Bantuan Gempa NTT 46,6 Ton Sasar Kebutuhan Perempuan dan Anak yang Kerap Terlewat
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Penanganan korban gempa M7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya membutuhkan makanan dan air minum. Di tengah kondisi darurat, perempuan dan anak juga memiliki kebutuhan khusus yang tidak selalu masuk dalam daftar logistik utama.
Kebutuhan itu mulai dari nutrisi untuk balita, popok dan pembalut, perlengkapan kebersihan, pakaian, hingga kebutuhan yang berkaitan dengan pemulihan psikososial anak.
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama sejumlah mitra pembangunan. Sebanyak 46,6 ton bantuan kemudian dikumpulkan untuk mendukung warga terdampak di tujuh kabupaten di NTT.
Bantuan itu diserahkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (23/8). BNPB selanjutnya mengelola bantuan tersebut melalui Pos Pendukung Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma, Jakarta, sebelum dikoordinasikan untuk pendistribusian ke wilayah terdampak.
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengatakan kebutuhan perempuan dan anak perlu dipastikan sejak awal dalam penanganan bencana. Menurut dia, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri karena kondisi di lapangan membutuhkan dukungan berbagai pihak.
“Pemerintah bergerak cepat sejak hari pertama pascabencana. Namun, penanganan bencana tidak bisa dilakukan sendiri, butuh kolaborasi dan sinergi yang solid serta efektif,” ujar Arifatul.
Kebutuhan Dipetakan Sebelum Bantuan Dikirim
Jenis bantuan yang dikirim tidak ditentukan begitu saja. Kemen PPPA lebih dulu melakukan koordinasi internal dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) tingkat provinsi serta pemerintah di tujuh kabupaten terdampak.
Dari koordinasi tersebut, pemerintah memetakan kebutuhan yang dianggap paling mendesak bagi perempuan dan anak.
Hasil pemetaan kemudian dibawa ke pertemuan daring bersama mitra pembangunan. Sejumlah pihak merespons dengan memberikan dukungan dan mengumpulkan bantuan sesuai kebutuhan yang telah diidentifikasi.
Karena itu, isi bantuan tidak hanya berupa makanan.
Untuk kebutuhan balita dan anak, bantuan mencakup nutrisi, air minum kemasan, makanan olahan, serta logistik siap saji.
Kebutuhan sanitasi dan kebersihan juga mendapat porsi khusus. Di dalamnya terdapat popok bayi, pembalut, sabun, pasta gigi, sikat gigi, serta losion antinyamuk.
Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, bantuan yang dikumpulkan meliputi pakaian anak dan dewasa, mukena, abaya, handuk, selimut, dan sarung.
Ada pula buku cerita dan buku mewarnai yang ditujukan sebagai bagian dari dukungan edukasi psikososial bagi anak selama masa pemulihan.
BNPB Koordinasikan Distribusi ke Daerah Terdampak
Dalam penyaluran bantuan tersebut, BNPB menjadi salah satu simpul penting untuk memastikan logistik dapat bergerak menuju wilayah yang membutuhkan.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi kepada Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr. Raditya Jati. Penyerahan itu turut didampingi tenaga ahli Kepala BNPB Mayjen (Purn) Sun Suripto.
Sejumlah mitra pembangunan dan dunia usaha ikut mendukung pengumpulan bantuan, di antaranya APSAI, APNIA, Danone, APJI, Muslimat NU, PWKI, IWAPI, Unilever, PERKIN, dan Nestlé.
BNPB kemudian melanjutkan koordinasi dengan Pos Pendukung Logistik di Labuan Bajo dan Maumere, Kemen PPPA, serta pihak terkait lainnya.
Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan yang telah dikumpulkan dapat didistribusikan secara aman dan tepat sasaran kepada masyarakat terdampak.
Bagi kelompok perempuan dan anak, pemenuhan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat menjadi bagian penting dari pemulihan. Bantuan yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan diharapkan tidak hanya meringankan beban korban gempa, tetapi juga membantu memastikan hak dan perlindungan kelompok rentan tetap terpenuhi selama proses pemulihan berlangsung. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
