diajar cara memahami rasa sakit pasien dan kerasnya hidup di lapangan. Tapi, sayangnya, idealisme sering kalah oleh kenyataan, banyak fasilitas yang sudah aus, alat praktikum yang masih zaman kapsul minyak ikan rasa anyir, dan dosen yang semangatnya luar biasa tapi gajinya bikin haru.
Kalau boleh jujur, pendidikan vokasi kesehatan ini ibarat dandang tua masih bisa masak, tapi harus ditopang batu bata biar nggak goyang.
Kita tahu, sektor kesehatan bukan hanya soal rumah sakit megah di kota, tapi soal apakah desa-desa terpencil punya bidan yang tahu cara menangani persalinan darurat atau tidak, dan semua itu, akar rumputnya ya dimulai dari kampus seperti Poltekkes ini.
Makanya kunjungan Komisi IX ini harus jadi lebih dari sekadar basa-basi politik, kalau hanya datang dan pulang tanpa membawa solusi, itu seperti mengunjungi pasien demam lalu cuma bilang, “Sabar, ya”. Tanpa kasih obat.
Pepatah bilang “Jangan biarkan ayam mati di lumbung padi”. Artinya, jangan biarkan kampus kesehatan terkapar di tengah janji anggaran dan tumpukan retorika.
Apalagi Sumsel ini provinsi besar, kalau urusan tenaga kesehatan saja masih megap-megap, bagaimana mau bersaing dengan provinsi lain?. Jangan sampai nanti kita malah impor perawat dari luar hanya karena kampus sendiri tidak dikasih cukup napas untuk berkembang.
drg. Putih Sari memang memberi apresiasi, tapi seperti kita tahu, dalam dunia politik, apresiasi itu kadang seperti stiker WhatsApp terlihat manis, tapi belum tentu bermakna.
Yang dibutuhkan bukan hanya pujian, tapi keberpihakan nyata anggaran, regulasi, beasiswa, alat bantu ajar yang modern, dan program magang yang manusiawi, bukan sekadar nyuruh mahasiswa ngerjain administrasi sambil ngopi di pojok ruangan.
Pak Edward, dalam gaya bicara khas birokrat tulen, menambahkan bahwa Pemprov Sumsel berkomitmen. Ini kabar baik, seperti cinta, komitmen tanpa tindakan itu cuma kata-kata yang bisa buyar diguyur hujan resesi.
Komitmen harus dibarengi dengan keberanian menganggarkan, mengawasi, dan mendobrak tembok birokrasi yang suka bikin proposal nyangkut di meja.
Kita semua tahu bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang. Investasi itu tidak bisa dibangun hanya dengan spanduk semangat dan piagam penghargaan.
Poltekkes Palembang dan kampus serupa adalah benteng terakhir sebelum rakyat jatuh ke jurang ketidakadilan layanan kesehatan. Sinergi pusat dan daerah, seperti yang diucapkan Pak Sekda, haruslah bukan sekadar jargon manis, tapi jadi kerja gotong royong konkret.
Karena kalau kata orang bijak “Biar lambat asal selamat, tapi kalau terlalu lambat, nanti keburu dilangkahi yang lain”.
Jangan lupa, kampus ini mencetak penyelamat nyawa, jangan sampai para calon penyelamat itu malah harus diselamatkan dulu dari kurikulum usang dan gedung yang miring.
Catatan ini ditulis sambil membayangkan ruang UGD tanpa AC, dosen mengajar pakai spidol yang tintanya putus-putus, dan mahasiswa yang tetap semangat walau uang praktikum lebih kecil dari harga parkir mal.
Jangan biarkan kampus ini seperti infus yang menggantung tanpa cairan, hidup segan mati pun ditunda. Bila pusat dan daerah bisa benar-benar bersinergi, Poltekkes tak hanya akan mencetak tenaga kesehatan, tapi juga penjaga peradaban, orang bijak berkata “Bukan gedung tinggi yang membuat negeri hebat, tapi manusia sehat yang tahu arah”.
Seperti kata nenek saya, “Kalau sudah datang, jangan cuma duduk diam dan senyum, bawalah oleh-oleh perubahan, bukan hanya sisa roti rapat”.[***]