518 Hotspot Karhutla Terdeteksi di Kalimantan, Asap Pekat Batasi Water Bombing
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 22 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kehutanan.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Sebanyak 518 hotspot berkepercayaan tinggi terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan pada 19 Agustus 2026. Di tengah lonjakan titik panas tersebut, asap pekat menjadi salah satu kendala dalam operasi pemadaman dari udara.
Data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan berdasarkan pantauan satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua mencatat 259 hotspot di Kalimantan Barat, 242 titik di Kalimantan Tengah, dan 17 titik di Kalimantan Selatan pada 19 Agustus pukul 07.00 WIB.
Jumlah itu melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 109 hotspot. Jika dihitung selama 17–19 Agustus, total hotspot berkepercayaan tinggi di tiga provinsi tersebut mencapai 750 titik.
Meski demikian, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga setiap temuan masih perlu diverifikasi di lapangan.
Kabut asap juga dilaporkan muncul di sejumlah wilayah. Pada 19 Agustus, jarak pandang di Bandara Supadio Pontianak sempat sekitar 1,2 kilometer, sedangkan di Palangka Raya sekitar 3 kilometer. Di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, jarak pandang bahkan tercatat sekitar 400 meter pada pukul 07.00 WITA.
Kondisi jarak pandang kemudian membaik pada 20 Agustus. Di Bandara Supadio, jarak pandang mencapai sekitar 4 kilometer pada pukul 10.00 WIB, sementara di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sekitar 6 kilometer.
Namun, perbaikan jarak pandang tersebut belum berarti karhutla sepenuhnya terkendali. Sebaran asap sangat bergantung pada arah angin, kelembapan, kondisi atmosfer, lokasi kebakaran, serta akumulasi asap dari berbagai wilayah.
Asap Batasi Pemadaman dari Udara
Pemerintah memperkuat operasi udara di Kalimantan Tengah dengan helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopter water bombing.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB untuk menambah dukungan armada udara bagi operasi water bombing di Kalimantan Tengah.
Namun, asap pekat menjadi kendala tersendiri. Di sejumlah lokasi, terutama sekitar Jabiren, Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau, jarak pandang yang buruk membatasi kemampuan pilot melihat sasaran dan jalur penerbangan.
Karena itu, water bombing tidak dapat dipaksakan ketika kondisi penerbangan tidak memenuhi standar keselamatan. Pemadaman tetap dilakukan dari darat melalui patroli, penyekatan, pembasahan, pendinginan, dan penjagaan lokasi rawan.
12.880 Personel Dikerahkan
Penanganan karhutla di tiga provinsi prioritas diperkuat sedikitnya 12.880 personel gabungan.
Sebanyak 1.410 personel berada di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan.
Mereka berasal dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pemerintah daerah, pelaku usaha, relawan, serta masyarakat.
Petugas melakukan pemantauan hotspot dan laporan warga, patroli terpadu, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, pembasahan dan pendinginan, hingga penyekatan area terbakar.
Operasi juga didukung pompa, selang pemadaman, flexible tank, alat komunikasi, alat pelindung diri, kendaraan operasional, serta sarana udara.
Pemerintah turut menambah dan mengaktifkan sumur bor di wilayah prioritas. Langkah ini dilakukan untuk mendekatkan sumber air ke lokasi kebakaran, terutama di lahan gambut yang membutuhkan pembasahan menyeluruh agar bara di bawah permukaan tidak kembali memicu api.
OMC Bergantung Kondisi Awan
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetap menjadi bagian dari penanganan karhutla, tetapi pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial.
Di Kalimantan Barat, OMC telah dilakukan pada 13–17 Agustus melalui sembilan sorti penerbangan. Peluang operasi kembali terbuka pada 23–27 Agustus.
Sementara di Kalimantan Tengah, OMC telah dilakukan dalam dua periode, yakni 27 Juli–4 Agustus dan 11–15 Agustus, dengan total 13 sorti penerbangan.
Namun, peluang OMC dalam waktu dekat di Kalimantan Tengah dinilai minim karena kondisi masih cenderung kering dan pertumbuhan awan hujan terbatas.
Pemerintah menyatakan penanganan karhutla akan terus disesuaikan dengan perkembangan lapangan. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau mengurangi aktivitas di luar ruang ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker, serta segera melapor jika menemukan titik api atau kepulan asap. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
