Senin, 12 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Obyek Wisata » Kalau Tenun Bisa Masuk Metaversem, Warisan 500 Tahun di Ujung Jempol Gen Z

Kalau Tenun Bisa Masuk Metaversem, Warisan 500 Tahun di Ujung Jempol Gen Z

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
  • visibility 927
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ADA pepatah lama orang kampung “jangan biarkan kain nenekmu hanya jadi taplak meja, padahal bisa jadi tiket ke masa depan”. Nah, pepatah ini entah siapa yang bikin, tapi rasanya cocok banget kalau kita ngomongin tenun Sekomandi, warisan 500 tahun dari Mandar, Sulawesi Barat.

Bayangkan, kain yang ditenun dengan sabar berbulan-bulan, motifnya penuh filosofi hidup, tiba-tiba nyasar ke dunia metaverse. Lha, apa nggak bikin nenek-nenek penenun bingung, “metaverse itu merek pupuk apa, Nak?”

Kalau selama ini turis datang ke desa, duduk manis lihat ibu-ibu menenun sambil ngunyah sirih, sekarang bayangin turis tinggal pasang kacamata VR. Brak!, mereka langsung nyemplung ke rumah penenun. Bisa lihat proses benang jadi kain, dengar suara ayam berkokok, bahkan cium aroma kopi Mandar yang baru diseduh (ya walaupun kalau via metaverse, baunya bisa salah alamat, jadi mirip kopi instan).

Pertanyaannya, kenapa tenun Sekomandi perlu masuk digital?, karena zaman sekarang, Gen Z lebih betah nongkrong di timeline ketimbang di teras rumah nenek, kalau budaya nggak ikut nongol di layar hape, bisa-bisa kalah sama tren AI filter yang bikin wajah glowing kayak artis Korea.

Motif tenun Sekomandi itu bukan sekadar corak. Ada makna laut, gunung, kehidupan, doa, kalau motif itu didigitalisasi jadi NFT (Non-Fungible Token), maka setiap helai motif bisa punya sertifikat keaslian digital. Bayangin, kolektor luar negeri rela beli NFT gambar monyet pakai topi aja miliaran, masa motif 500 tahun kalah pamor?

Kalau ini dijual sebagai NFT, bisa jadi dana balik ke penenun desa. Jadi nggak cuma investor kripto yang kaya, tapi juga ibu-ibu penenun bisa dapat tambahan buat beli panci baru atau nyekolahin cucu.

Tapi tentu ada dilema, bayangkan nenek-nenek Mandar ditawarin workshop “Nek, nanti kita bikin avatar ya, biar Nek bisa menenun di metaverse”

Si nenek bisa saja jawab “Cucu, aku menenun aja susah, apalagi menenun di dunia orang gaib!”

Lucu kan? Tapi justru di situlah tantangannya, kalau anak muda Mandar bisa jadi jembatan, mereka bisa bikin konten behind the loom di TikTok, live streaming proses menenun, atau bahkan bikin filter Instagram dengan motif Sekomandi.

Dulu, nenek moyang menenun benang jadi kain, sekarang, anak cucu menenun kabel jadi fiber optik, sama-sama benang, cuma beda fungsi. Yang satu menutup badan, yang satu mengantarkan data 5G. Tapi, filosofi menenun itu sama: butuh kesabaran, konsistensi, dan ketelitian. Kalau putus di tengah, hasilnya amburadul, begitu juga dengan budaya kalau pewarisannya putus, hilanglah identitas.

Digitalisasi Budaya

Namun, jangan salah kaprah,Masukin tenun ke metaverse bukan berarti cukup bikin pameran digital sekali terus selesai. Digitalisasi budaya itu harus ada keberlanjutan, harus ada pelatihan, ada pasar, ada promosi. Jangan sampai jadi pepatah baru “kainnya masuk server, penenunnya tetap lapar”

Kita butuh model ekonomi kreatif yang sehat tur virtual yang hasilnya sebagian masuk ke kas komunitas, NFT motif yang royalti balik ke penenun, kolaborasi dengan desainer dunia yang tetap mencantumkan nama Sulbar. Jadi bukan hanya “jualan eksotis”, tapi betul-betul mengangkat derajat penenun.

Coba bayangin obrolan cucu dan nenek,

Cucu: “Nek, motif ini keren, kalau aku jadiin skin Mobile Legends pasti laku keras.”

Nenek: “Apa itu skin? Badanmu kurang kulit, Nak?”

Inilah benturan zaman. Tapi justru dari benturan inilah lahir inovasi, kalau anak muda bisa translate warisan leluhur ke bahasa digital, maka budaya kita nggak cuma bertahan, tapi juga eksis di masa depan.

Bangsa kita ini sering kebanyakan jadi pasar, bukan produsen. Kita pakai aplikasi luar negeri, beli produk luar negeri, bahkan budaya kita sering diklaim negara lain baru heboh. Nah, tenun Sekomandi bisa jadi titik balik, dari warisan lokal, jadi produk global yang tetap memberi manfaat ke akar rumput.

Kalau pepatah bilang, “air mengalir ke laut”, maka di era digital, data mengalir ke server luar negeri, jangan sampai warisan budaya juga ikut hanyut tanpa arah.

Tenun Sekomandi bukan sekadar kain, ia adalah kisah 500 tahun yang bisa ditulis ulang dalam bahasa digital. Metaverse, NFT, VR  semua itu hanya alat. Yang paling penting adalah memastikan ibu-ibu penenun tetap mendapat nilai tambah, dan anak muda tetap merasa bangga memakai motif leluhur mereka.

Kalau dulu nenek kita menenun untuk menghangatkan tubuh, sekarang kita harus menenun ulang makna agar menghangatkan identitas bangsa. Ingat pepatah Mandar “Satu benang putus bisa disambung, tapi kalau tradisi hilang, susah dicari gantinya”

Jadi, kalau hari ini kamu sibuk scrolling TikTok, jangan lupa, ada warisan 500 tahun yang menunggu disentuh jempolmu. Entah lewat NFT, entah lewat VR, atau cukup lewat rasa bangga, karena di ujung benang Sekomandi, ada cerita Indonesia yang tak boleh kita biarkan lepas begitu saja.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kementan RI Setujui Sumsel Jadi Provinsi Mandiri Benih, Siapkah ?

    Kementan RI Setujui Sumsel Jadi Provinsi Mandiri Benih, Siapkah ?

    • calendar_month Selasa, 9 Mar 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 2.692
    • 0Komentar

    TEKAD Pemerintah Provinsi Sumsel menjadikan Provinsi ini sebagai salah satu provinsi  mandiri benih  di Indonesia mendapat angin segar. Bagaimana tidak, keinginannya itu langsung direspon positif oleh Kepala Badan Penyuluh Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan RI Prof Ir. Dedi Nursyamsi, M. Agr. Hal itu terungkap saat Gubernur Sumsel H Herman Deru menerima kunjungan Kepala […]

  • Lomba Dayung Perahu Bidar 

    Lomba Dayung Perahu Bidar 

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.577
    • 0Komentar

    SEBANYAK 64 peserta Perahu Bidar unjuk kebolehan dalam ajang Pelatihan mencari atlet Dayung, Perahu-perahu bidar tersebut berasal  dari berbagai penjuru di Provinsi Sumsel. Lomba perahu bidar dilakukan sejak pagi hingga sore beradu cepat memperebutkan juara pertama lewat beberapa babak penyelisihan. Perlombaan ini memperebutkan hadiah total Rp 5 juta serta piala resmi. Bertempat di Kediaman H. […]

  • Sumsel Siap Jadi Host UEA Summit 2019

    Sumsel Siap Jadi Host UEA Summit 2019

    • calendar_month Jumat, 27 Okt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 864
    • 0Komentar

    Peserta akan membahas dan mencari teknologi modifikasi untuk energi  terbarukan dari batubara, CPO dan penvolahan sampah

  • Ilustrasi-Pembunuhan

    Alhamdulillah, Pelaku Pembunuhan Driver GoCar Diringkus

    • calendar_month Senin, 28 Agt 2017
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.415
    • 0Komentar

    Kerja aparat Kepolisian boleh diacungkan jempol, pasalnya lebih kurang satu minggu, tiga tersangka pembunuhan driver Go Car, Almarhum Edwar Limba (35) berhasil diringkus.

  • Perkawinan

    Perkawinan

    • calendar_month Minggu, 2 Jul 2023
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.131
    • 0Komentar

    Di bawah pohon cinta yang rindang, Kita bersatu dalam ikatan suci, Perkawinan yang membawa bahagia, Menggenggam tangan, menjalani hidup bersama. Cinta kita bagai bunga yang mekar, Menghiasi kehidupan dengan indahnya, Kita saling melengkapi, satu jiwa dua ragam, Menatap masa depan, membangun impian bersama. Dalam bahtera rumah tangga kita berlayar, Melintasi samudra kehidupan yang luas, Tersenyum […]

  • Walkot Pagar Alam Bahas KBM, Elemen Pendidikan Usul 2 Cara Ini

    Walkot Pagar Alam Bahas KBM, Elemen Pendidikan Usul 2 Cara Ini

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.248
    • 0Komentar

    ELEMEN pendidikan yang terdiri dari perwakilan dari perguruan tinggi, kepala SMA/SMK, Muhammadiyah/NU, Pondok Pesantren (Ponpes) dan Pengurus PGRI Kota Pagar Alam mengusulkan pembelajaran dapat dilakukan dengan dua cara, yakni cara daring melalui aplikasi Whats App, dan pembelajaran jarak jauh mengingat saat ini masih dalam kondisi pandemic covid-19. Usulan elemen pendidikan tersebut dilontarkan saat menghadiri Rapat […]

expand_less
WordPress Archive LearnDash LMS Toolkit Addon LearnDash LMS Visual Customizer LearnDash LMS WooCommerce Integration Addon LearnDash LMS WordPress Plugin LearnDash LMS Zapier Integration LearnDash Notes LearnKit – e-Learning Elementor Template Kit Learnomatic – Udemy Affiliate Plugin for WordPress LearnPLUS | Education LMS Responsive Theme | Education LearnPress 2Checkout add-on