Obyek Wisata

Di Balik Kartu Kuning, Perjuangan Mengembalikan Kilau Geopark Kaldera

kemenpar.go.id

Sumselterkini.co.id,  – Kaldera Toba, salah satu ikon alam Indonesia, ternyata lagi kena ‘yellow card’ dari UNESCO. Ibarat pemain bola yang baru dapat peringatan wasit karena dianggap ngelanggar aturan, Geopark Kaldera Toba sekarang lagi diingatkan supaya jangan sampai kena ‘red card’ alias diskualifikasi sebagai UNESCO Global Geopark. Ini bukan soal siapa yang paling jago jaga bola, tapi soal bagaimana kita mengelola warisan alam yang super keren ini agar bisa tetap bertahan di level internasional.

Dapat kartu kuning itu ibarat guru bilang, “Nak, kamu bisa lebih baik lagi kok.” Jadi, jangan sampai peringatan ini bikin kita nyerah, malah harus jadi cambuk semangat. Kemenpar bersama pengelola Geopark Kaldera Toba sudah ngumpul, diskusi, dan bikin strategi dua bulan ke depan untuk memperbaiki pengelolaan geopark supaya kembali ke “green card” alias status aman dari UNESCO.

Bayangin aja, geopark itu kayak rumah besar yang kita wariskan dari nenek moyang alam, lengkap dengan cerita geologi dan budaya yang kaya. Kalau rumah ini dibiarkan berantakan, siapa yang mau datang dan tinggal? Kan sayang!

Kunci utama biar Kaldera Toba kembali berjaya adalah kolaborasi. Mulai dari pemerintah pusat, provinsi, sampai kabupaten yang menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) sekitar Rp 56,6 miliar untuk perbaikan infrastruktur dan pelatihan SDM. Ini ibarat mobil mewah yang harus rutin diservis, jangan cuma diparkir di garasi, kinclong di luar tapi mesinnya mogok.

Delapan kabupaten yang mendapat alokasi dana itu juga harus bergandengan tangan, karena kalau cuma satu kabupaten jalan sendiri, yang lain malah nge-prank. Dan jangan lupa, event-event keren seperti MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) bakal jadi panggung unjuk gigi supaya geopark makin dikenal dunia.

UNESCO menyoroti beberapa hal yang harus diperbaiki diversifikasi cerita geologi, inventarisasi warisan alam dan budaya, serta peningkatan visibilitas lewat panel interpretasi yang informatif. Ini ibarat menu restoran, jangan cuma satu rasa doang, tapi harus lengkap dan menggoda lidah pengunjung. Kalau pengunjung paham dan terpesona, bukan cuma selfie doang, tapi bawa pulang cerita dan pengalaman.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bilang, “Kaldera Toba itu aset yang luar biasa. Pengelolaannya harus berkelanjutan agar manfaatnya dirasakan masyarakat dan pariwisata Indonesia.”

Nah, pepatah bilang, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.” Kita memang harus kerja keras dulu, berbenah bersama supaya geopark kita jadi kebanggaan dunia, bukan cuma tempat selfie cantik yang akhirnya ditinggal.

Kartu kuning dari UNESCO sebenarnya adalah kesempatan emas, bukan masalah besar kalau kita bisa tangkap pesan dan segera berbenah. Kaldera Toba punya potensi bak permata langka yang cuma ada di Indonesia kalau dijaga dan dikelola dengan benar, bukan cuma akan jadi magnet wisata, tapi juga pembangkit ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ingat, geopark itu bukan cuma soal alam, tapi soal cerita, budaya, dan manusia yang hidup di dalamnya.

Jadi, ayo jangan cuma jadi ‘tukang parkir’ geopark yang diam di tempat. Mari kita gas pol, bersinergi, dan tunjukkan bahwa Indonesia bisa jadi juara dunia geopark. Kalau sudah begini, ‘yellow card’ akan berubah jadi ‘gold medal’ yang membanggakan!.[***]

Terpopuler

To Top