Anak Pengungsi Gempa NTT Tetap Belajar di Tengah Pengungsian, Ada Perpustakaan Keliling
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 14 menit yang lalu
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : bnpb,go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Anak-anak korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengungsi di GOR Samador, Kabupaten Sikka, tetap mendapat ruang untuk belajar dan bermain selama berada di pengungsian. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka menghadirkan layanan perpustakaan keliling pada Selasa (18/8).
Beragam bahan bacaan disediakan untuk anak-anak di lokasi pengungsian. Kehadiran perpustakaan keliling memberi mereka aktivitas yang dapat dilakukan di tengah situasi darurat, sekaligus membantu menjaga kegiatan belajar tetap berjalan.
Selain membaca, anak-anak mengikuti kegiatan trauma healing dengan berbagai aktivitas interaktif. Permainan edukatif, bercerita, bernyanyi, dan kegiatan kelompok menjadi bagian dari pendampingan yang diberikan di GOR Samador.
Kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada anak-anak untuk berinteraksi dan mengekspresikan perasaan selama menghadapi situasi bencana. Pendamping juga mengajak mereka bermain bersama agar anak-anak tetap dapat menjalani aktivitas yang sesuai dengan usia dan kebutuhan perkembangannya.
Layanan bagi anak pengungsi ini menjadi bagian dari dukungan psikososial selama masa tanggap darurat gempa NTT. Penanganan di lokasi pengungsian tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan sosial warga terdampak.
Kehadiran perpustakaan keliling di GOR Samador sekaligus memberikan alternatif kegiatan bagi anak-anak selama berada di pengungsian. Mereka tetap memiliki kesempatan membaca, belajar, bermain, dan berinteraksi meski aktivitas sehari-hari berlangsung dalam kondisi darurat.
Dukungan psikososial tersebut diharapkan terus tersedia selama masyarakat masih berada di pengungsian. Layanan ini menjadi salah satu bagian dari proses pemulihan warga terdampak gempa, khususnya anak-anak yang termasuk kelompok rentan. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
