Kemenkes Kaji Bedah Robotik Masuk BPJS, Siapkan 40 Robot Operasi
- account_circle Irwan Wahyudi
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

foto : kemkes.go.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMSELTERKINI.CO.ID – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat pengembangan layanan bedah robotik di Indonesia dengan menyiapkan pengadaan 40 unit robot operasi untuk rumah sakit pemerintah. Bahkan, pemerintah juga mengkaji kemungkinan memasukkan tindakan bedah robotik ke dalam skema pembiayaan BPJS Kesehatan agar layanan tersebut dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan percepatan pengembangan bedah robotik menjadi bagian dari transformasi teknologi kesehatan yang tengah dijalankan pemerintah. Menurutnya, teknologi robotik merupakan salah satu fokus utama Kemenkes, selain kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan bioteknologi.
Budi menilai pemanfaatan bedah robotik mampu meningkatkan mutu layanan kesehatan lantaran memberikan tingkat presisi yang lebih tinggi dibanding operasi konvensional.
Teknologi ini juga dinilai dapat mengurangi rasa nyeri, mempercepat proses pemulihan pasien, serta mempersingkat masa perawatan di rumah sakit.
“Robotik adalah tren global. Teknologi ini memberikan kualitas layanan yang lebih baik bagi pasien, operasi lebih presisi, nyeri lebih ringan, dan masa rawat lebih singkat. Tugas pemerintah adalah memastikan layanan ini semakin mudah diakses, berkualitas, dan biayanya semakin terjangkau,” ujar Budi di Jakarta, Senin (27/7).
Meski demikian, ia mengakui pemanfaatan bedah robotik di Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Vietnam sehingga kondisi ini menjadi alasan pemerintah guna mempercepat adopsi teknologi robotik melalui berbagai kebijakan nasional.
Untuk mendukung langkah tersebut, Kemenkes telah membentuk Komite Robotik yang bertugas menyusun arah pengembangan teknologi robotik di sektor kesehatan. Komite ini akan menyiapkan kebutuhan teknologi, standar pelayanan, hingga strategi agar layanan bedah robotik dapat diterapkan secara lebih luas dengan biaya yang lebih efisien.
Dari segi pembiayaan, pemerintah juga sedang mengevaluasi skema pembayaran melalui BPJS Kesehatan.
Kajian dilakukan agar tindakan bedah robotik berpeluang masuk ke dalam sistem pembiayaan nasional, sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat memanfaatkan layanan.
Selain memperluas penggunaan robotik, Kemenkes juga memperkuat layanan bedah minimal invasif melalui program pelatihan operasi laparoskopi bagi dokter bedah di 514 kabupaten dan kota.
Fondasi
Program ini menjadi fondasi untuk meningkatkan kompetensi tenaga medis sebelum pengembangan bedah robotik diterapkan secara lebih luas.
“Kita ingin semakin banyak dokter Indonesia memiliki kompetensi bedah minimal invasif dan robotik. Jangan sampai kemampuan ini hanya dimiliki kelompok tertentu atau hanya tersedia di kota-kota besar,” kata Budi.
Pengembangan teknologi robotik juga akan terintegrasi dengan pembangunan ekosistem AI kesehatan.
Saat ini pemerintah tengah mengembangkan basis data nasional yang mencakup data kependudukan, data klinis, dan data genomik. Nantinya, data tindakan bedah robotik juga akan dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan AI yang membantu dokter meningkatkan akurasi dalam pengambilan keputusan medis.
Menurut Budi, AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dokter, melainkan menjadi teknologi pendukung yang mampu mengolah jutaan data klinis sebagai referensi dalam proses diagnosis maupun tindakan medis.
Dalam proses pengadaan robot operasi, Kemenkes juga akan mewajibkan transfer teknologi, khususnya untuk produksi komponen habis pakai di dalam negeri. Langkah tersebut diharapkan mampu menekan biaya layanan bedah robotik sekaligus memperkuat industri alat kesehatan nasional.
Pemerintah juga berencana memperluas pusat pelatihan bedah robotik di berbagai wilayah Indonesia agar penguasaan teknologi tersebut tidak hanya terpusat di kota-kota besar.Tingkat global
Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Tatacipta Dirgantara menyatakan kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga medis, pemerintah, dan industri menjadi faktor penting dalam mendorong lahirnya inovasi alat kesehatan nasional yang mampu bersaing di tingkat global.
Sementara itu, Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk dr. Ivan Rizal Sini mengatakan Rumah Sakit Bunda Jakarta siap mendukung program pemerintah melalui pengembangan pusat pelatihan bedah robotik dan berbagi pengalaman kepada dokter dari berbagai daerah. Dukungan tersebut disampaikan bertepatan dengan pencapaian hampir 1.000 tindakan bedah robotik yang telah dilakukan rumah sakit tersebut.
Melalui penguatan teknologi, peningkatan kompetensi tenaga medis, pengembangan AI, serta kerja sama dengan perguruan tinggi dan industri, Kemenkes menargetkan Indonesia menjadi salah satu pusat pengembangan bedah robotik di kawasan sekaligus memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional. (***)
- Penulis: Irwan Wahyudi
