Obyek Wisata

Investor Datang, Bianglala Masih Wacana?

ist

RENCANA pembangunan bianglala dan taman bermain di Palembang kembali muncul ke permukaan.

Investor sudah menyatakan minat, pemerintah membuka ruang, namun kepastian realisasi masih menunggu langkah konkret.

Gagasan menghadirkan wahana bianglala bukan sekadar proyek hiburan biasa.

Di beberapa kota, bianglala menjadi penanda baru ikon yang memperkuat identitas sekaligus menarik arus wisatawan.

Palembang dengan lanskap Sungai Musi dinilai punya peluang untuk itu.

Pertanyaannya, apakah kali ini rencana tersebut benar-benar akan dijalankan?

Awalnya, lokasi pembangunan diarahkan ke kawasan Benteng Kuto Besak.

Kawasan ini memang strategis dan sudah dikenal sebagai pusat aktivitas publik.

Namun, statusnya sebagai wilayah heritage yang tengah direvitalisasi membuat rencana tersebut perlu dikaji ulang. Artinya, sejak awal sudah terlihat  perencanaan belum sepenuhnya matang.

Perubahan arah kemudian muncul dengan mengusulkan kawasan Kampung Kapitan di wilayah 7 Ulu sebagai alternatif.

Kawasan tepian Sungai Musi ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata baru.

Jika terealisasi, ini bukan hanya soal memindahkan lokasi, tetapi juga membuka peluang pemerataan pengembangan pariwisata kota.

Rencananya bianglala mulai masuk ke fase yang lebih serius bukan lagi sekadar ide, tapi sudah melibatkan pelaku usaha.

Investor yang datang membawa sinyal positif bahwa proyek ini memiliki daya tarik secara bisnis.

Namun, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa kehadiran investor tidak selalu berbanding lurus dengan kecepatan realisasi.

Narasi

Di sinilah letak persoalan klasik yang kerap berulang, banyak rencana pembangunan di Palembang berhenti pada tahap wacana atau berjalan lambat karena berbagai kendala, mulai dari kajian yang berlarut hingga koordinasi lintas pihak yang tidak solid.

Akibatnya, ide yang awalnya menjanjikan justru kehilangan momentum.

Bianglala berpotensi menjadi ikon baru kota, jika dikerjakan dengan perencanaan yang matang dan eksekusi yang jelas.

Selain sebagai sarana rekreasi keluarga, wahana ini juga bisa memperkuat daya tarik wisata dan menggerakkan ekonomi lokal di sekitarnya.

Namun tanpa kepastian waktu dan langkah nyata, potensi tersebut hanya akan menjadi narasi yang berulang.

Pergeseran lokasi dari BKB ke Kampung Kapitan juga memberi sinyal  arah pengembangan kota masih dalam proses pencarian.

Ini bisa menjadi peluang untuk membuka kawasan baru, tetapi juga bisa menjadi tanda bahwa keputusan strategis belum sepenuhnya final. Tanpa kejelasan, risiko stagnasi tetap terbuka.

Pemerintah Kota Palembang sendiri menyambut baik minat pelaku usaha dalam pembangunan ini.

Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, menyampaikan apresiasi atas kontribusi pihak swasta dan menegaskan pembangunan kota membutuhkan kolaborasi semua pihak.

Ia juga menekankan pentingnya kajian mendalam terkait lokasi serta mendorong agar rencana tersebut segera ditindaklanjuti dengan aksi nyata dalam waktu dekat. (***)

To Top