Kamis, 22 Okt 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » Jangan Malu, TBC Bukan Kutukan Tapi Bisa Sembuh

Jangan Malu, TBC Bukan Kutukan Tapi Bisa Sembuh

  • account_circle Irwan Wahyudi
  • calendar_month Minggu, 21 Sep 2025
  • visibility 1.071
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

ADA pepatah bilang “batuk tak berdahak bagai sayur tanpa garam”, maka batuk berkepanjangan justru lebih mirip “utang yang tak kunjung lunas”, bikin hidup sengsara dan akhirnya menguras tenaga. Itulah gambaran sederhana soal tuberkulosis alias TBC. Penyakit ini sering datang diam-diam, bikin badan kurus, nafsu makan hilang, tapi sayangnya banyak orang masih anggap remeh.

Di kampung, ada saja cerita lucu sekaligus miris, misalnya, ada orang batuk lama, tapi malah dikira “masuk angin yang salah urat”. Ada juga yang kurus mendadak, lalu tetangga nyeletuk “Wah, jangan-jangan kena pelet!”. Padahal kalau mau jujur, itu gejala klasik TBC yang sering disangka penyakit ringan. Inilah masalah kita, stigma dan salah kaprah soal kesehatan.

TBC masih jadi masalah besar di Indonesia, data Kementerian Kesehatan menyebut ada lebih dari 1 juta kasus setiap tahun, Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono bilang, sekitar 90 persen sudah berhasil diidentifikasi, tapi sisanya masih gelap, ibarat tikus di gudang padi, susah terlihat tapi jelas-jelas merugikan.

Sayangnya, banyak pasien TBC yang telat ketahuan karena merasa malu, batuk dianggap sepele, lalu diobati dengan jamu instan, ada pula yang takut ke Puskesmas karena khawatir dicap “penyakit menular yang menjijikkan”. Padahal, TBC itu bukan kutukan, bukan pula akibat kurang doa malam Jumat. TBC adalah penyakit menular yang bisa disembuhkan dengan obat rutin dan pemeriksaan tepat.

Pemerintah sekarang sedang tancap gas, ada program active case finding, yaitu mencari pasien aktif lewat pemeriksaan massal. Bahkan sudah ada inovasi rontgen keliling, ibarat bioskop gratis, tapi isinya bukan film horor, melainkan deteksi paru-paru. Kalau dulu orang malas periksa karena jauh dan mahal, sekarang rontgen bisa datang ke desa, gratis pula.

Di Jawa Tengah, program ini sudah jalan, ke depan, rencananya setiap kabupaten/kota akan punya alat rontgen yang bisa keliling ke kecamatan. Ini kabar baik, karena semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula bisa diobati. Pepatah bilang “lebih baik menangkap ayam sebelum masuk sawah, daripada harus mengejar saat sudah terbang ke pohon”. Begitu juga dengan TBC, lebih mudah mencegah sejak awal ketimbang mengobati ketika sudah parah.

Meski topiknya serius, bukan berarti kita tidak bisa bercanda, anggap saja TBC ini seperti mantan pacar toxic, kalau dibiarkan, dia akan menggerogoti hidup perlahan. Satu-satunya cara lepas adalah berani hadapi, konsultasi dengan ahli (dokter), lalu ikuti aturan sampai selesai.

Bahkan Prof. Dante bilang, banyak kasus TBC salah diduga maag, nah, kalau maag masih bisa diatasi dengan biskuit dan teh hangat, TBC butuh obat khusus selama berbulan-bulan. Jadi jangan keliru batuk lama bukan bahan stand up comedy, tapi sinyal tubuh yang perlu ditanggapi serius.

Kalau ditarik benang merah, ada tiga tantangan utama, antara lain deteksi dini, tanpa periksa gratis dan rontgen keliling, banyak kasus akan lolos dari radar. Kepatuhan berobat, minum obat TBC tidak bisa setengah jalan. Kalau berhenti di tengah, bakteri bisa kebal dan Stigma sosial, ini justru lebih berbahaya dari batuknya. Orang jadi malu periksa, akhirnya telat ditangani.

Artinya, program pemerintah harus jalan beriringan dengan edukasi publik. Tenaga medis bisa keliling, tapi kalau masyarakat masih percaya TBC itu penyakit kualat atau hasil santet, hasilnya ya mandek.

Di sini kita perlu ingat pepatah “malu bertanya sesat di jalan, malu periksa sesat di pengobatan”, jangan gengsi untuk periksa kesehatan. TBC bisa menyerang siapa saja kaya miskin, pejabat atau rakyat jelata. Bedanya, yang berani periksa lebih cepat sembuh, sementara yang malu-malu justru menanggung akibat lebih lama.

TBC bukanlah penyakit kutukan yang perlu disembunyikan, justru dengan terbuka, orang lain bisa ikut waspada dan terhindar dari penularan. Yang aib itu bukan sakitnya, tapi kalau sudah tahu sakit lalu cuek, enggan berobat, dan akhirnya menulari orang lain.

Pemerintah sudah memberi fasilitas, pemeriksaan gratis, rontgen keliling, hingga target ambisius menurunkan angka kematian. Tapi sebaik apapun program, kalau masyarakat masih dikepung stigma, hasilnya akan setengah hati. Karena itu, mari ubah cara pandang sakit bukan bahan gunjingan, melainkan alasan untuk saling peduli.

TBC bisa disembuhkan, asal kita tidak telat. Jangan malu, jangan takut. Kalau ada gejala, segera periksa, karena seperti kata pepatah Jawa “yen ora diobati, suket thukul, yen diobati, urip makmur”, kalau dibiarkan penyakit tumbuh, kalau ditangani hidup lebih sejahtera.

Jadi mulai sekarang, kalau ada tetangga batuk lama, jangan malah kasih komentar nyinyir, ajaklah ke Puskesmas, ingat, TBC bukan kutukan, tapi penyakit yang bisa sembuh.[***]

  • Penulis: Irwan Wahyudi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Percepat Terwujudnya  Sumsel Lumbung Pangan, Gubernur Resmikan Science Tehno Park

    Percepat Terwujudnya  Sumsel Lumbung Pangan, Gubernur Resmikan Science Tehno Park

    • calendar_month Sabtu, 27 Feb 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 996
    • 0Komentar

    BERBAGAI upaya  dilakukan Pemerintah Provinsi  Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai daerah lumbung pangan, selain menyiapkan teknologi, juga disediakan  wadah untuk mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dibidang pertanian, peternakan dan perikanan seperti halnya Sriwijaya Science Tehno Park (SSTP) yang dikelola  Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Sumsel yang beralamat di Desa Bakung Kabupaten Ogan Ilir. […]

  • Lupo Samo Anak Dewe

    Lupo Samo Anak Dewe

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2020
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 1.081
    • 0Komentar

          Komikus : Septian Mauludi Naskah   : One

  • Renovasi Rampung, Bank SumselBabel Kembali Layani Nasabah di Muara Enim, HNU : Gedung Bagus Harus Diimbangi Semangat & Motivasi Kerja, Bahkan yang Paling Penting Pelayanannya Dong!

    Renovasi Rampung, Bank SumselBabel Kembali Layani Nasabah di Muara Enim, HNU : Gedung Bagus Harus Diimbangi Semangat & Motivasi Kerja, Bahkan yang Paling Penting Pelayanannya Dong!

    • calendar_month Senin, 21 Jun 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 4.922
    • 0Komentar

    RENOVASI dan peningkatan fisik Gedung Bank Sumsel Babel [BSB] Kantor Cabang Kabupaten Muara Enim rampung dikerjakan.Dengan selesainya renovasi bank plat merah milik pemda di Sumsel –Babel ini diharapkan dapat melayani nasabah secara maksimal. Pj. Bupati Muara Enim, Dr. H. Nasrun Umar,dalam sambutannya mengucapkan selamat atas telah selesainya renovasi  Gedung BSB Kantor Cabang Muara Enim. Ia […]

  • Ampera Jadi Sajadah Panjang

    Ampera Jadi Sajadah Panjang

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 112
    • 0Komentar

    TAK  semua orang kebagian tempat di dalam masjid. Tapi pagi itu, tak ada yang merasa kekurangan ruang. Arus jemaah terus datang ke Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sejak subuh. Langkah mereka satu arah, membawa sajadah, mengajak keluarga, dan menyatu dalam tujuan yang sama menunaikan salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Namun, halaman masjid […]

  • Empat Kadis Nyatakan, Pangan Lokal Disediakan dan Cukup Kebutuhan Selama PON

    Empat Kadis Nyatakan, Pangan Lokal Disediakan dan Cukup Kebutuhan Selama PON

    • calendar_month Selasa, 28 Sep 2021
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 735
    • 0Komentar

    KETERSEDIAAN pangan lokal di Kabupaten Merauke, Papua untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama PON XX Papua tahun 2021 Klaster Merauke dinyatakan cukup. Demikian ini disampaikan empat Kepala Dinas yakni Dinas Ketahanan Pangan diwakilai oleh Kabid Penganekaragaman dan Keamanan Pangan Tarsisius Rimbayana, Kadis Pertanian, Ratna Lauce, Kadis Perikanan Florentinus Suhono, dan Kabid Kesehatan Hewan, drh. Retno dalam […]

  • Indahnya, Jika 1 Desa Miliki Hafidz dan Hafidzoh

    Indahnya, Jika 1 Desa Miliki Hafidz dan Hafidzoh

    • calendar_month Rabu, 1 Mei 2019
    • account_circle Irwan Wahyudi
    • visibility 925
    • 0Komentar

    “Indahnya jika semua Desa di Sumsel  memiliki seorang hafidz dan hafidzoh. Kita pertahankan orang-orang yang cinta Qur’an. Muratara memang hebat sukses jadi tuan rumah,” KHAYALAN Gubernur Sumsel itu sangat positif, dan bisa masuk di akal, jika memang dari 3.500 desa di Sumsel itu punya satu saja penghafal Al – Quran [Hafidz dan Hafidzoh]. Saat ini jumlah […]

expand_less
WordPress Archive Consession – Conference & Seminar Elementor Template Kit Conset – Business Consulting Elementor Template Kit Consilt – Business & Consulting Elementor Template Kit Constitute WP – WooCommerce Responsive Elementor Theme Constkit – Construction and Industrial Elementor Template Constructa – Building & Construction Elementor Template Kit Construction – Building & Renovation WordPress Theme Constructo – Construction WordPress Theme Constructoor – Construction & Building Elementor Template Kit Constructor | Construction WordPress