Kabut Asap Palembang Memburuk, 891 Hotspot Sumsel Terdata
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 15 menit yang lalu
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : ilustrasi/kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan Kota Palembang pada Kamis (15/10/2026). Kondisi langit yang redup, jarak pandang terbatas, dan meningkatnya titik panas di Sumatera Selatan memperlihatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi pekerjaan serius pemerintah.
Pantauan warga di Perum Pesona Harapan, RT 50, sekitar pukul 14.00 WIB, menunjukkan suasana lingkungan relatif sepi. Langit tampak kelabu, sementara pandangan ke arah kejauhan terlihat kabur akibat asap.
Lampu penerangan jalan otomatis masih menyala di tengah kondisi yang redup. Pada saat bersamaan, suara helikopter terdengar berputar di udara, meskipun sosoknya sulit terlihat jelas karena pandangan terhalang kabut.
Kondisi tersebut menjadi gambaran situasi yang dirasakan warga di lingkungan permukiman. Namun, pengamatan di satu kawasan belum dapat mewakili seluruh kondisi udara di Kota Palembang.
Laporan cuaca penerbangan BMKG di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang mencatat kondisi berasap pada Kamis pagi. Pada pukul 07.30 WIB, jarak pandang dilaporkan hanya sekitar 100 meter.
Sementara itu, laporan detikSumbagsel menyebutkan konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 1.134,5 mikrogram per meter kubik pada pukul 02.00 WIB. Nilai tersebut dilaporkan masuk kategori berbahaya.
Data itu memperlihatkan seriusnya kondisi yang dilaporkan pada pagi hari dan dini hari. Meski demikian, angka tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai pengukuran kualitas udara tepat pukul 14.00 WIB di Perum Pesona Harapan.
Dudung Tegaskan Penanganan Karhutla Harus Cepat dan Tegas
Di tengah situasi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Dudung Abdurachman, menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan secara cepat, tegas, dan tepat sasaran. Penegasan itu disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Griya Agung, Palembang, Rabu (14/10/2026).
Dudung menekankan pentingnya menunjukkan kerja nyata seluruh personel kepada masyarakat sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mengatasi kebakaran. Ia juga mengingatkan perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran lahan harus dikenai sanksi tegas agar menimbulkan efek jera.
Selain membahas penanganan di lapangan, Dudung menyampaikan rencana peninjauan sekaligus peluncuran teknologi dry ice untuk membantu mengatasi dampak kabut asap akibat karhutla.
Teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung upaya penanganan asap, khususnya di wilayah Sumatera Selatan. Namun, efektivitas penerapannya tetap perlu dilihat dari metode pelaksanaan dan hasil pengujian di lapangan.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengungkapkan kebakaran di lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla.
Api dan bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Kondisi tersebut membuat petugas perlu memastikan tidak ada titik api yang kembali menyala setelah kebakaran terlihat padam.
Berdasarkan keterangan Herman Deru dalam bahan laporan per 14 Oktober 2026, jumlah hotspot di Sumatera Selatan disebut mencapai 891 titik. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 625 titik.
Berikut rincian yang disampaikan:
- Ogan Komering Ilir: 625 titik.
- Banyuasin: 126 titik.
- Musi Banyuasin: 53 titik.
- Muara Enim: 47 titik.
- Ogan Ilir: 15 titik.
- OKU Timur: 15 titik.
Angka tersebut perlu dibaca sebagai data yang dikutip dari keterangan gubernur dan diverifikasi kembali dengan data resmi SiPongi, terutama karena terdapat perbedaan dengan rekapitulasi hotspot yang sebelumnya beredar.
Hotspot sendiri merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit. Jumlahnya tidak otomatis sama dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar.
Untuk menangani karhutla, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama pemerintah kabupaten dan kota mengerahkan 12.710 personel dari berbagai unsur, berdasarkan keterangan Herman Deru.
Upaya penanganan juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga 13 Oktober 2026, operasi tersebut dilaporkan telah mencapai 75 sorti dengan total bahan semai natrium klorida (NaCl) sebanyak 70.400 kilogram.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadapi kondisi karhutla yang masih memerlukan penanganan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
Meski demikian, pengerahan personel dan operasi udara perlu diikuti pemantauan titik api secara berkelanjutan, terutama di lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan.
Situasi kabut asap yang dilaporkan warga, catatan jarak pandang di bandara, serta perkembangan karhutla di Sumatera Selatan menjadi alasan bagi masyarakat untuk tetap berhati-hati.
Warga disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan ketika asap pekat, menutup pintu dan jendela saat asap masuk, serta menggunakan masker respirator seperti N95 atau KN95 jika harus beraktivitas di luar.
Masyarakat juga perlu memantau informasi kualitas udara dan cuaca dari sumber resmi. Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan berat, segera cari pertolongan medis.
Penanganan karhutla kini tidak hanya menyangkut pemadaman api, tetapi juga perlindungan kesehatan masyarakat, keselamatan penerbangan, dan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
