Empat Pelajar, Satu Merah Putih, Kisah Paskibraka dalam Upacara Penurunan Bendera
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 24 menit yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto :ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Upacara penurunan bendera selalu menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Di tengah barisan yang berdiri tegak dan suasana khidmat, ada anggota Paskibraka yang menjalankan tugas dengan ketelitian tinggi agar Sang Merah Putih turun dengan sempurna.
Prosesi di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026 memperlihatkan cerita menarik tersebut. Empat pelajar dari wilayah berbeda mendapat peran dalam rangkaian penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih.
Mereka membawa nama daerah masing-masing, tetapi menjalankan satu tugas yang sama di hadapan Presiden Prabowo Subianto.
Atanasius Meyllano Frans Yogar dari Nusa Tenggara Timur bertugas sebagai Komandan Kelompok 8. Ia memimpin jalannya formasi dalam prosesi utama penurunan bendera.
Sementara, Mirza Rafi Navazani, pelajar SMAN 1 Sintang asal Kalimantan Barat, menjalankan tugas sebagai pembentang bendera. Tugas tersebut menuntut ketepatan gerakan karena ia harus bekerja dalam satu rangkaian bersama petugas lainnya.
Maharazthu Rizqhy Ramadhana Chubuyana dari Nusa Tenggara Barat mendapat tugas sebagai pengerek bendera. Pelajar SMAN 1 Taliwang itu menjadi bagian penting dalam proses menurunkan Sang Merah Putih dari tiang utama.
Setelah bendera berhasil diturunkan, giliran Neeltje Deliana Insjowi Werimon dari Papua menjalankan tugas sebagai pembawa bendera. Ia membawa Sang Merah Putih menuju mimbar kehormatan untuk kemudian diserahkan kepada Presiden Prabowo.
Empat daerah dalam satu rangkaian
Keempat pelajar itu berasal dari daerah yang berbeda. Namun, tugas mereka bertemu dalam satu rangkaian yang sama.
Atanasius menjalankan komando. Mirza membentangkan bendera. Maharazthu mengerek bendera, sedangkan Neeltje membawanya menuju mimbar kehormatan.
Pembagian tugas itu membuktikan prosesi penurunan bendera tidak hanya mengandalkan satu petugas. Setiap anggota memiliki tanggung jawab sendiri dan harus menjalankannya pada waktu yang tepat.
Kesalahan kecil dapat mengganggu seluruh rangkaian. Oleh sebabitu, latihan dan kekompakan menjadi bagian penting dalam persiapan Paskibraka.
Kesempatan tersebut merupakan anugerah untuk empat pelajar terpilih itu setidaknya juga menjadi pengalaman yang tidak biasa. Mereka berdiri di halaman Istana Merdeka dan menjalankan salah satu tugas kenegaraan yang mendapat perhatian luas setiap peringatan Hari Kemerdekaan.
Apa tugas anggota Paskibraka saat penurunan bendera?
Paskibraka memiliki beberapa posisi dalam upacara, termasuk petugas yang berkaitan langsung dengan proses pengibaran maupun penurunan bendera.
Komandan Kelompok 8 bertugas memimpin kelompok sesuai rangkaian gerakan dan aba-aba yang telah ditentukan. Pembentang bertanggung jawab membentangkan bendera dengan posisi dan gerakan yang tepat.
Sementara itu, pengerek menjalankan proses menaikkan atau menurunkan bendera sesuai instruksi. Setelah bendera selesai diturunkan, pembawa bendera mengambil bagian dalam membawa Sang Merah Putih menuju tempat yang telah ditentukan.
Setiap posisi memiliki fungsi berbeda. Namun, semuanya harus bergerak dalam satu irama.
Itulah sebabnya latihan Paskibraka tidak hanya mengandalkan kemampuan individu. Mereka juga harus membangun kekompakan dengan anggota lain agar seluruh gerakan terlihat seragam dan terukur.
Merah Putih menyatukan perbedaan
Ada hal sederhana yang terlihat dari keempat pelajar tersebut.
Mereka datang dari Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Wilayah asal mereka berbeda, begitu pula latar belakang dan perjalanan masing-masing sebelum terpilih menjadi Paskibraka.
Namun, ketika menjalankan tugas di Istana Merdeka, identitas daerah itu bertemu dalam satu simbol.
Sang Merah Putih.
Bendera yang mereka jaga bukan hanya bagian dari perlengkapan upacara. Bagi Indonesia, Merah Putih menjadi simbol perjuangan, persatuan, dan kedaulatan negara.
Karena itu, setiap prosesi pengibaran dan penurunan bendera selalu memiliki suasana tersendiri. Ada penghormatan yang diberikan kepada bendera, tetapi ada pula pesan tentang bagaimana generasi muda mengambil bagian dalam menjaga simbol negara.
Tugas singkat dengan tanggung jawab besar
Prosesi penurunan bendera mungkin hanya berlangsung dalam waktu singkat. Namun, para anggota Paskibraka membutuhkan persiapan yang panjang untuk mencapai gerakan yang rapi dan seragam.
Mereka harus menghafal formasi, memahami aba-aba, menjaga posisi, serta mempertahankan konsentrasi selama berada di lapangan.
Tekanan juga tidak kecil karena tugas tersebut berlangsung dalam upacara kenegaraan dan disaksikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia.
Pada akhirnya, Atanasius, Mirza, Maharazthu, dan Neeltje berhasil menyelesaikan tugas masing-masing dalam prosesi penurunan Sang Merah Putih.
Presiden Prabowo kemudian menerima bendera yang telah diturunkan dan meletakkannya kembali di mimbar kehormatan.
Sebelum meninggalkan mimbar, Presiden menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta upacara yang telah mengikuti rangkaian peringatan sejak pagi hingga sore.
“Terima kasih atas pelaksanaan upacara yang tertib dan khidmat,” ujar Prabowo.
Prosesi pun berakhir.
Namun, kisah empat pelajar tersebut menunjukkan bahwa sebuah upacara kenegaraan tidak hanya berbicara tentang pejabat yang hadir atau seremoni yang berlangsung.
Ada anak-anak muda yang mendapat kepercayaan menjalankan tugas penting. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, menjalankan peran yang berbeda, lalu bertemu dalam satu rangkaian penghormatan kepada Merah Putih.
Empat pelajar, empat daerah, satu tugas.
Dan semuanya berakhir di bawah satu bendera yang sama. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
